Memasuki bulan Muharam, saya mengajukan pertanyaan sederhana kepada beberapa teman, “Kapan Nabi Muḥammad hijrah dari Makkah ke Madinah?” Jawabannya beragam. Ada yang terdiam karena ragu. Ada pula yang dengan yakin menjawab, “Bulan Muharam!” Ah, ternyata masih ada yang kesulitan membedakan hijriah dan hijrah.

Dalam sejarah Islam, peristiwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiulawal, bukan Muharam. Rabiulawal sejatinya memang bulannya Nabi ﷺ: kelahiran beliau, hijrah beliau, hingga wafat beliau menurut sebagian riwayat.

Lalu mengapa kalender Islam justru dimulai dari Muharam? Ada beberapa teori yang dipaksa untuk menjelaskan alasannya. Namun tanpa perlu teori tersebut, bulan Muharam sudah memberikan momen perenungan yang mendalam.

Namun sayangnya, sebagian besar dari kita lebih memilih menganggapnya sebagai pergantian tahun saja. Padahal, bulan ini menyimpan luka sejarah yang masih terasa perih hingga hari ini.

Dua wajah Muharam

Ketika tahun baru Hijriah tiba, suasana di berbagai negeri muslim sering kali semarak. Ada pawai, pengajian, festival budaya, hingga tradisi mengenakan pakaian baru. Muharam dipandang sebagai momentum harapan dan awal yang baru.

Namun ada kelompok muslim yang menyambut bulan yang sama dengan suasana berbeda. Mereka mengenakan pakaian hitam. Tidak ada pesta. Tidak ada perayaan. Tidak ada tawa. Hanya ada majelis doa, pembacaan sejarah, dan ungkapan duka.

Perbedaan cara menyambut Muharam ini bukanlah kebetulan. Ini adalah cerminan dari bagaimana umat Islam memahami—atau tidak memahami—sejarah paling tragis dalam perjalanan keluarga Nabi saw.

Sejarah yang terlupakan

Sebagian besar umat Islam mungkin tidak menyadari peristiwa penting yang terjadi di bulan Muharam. Jika mereka tahu, peristiwa itu hanya dianggap sebagai catatan sejarah yang telah berlalu lebih dari 13 abad lalu. Saya bahkan punya teman dari pesantren yang tahu peristiwa penyerangan terhadap rumah putri Nabi, Fāṭimah. Peristiwa yang jauh lebih asing bagi telinga umat Islam.

Meski tahu, mereka tidak berani mempertanyakan, padahal sejarah selalu menyisakan pertanyaan. Jawabannya sangat mungkin relevan dengan kehidupan spiritual kita hari ini.

Apakah tidak terpikirkan oleh mereka untuk bertanya dalam pikiran dan hati mereka: mengapa rumah Fāṭimah putri Nabi diserang sampai-sampai lokasi makam beliau tidak diketahui secara pasti? Mengapa beberapa sahabat Nabi tidak turut serta mengurus jenazah Nabi? Mengapa Sayidina ‘Alī beserta Bani Hasyim sempat menolak tunduk pada khalifah?

Terakhir, yang paling menggugah hati, mengapa cucu kesayangan Nabi, Sayidina Ḥusain, yang pernah dipeluk dan dicium Rasulullah, justru dibunuh secara tragis dan keluarganya dipermalukan?

Semua pertanyaan tentang keluarga nabi tidak selalu mudah dijawab. Tetapi mengabaikannya juga bukan pilihan yang bijak.

Cinta kepada ahlulbait

Jika kita membahas tentang keluarga nabi, banyak orang langsung mengidentikannya dengan Syiah. Mereka mengatakan bahwa Syiah hanya berkedok ahlulbait semata. Memang, ada kebenaran parsial dalam tuduhan ini. Sebab sejarah mencatat bahwa Syiah telah menjadi penjaga spirit dan warisan perjuangan ahlulbait, khususnya di Karbala, dengan sangat serius selama berabad-abad.

Namun sesungguhnya kecintaan kepada ahlulbait adalah bagian dari warisan seluruh umat Islam, bukan milik Syiah. Al-Qur’an bahkan memberikan perhatian khusus kepada keluarga Rasulullah. Demikian pula hadis-hadis yang diriwayatkan dalam literatur ahlusunah maupun Syiah.

Artinya, mencintai dan menghormati keluarga Nabi bukanlah identitas suatu mazhab tertentu, melainkan bagian dari kecintaan kepada Rasulullah sendiri.

Karbala untuk semua

Membicarakan Karbala berarti memberikan perhatian kepada kekasih Rasulullah. Pengaruh moral dari tragedi tersebut jauh melampaui batas mazhab bahkan agama.

Di berbagai negara, kisah Imam Husain dipelajari sebagai simbol perjuangan melawan tirani dan ketidakadilan. Nilai-nilai yang diperjuangkan di Karbala—keberanian, pengorbanan, dan integritas—mampu berbicara kepada siapa pun yang mencintai kebenaran.

Hal ini terlihat dari ketertarikan banyak cendekiawan non-muslim terhadap sosok Imam Husain. Salah satu yang terkenal adalah Antoine Bara, seorang penulis Kristen asal Suriah yang menulis buku Al-Husain fi Al-Fikr Al-Masihi (Husain dalam Pemikiran Kristen). Ironinya adalah bahwa Bara, seorang Kristiani yang menunjukkan rasa hormat mendalam terhadap ahlulbait, justru dituduh sebagai pengikut Syiah!

Namun melalui karyanya, dia telah berusaha menunjukkan bahwa pengorbanan Imam Husain memiliki pesan universal yang dapat dipahami oleh umat manusia dari berbagai latar belakang.

Pelajaran abadi

Muharam pada akhirnya bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Islam. Ia adalah undangan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang diperjuangkan keluarga Nabi.

Di tengah dunia yang dipenuhi ketamakan akan kekuasaan, Karbala mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak yang berkuasa. Kadang-kadang kebenaran justru berdiri bersama kelompok kecil yang memilih mempertahankan prinsip meskipun harus membayar harga yang sangat mahal.

Mungkin karena itulah nama Imam Husain tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan sejarah.

Karbala bukan hanya milik Syiah. Bukan pula milik sunnī. Karbala adalah warisan moral umat Islam, bahkan warisan kemanusiaan. Sebuah kisah yang terus hidup karena setiap generasi selalu menemukan dirinya sendiri di dalamnya.

Setiap kali Muharam datang kembali, pertanyaan yang sama seolah bergema dari masa lalu: jika kita hidup pada hari itu, di pihak manakah kita akan berdiri?


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

2 responses to “Wahai Umat Islam, Inilah Bulan Muharam yang Sesungguhnya!”

  1. Avatar syed salleh alatas
    syed salleh alatas

    Slm, baik bangat. teruskan.

    klang, selangor.msia

  2. Avatar dir88gun

    Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,

    Akhirnya tahun baru telah tiba…
    Tahun penentuan, apakah kita akan tetap jatuh terpuruk semakin jauh ke dalam kubangan kehinaan,
    Ataukah kita akan bangkit berhijrah menuju ke arah datangnya cahaya kemenangan di depan.

    —————————————————–
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari islah

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca