Bukan Syiah-Sunnī, Ini Melawan Hegemoni

Ada rangkaian peristiwa penting yang terjadi pada awal tahun 2020. Peristiwa ini terjadi sebelum Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi dunia. Kejadiannya bisa dibilang sederhana namun cukup untuk mengubah wajah dan cara kita melihat Timur Tengah. Sederhana karena seorang tentara berpidato di hadapan sembilan bendera yang bahkan tidak berkibar.

Pada 9 Januari 2020, Jenderal Syahid Amir Ali Hajizadeh berbicara di depan tiga bendera resmi mewakili Iran dan militernya. Enam bendera lainnya yang membuat dunia terkejut. Mungkin ini pertama kalinya seorang pejabat militer Iran berdiri secara terbuka di hadapan bendera kelompok yang selama ini dianggap proksi.

Saat itu, dunia tahu ini bukan konferensi pers biasa. Pidato itu merupakan respons atas pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani tiga hari sebelumnya—dibunuh di Baghdad oleh drone Amerika Serikat atas perintah Trump.

Soleimani bukan sekadar jenderal. Dia adalah arsitek utama seluruh jaringan perlawanan bersenjata Iran di Timur Tengah selama lebih dari dua dekade. Bendera itu tidak berkibar namun seolah berbicara: kelompok ini tetap eksis dan terorganisir. Mari kita berkenalan singkat dengan keenam kelompok tersebut:

Hizbullah (Lebanon) didirikan tahun 1982 di tengah kekacauan perang saudara dan invasi Zionis Israel. Tujuannya satu: melawan pendudukan Israel di selatan Lebanon. Dengan dukungan Iran, kelompok ini berkembang menjadi kekuatan militer dan politik paling dominan di negara tersebut.

Ansarullah (Yaman) berdiri sekitar awal 2000-an di Provinsi Sa’dah. Tujuan awalnya adalah melawan marginalisasi komunitas Syiah Zaidiah dan  korupsi yang dilakukan pemerintah. Konflik yang semula domestik akhirnya menarik Iran masuk dalam pusaran untuk mengimbangi intervensi asing melawan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.

Pasukan Mobilisasi Populer (Irak) atau Al-Ḥasyd asy-Sya’bī dibentuk secara masif pada 2014 untuk melawan ISIS yang sempat menguasai kota Mosul. Kelompok ini merupakan payung bagi berbagai milisi, sebagian di antaranya memiliki hubungan dekat dengan Iran. Salah satu tokoh pentingnya, Abū Mahdī al-Muhandis, syahid bersama Soleimani dalam serangan yang sama.

Hamas (Palestina) singkatan dari Ḥarakat al-Muqāwamah al-Islāmiah didirikan pada 1987 di Gaza. Gerakan ini lahir dari Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi sunnī. Hamas menjadi anomali menarik dalam jaringan Iran karena bukan Syiah. Namun Iran mendukungnya karena memiliki musuh bersama: Israel dan hegemoni AS.

Fāṭimīyūn (Afghanistan) atau Liwa Fatemiyoun merupakan divisi yang terdiri dari warga Afghanistan. Dibentuk sekitar 2013–2014 untuk dikirim ke Suriah demi melindungi makam Sayidah Zainab binti ‘Alī dan melawan kelompok teroris takfiri yang didukung Zionis untuk menumbangkan Basyār Al-Assad.

Zainabīyūn (Pakistan) atau Liwa Zainabiyoun awalnya merupakan bagian brigade Fatemiyoun namun dipisahkan dengan anggota warga Pakistan. Tujuannya sama: menjaga makam suci Syiah dan kepentingan Iran di Suriah.

Qasem Soleimani bukan sekadar jenderal atau komandan. Dia adalah founding father beberapa kelompok tersebut. Bahkan koordinator yang menghubungkan kelompok lintas negara dalam satu strategi regional.

Salah satu kesalahpahaman yang terjadi adalah tuduhan bahwa jaringan ini dibentuk sebagai bagian dari proyek penyebaran Islam Syiah di Timur Tengah. Namun kehadiran Hamas membantah narasi tersebut. Soleimani terlibat langsung untuk memperkuat Hamas melalui strategi terowongan di Gaza. Karena itu, proksi Iran lebih tepat disebut sebagai front perlawanan geopolitik, bukan teologis.

Menurut pengamat, strategi Iran berfokus pada asymmetric warfare—mengimbangi kekuatan besar tanpa konfrontasi langsung. Iran hidup dalam kepungan selama bertahun-tahun. Pangkalan militer AS tersebar di Qatar, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Yordania, hingga Arab Saudi.

Dalam logika pertahanan strategis, Iran tidak bisa menandingi AS secara konvensional. Iran tidak punya 800 pangkalan militer di seluruh dunia seperti AS. Kehadiran proksi merupakan alat untuk menciptakan deterrence tanpa harus terlibat perang terbuka.

Bendera jaringan tersebut akhirnya sengaja ditampilkan untuk menunjukkan: jaringan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak runtuh bersama satu sosok Soleimani. Kita, setuju atau tidak dengan strategi tersebut, tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect