Apakah mungkin seseorang yang kerap berbuat baik kepada orang lain, justru jahat kepada diri sendiri? Saya mengenal seseorang yang kebaikannya diakui banyak orang. Dia sering kali mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Orang melihatnya seperti malaikat dengan hati yang tulus. Saya pun.
Namun, di balik semua itu, ternyata dia merasakan ketidaknyamanan. Sikapnya yang terlalu permisif membuatnya kurang menghargai dirinya sendiri. Ketika dia mengatakan merasa disrespectful kepada diri sendiri, saya bertanya pada diri sendiri: sejak kapan sebuah kebaikan berubah menjadi beban?
Beragam bentuk īṡār
Islam memiliki istilah sendiri untuk kebaikan yang sangat tinggi dalam akhlak Islam: īṡār, sebuah sikap mendahulukan orang lain atas diri sendiri. Contoh perilaku īṡār bisa kita temukan dalam sebab turunnya surah Al-Insan ayat 8 menurut riwayat ahlulbait.
Suatu hari, Imam ‘Alī bin Abī Ṭālib dan keluarganya bernazar dengan berpuasa selama tiga hari. Namun setiap kali akan berbuka puasa, selama tiga hari berturut-turut rumahnya didatangi orang miskin, anak yatim, dan tawanan.
Keluarga nabi tentunya mengutamakan memberi makan kepada ketiga kelompok orang tersebut dibandingkan kebutuhan berbuka puasa. Pada ayat selanjutnya, mereka berkata, “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya demi rida Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kalian.”
Contoh lain ialah ketika kaum Ansar di Madinah menerima orang-orang yang berhijrah atau Muhajirin. Surah Al-Hasyar menyebut, ketika berbuat baik, di dalam hati kaum Ansar tidak ada keinginan apapun. Mereka hanya mengutamakan Muhajirin daripada diri mereka sendiri, meskipun orang Ansar punya keperluan mendesak.
Wajah īṡār sesungguhnya
Bentuk īṡār memang bisa beragam. Ia bisa berupa memberi makan, waktu, harta, bahkan jiwa.
Namun semua dilakukan bukan karena tidak enak hati atau kasihan, īṡār lahir dari kebebasan. Seseorang sanggup untuk berkata “ya” atau “tidak”, namun memilih untuk mengucapkan sebaliknya. Memberi sesuatu karena rela atau takut orang lain kecewa, memang sama di mata orang lain. Tapi punya suasana batin yang berbeda.
Jika benar lahir dari kesadaran dan kerelaan, pemberi tidak mengharap balasan apapun bahkan sekadar ucapan terima kasih. Karenanya, setelah melakukan perbuatan īṡār yang tersisa di hati adalah lapang dada, bukan sesal atau dendam.
Kalau setiap kali melakukan pengorbanan untuk orang lain, diikuti dengan rasa kesal atau menyesal, kita perlu bertanya apakah itu benar-benar īṡār atau ketidakmampuan menetapkan batas. Sebab bukanlah īṡār jika dilakukan karena menyembunyikan sikap people pleasing. Karena jika kita sulit untuk berkata “ya” atau “tidak”, yang hilang bukan ego tapi kemampuan untuk mempertimbangkan diri sendiri.
Batasan yang dijaga
Salmān pernah menegur Abū Dardā’ yang terlalu larut beribadah hingga melupakan keluarga dan dirinya sendiri: “Tuhanmu punya hak atasmu. Dirimu punya hak atasmu dan keluargamu punya hak atasmu. Penuhilah masing-masing hak tersebut.”
Bukan hanya Tuhan dan orang lain, tapi diri kita sendiri juga punya hak. Karena kita juga perlu menjaga hak kita, maka tidak setiap pengorbanan untuk orang lain menjadi sikap terpuji. Dalam surah Al-Isra ayat 29 disebutkan jika kita terlalu boros mengulurkan tangan untuk orang lain maka dapat memunculkan sikap merugi dan menyesal.
Memang kita perlu belajar dan melatih untuk memiliki sikap yang seimbang dalam memenuhi hak diri sendiri tanpa berhenti menghargai orang lain. Sebelum memutuskan sesuatu, kita bertanya pada diri sendiri: apakah benar-benar rela dan ada hak diri sendiri yang terlanggar?
Sebab ternyata, yang perlu dikasihani bukan hanya orang lain, tapi juga diri sendiri. Para psikolog menyebutnya sebagai self-compassion. Mungkin, kita tidak perlu menjadi orang yang kurang baik atau kejam. Kita hanya perlu memastikan bahwa saat melangkah maju untuk membantu orang lain, kita tidak sampai meninggalkan diri sendiri di belakang.










Tinggalkan Balasan