Saya mau ceritakan kisah menarik dari buku Dastanha-yi az Pusyesy wa Hijab. Suatu hari, seorang ulama membuka pintu rumahnya setelah mendengar ketukan pelan. Di hadapannya berdiri seorang perempuan muda dengan pakaian terbuka dan riasan mencolok. Sekilas, sang ulama ingin menutup pintu dan mengakhiri pertemuan itu secepat mungkin.

Namun hatinya menahan langkahnya. Ulama itu berpikir, mungkin perempuan ini tidak tahu kalau tidak sopan datang ke rumah ulama tanpa mengenakan jilbab. “Aku bisa menasihatinya,” gumamnya.

Dengan kepala tertunduk, ia mempersilakan tamunya masuk.

Perempuan itu ternyata datang untuk menanyakan persoalan hukum waris. Akan tetapi sebelum menjawab, sang ulama berkata, “Nyonya, aku juga ingin mengajukan pertanyaan kepada Anda. Apabila Anda bersedia menjawabnya, aku juga akan menjawab semua pertanyaan Anda.”

Ulama itu bercerita tentang seseorang yang sedang menikmati hidangan lezat, sementara di depannya ada orang kelaparan yang memohon sedikit makanan. Namun orang itu menolak berbagi dan membiarkan si lapar menatap penuh harap.

“Bagaimana menurut Anda perilaku orang itu?” tanya sang ulama. “Dia tidak punya belas kasih,” jawab perempuan itu cepat. “Bahkan lebih kejam daripada Syimr.” Syimr adalah algojo di Karbala, nama yang menjadi simbol keburukan hati di tradisi Islam.

Ulama itu lalu berkata pelan, “Ada dua jenis lapar. Lapar itu bukan hanya lapar perut. Tapi ada pula lapar syahwat.”

Ulama itu melanjutkan kisahnya tentang seorang pemuda yang terusik oleh penampilan seorang perempuan yang sengaja memamerkan kecantikannya di hadapan banyak orang. Ketika pemuda itu mendekat dan berharap mendapatkan perhatian, perempuan itu justru menolaknya sambil berkata bahwa dirinya perempuan baik-baik. Pemuda itu kembali pemuda memohon, tapi perempuan itu tetap tidak perduli.

“Menurut Anda,” tanya sang ulama, “manusia seperti apa perempuan itu?”

Perempuan tersebut terdiam. Wajahnya berubah. Tanpa banyak bicara, dia berdiri lalu pergi meninggalkan rumah itu.

Keesokan harinya, seorang pria berseragam tentara datang menemui sang ulama. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, “Saya suami perempuan yang kemarin datang ke sini. Bertahun-tahun saya memintanya mengenakan hijab, tetapi ia tidak pernah mau mendengar. Namun kemarin sepulang dari sini, ia meminta dibelikan pakaian muslimah. Apa yang sebenarnya Anda katakan kepadanya?”

Sang ulama hanya tersenyum kecil. Ia sadar, terkadang hati manusia tidak berubah karena paksaan, melainkan karena disentuh dengan cara yang tepat.

Cerita di atas sepertinya bukan sekadar soal hijab. Ia berbicara tentang kehormatan, empati, dan cara manusia memandang dirinya sendiri. Dalam banyak masyarakat modern, tubuh perempuan sering dijadikan komoditas visual. Standar kecantikan dibentuk oleh industri hiburan dan media sosial. Akibatnya, tidak sedikit perempuan merasa dihargai hanya ketika mampu menarik perhatian mata manusia lain.

Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa objektifikasi tubuh berdampak serius terhadap kesehatan mental perempuan. Ada publikasi yang diterbitkan American Psychological Association menyebut jika budaya objektifikasi dapat memicu kecemasan, depresi, hingga rendah diri.

Di dunia Islam sendiri, para ulama sunnī maupun Syiah sama-sama memandang hijab sebagai bagian dari etika kesopanan dalam Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan di berbagai kitab klasik, Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya rasa malu sebagai cabang dari iman.

اَلْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ

Rasa malu adalah bagian dari iman.

Namun ada pelajaran yang lebih besar dari kisah tersebut: manusia tidak berubah karena dihina. Mereka berubah ketika dihargai. Ulama itu tidak membentak, tidak mempermalukan, dan tidak mengusir. Ia memilih berdialog dengan cara yang menyentuh.

Sebagaimana Al-Qur’an memerintahkan: “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” Bukan dengan ceramah panjang lebar. Tanpa mempermalukan apalagi dengan kekerasan dan pemaksaan.

Mungkin di situlah letak dakwah yang paling sulit sekaligus paling indah: bukan memenangkan perdebatan, melainkan memenangkan hati manusia.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect