Di dunia internet yang serba cepat, kesimpulan sering kali diambil sebelum sebuah cerita selesai dibaca. Tidak jarang juga sebuah teks dinilai hanya berdasarkan cerita orang lain, bukan dari isi yang sebenarnya. Dalam forum diskusi Majelis Rasulullah SAW, Doa Kumail, salah satu doa paling terkenal dalam tradisi ahlulbait, dituduh berisi cacian terhadap sahabat nabi.
Tuduhan tersebut mengundang pertanyaan yang lebih luas: sudahkah mereka yang menuduh benar-benar membaca isi Doa Kumail? Karena jika tuduhan sekecil itu saja mereka keliru, bagaimana dengan tuduhan lain yang lebih besar?
Karena jika kita memperhatikan bait doa tersebut, kita tidak akan menemukan makian melainkan tangisan hamba yang mengakui kelemahan dirinya di hadapan Allah Swt.
Bahasa pengakuan
Dalam banyak hadis yang diterima oleh ahlusunah maupun Syiah, doa disebut sebagai inti ibadah. Salah satu ciri utama dari doa yang diwariskan oleh keluarga nabi ialah keberanian untuk mengakui kesalahan. Sebab secara spiritual, akar dari banyaknya dosa yang kita lakukan bukan berasal dari luar melainkan hawa nafsu dalam diri kita.
Keberanian untuk mengaku (confess) juga dapat kita temukan dalam Doa Abu Hamzah Ats-Tsumali. Di sana kita temukan bagaimana seorang hamba mengakui bahwa luasnya rahmat Allah sering kali membuatnya lalai dan berani berbuat dosa. Pengakuan tersebut bukan keputusasaan, melainkan langkah menuju pertobatan.
| Sikap lembut-Mu padaku telah membuatku berani melakukan maksiat. | ويحملني ويجرئني على معصيتك |
| Tirai-Mu atas dosaku membawaku memiliki sedikit rasa malu. | حلمك عني ويدعوني الى قلة الحياء سترك علي |
| Pengetahuanku akan luasnya rahmat-Mu serta besarnya ampunan-Mu… | ويسرعني الى التوثب على محارمك |
| Mempercepat diriku untuk melanggar banyak larangan-Mu. | معرفتي بسعة رحمتك وعظيم عفوك |
Dialog dengan Allah
Keistimewaan lain dari doa ahlulbait adalah penggunaan bahasa yang sangat personal dan argumentatif. Seorang hamba tidak sekadar meminta maaf dan ampunan, tetapi juga berdialog dengan Tuhannya dengan penuh adab dan harapan. Salah satu bentuk “argumentasi” dalam Doa Kumail yaitu:
| Apakah Engkau akan melemparkan ke neraka wajah-wajah yang bersujud atas keagungan-Mu…? | اَتُسَلِّطُ النَّار على وُجُوه خَرَّتْ لِعظمتِكَ سَاجِدَة |
| Sungguh bukan demikian sangkaan kami tentang-Mu, sementara kami tahu akan keutamaan-Mu. | مَا هَكذا الظُّنُّ بِكَ وَلاُخبَرْنا بِفَضْلِكَ عَنْكَ |
Dalam Doa Kumail juga terdapat bagian yang menyentuh: “Ya Allah, seandainya aku mampu bersabar atas siksa-Mu, bagaimana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu?”
Kalimat ini menunjukkan bahwa penderitaan terbesar bagi seorang pecinta Tuhan bukanlah api neraka, melainkan terhalangnya dirinya dari kedekatan dengan Allah. Di sini, cinta kepada Allah ditempatkan lebih tinggi daripada rasa takut terhadap hukuman.
Sejarah Doa Kumail
Nama Doa Kumail berasal dari Kumail bin Ziyad, salah seorang sahabat Imam Ali bin Abi Thalib. Ketika sedang berkumpul bersama sahabatnya, Imam Ali ditanya tentang tafsir ayat: “Pada malam itu dijelaskan segala yang penuh hikmah (QS. Ad-Dukhân : 4). Imam Ali menjawab, “Ayat ini turun mengenai Nisfu Syakban. Orang harus memohon kepada Allah pada malam itu. Ia harus membaca Doa Khidir.”
Diskusi itu berakhir dan Imam kembali ke rumah. Karena ingin mempelajari doa tersebut, Kumail mendatangi rumah Imam Ali pada malam hari untuk meminta diajarkan Doa Khidir. Imam kemudian mengajarinya dan menganjurkan untuk dibaca setiap malam Jumat.
Melampaui prasangka
Membaca sebuah teks keagamaan melalui kacamata prasangka sering kali membuat kita kehilangan makna yang sesungguhnya. Doa Kumail adalah contoh bagaimana sebuah karya spiritual dapat disalahpahami ketika orang lebih percaya pada rumor daripada isi aslinya.
Padahal, ketika dibaca secara utuh, doa ini menghadirkan pelajaran tentang cinta kepada Allah, pengakuan atas dosa, harapan terhadap ampunan-Nya, dan kerinduan untuk selalu dekat dengan-Nya.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh perdebatan, mungkin yang lebih kita butuhkan bukanlah tambahan prasangka, melainkan keberanian untuk membaca, memahami, dan merenungkan dengan hati yang terbuka.










Tinggalkan Balasan