S: Ada keragaman metode dan cara yang dilakukan oleh beberapa teman ustaz atau mubalig dalam mengenalkan mazhab Ahlulbait kepada masyarakat Indonesia. Ada yang masuk dari pintu sejarah, maka melakukan kajian historis yang meniscayakan adanya pembahasan tentang sahabat dan para khalifah serta kesalahan-kesalahan mereka. Sebagian lain melakukan kajian masalah-masalah yang berhubungan dengan fikih yang diperselisihkan, seperti salat tarawih, mut’ah dan sebagainya. Sekelompok yang lain menggunakan pendekatan doa dan kadangkala masuk dari kanal politik. Sebagai seorang yang berpengalaman dalam hal ini, manakah di antara metode-metode tersebut yang Anda rekomendasikan kepada kami?
T : Secara pribadi saya tidak setuju adanya upaya untuk mengubah mazhab seseorang dan demografi mazhab. Saya meyakini, hendaknya kita tidak mengambil kesempatan kelengahan orang lain. Namun, pada saat yang sama saya meyakini, bahwa hal itu bukan berarti menutup pintu pembahasan dan dialog. Memang benar telah terjadi perselisihan dan perbedaan pandangan antara sunah dan Syiah dalam masalah-masalah teologi, historis, dan fikih. Akhir-akhir ini juga dalam masalah politik.
Ketika kita berupaya untuk melakukan pendekatan, artinya kita membuka pintu lebar-lebar agar para ulama yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing duduk bersama untuk melakukan pembahasan. Di bidang sejarah misalnya, apakah masalah A itu pernah terjadi atau tidak? Apakah sahabat semuanya adil? Apakah Ahlulbait semuanya maksum, semua itu sebagai pembahasan sejarah haruslah diserahkan kepada ahlinya.
Di dalam masalah akidah juga demikian para ulama membahas apakah sifat Allah itu menyatu dengan zat-Nya ataukah tidak? Apakah dalil tentang kemaksuman Nabi—baik rasional atau tekstual—mencakup adanya keterpeliharaannya dari kesalahan, dosa dan lupa ataukah hanya keterpeliharaan dari dosa dan maksiat saja? Begitu pula di bidang fikih, apakah mut’ah itu halal dan kemudian diharamkan (kembali) oleh Rasul atau tidak? Apakah Nabi melakukan salat Tarawih ataukah tidak? Siapa yang memulainya? Khalifah Umar atau lainnya? Apakah sunah (ajaran yang dicontohkan) oleh para khalifah adalah seperti sunah Rasul yang harus diikuti? Semua itu harus diserahkan kepada yang memiliki keahlian di bidangnya, karena merekalah yang lebih berkompeten dan memiliki sarana untuk membahas hal itu. Apakah riwayatnya sahih atau tidak? Apakah konteks hadis tersebut bisa dipahami (hujjah) demikian atau tidak? Bagaimana menyelesaikan perselisihan dan pertentangan dua hadis yang berbeda?
Jika mereka dapat menghasilkan kesepakatan paham, alhamdulillah. Jika tidak, maka hendaknya masing-masing saling menghormati. Sangat tidak layak secara akademis jika seorang awam, pedagang yang sehari-hari di pasar membahas hal itu dengan sesama pedagangnya atau dengan sopir taksi misalnya. Itu adalah masalah-masalah yang para ulama telah berselisih pendapat sejak 1200 tahun yang lalu. Yang ingin saya tekankan di sini—seperti yang saya sampaikan dalam pertemuan di Universitas Az-Zahra dan Konferensi ICIS II—adalah bahwa Islam sangat menekankan pada kekuatan logika. Karena itu, semua pembahasan itu haruslah di bawah naungan logika tersebut dan jika terdapat yang keluar dari jalur logika maka ia telah keluar dari garis Islam.
Saya sebagai seorang ahli fikih, misalnya, jika melakukan berbagai upaya untuk “menipu” dan menarik simpati seorang awam yang tidak banyak tahu tentang masalah fikih kemudian menariknya ikut dan bergabung dengan mazhab yang saya yakini, maka saya telah melanggar kode etik logis. Begitu juga seorang ahli sejarah yang membahas masalah sejarah yang diyakininya di depan seorang awam.
Metode logis adalah ketika keduanya duduk sesama ahlinya dan selevel secara akademis kemudian masuk dalam pembahasan dengan hati terbuka dan tujuan yang baik dan saling menghormati seperti yang terkandung dalam ayat di atas. Selain itu hendaknya tidak memperkeruh atmosfer dengan hal-hal lain.
Di zaman Nabi beliau dituduh dengan tuduhan gila, tukang sihir, dan tuduhan-tuduhan lain. Tentu dalam kondisi seperti itu Nabi tidak mungkin untuk membantahnya dengan mengatakan, “Saya tidak gila dengan argumentasi berikut; satu, dua, tiga, …” Atmosfernya adalah atmosfer tuduhan bukan pembahasan. Karenanya tidak ada jalan lain kecuali menghilangkan kondisi yang demikian dan menggantikannya dengan atmosfer baru yang kondusif untuk pembahasan ilmiah dan logis.
Allah memerintahkan Nabi saw. untuk menyeru mereka dengan firman-Nya, “Qul innamâ a’idhukum bi wahîdah an taqumu lillâhi matsnan wa furada tsumma tatafakkaru ma bishahibikum min jinnah.” Artinya, “Marilah kita jadikan Allah sebagai saksi kita dan kita duduk sendiri-sendiri atau berdua-berdua, baru kemudian setelah itu kalian mengolah pikiran kalian bahwa sahabat kalian ini tidaklah gila,” namun seorang yang berakal sehat, tulus, jujur. Ini yang pertama. Yang kedua apa yang disampaikan oleh Nabi itu adalah sebuah perkataan yang penuh hikmah dan logis. Bagaimana mungkin yang demikian disampaikan oleh seorang gila?
Kesimpulannya haruslah diciptakan atmosfer pembahasan yang kondusif dan kekuatan logikalah yang menjadi lokomotifnya. Bahkan bukan hanya sesama Muslim atau Ahlulkitab, namun dengan seluruh manusia apa pun agama dan mazhabnya. Dan hal itu berlaku juga dalam pembahasan di bidang-bidang lain. Sangat tidak mungkin seorang pakar fisika melakukan diskusi dengan seorang pelajar yang baru duduk di bangku kelas satu SD.
S: Namun di saat pembahasan kadang-kadang seorang mubalig atau ustaz mendapatkan tantangan untuk masuk ke dalam masalah-masalah sejarah yang konsekuensinya harus membongkar file-file tentang sahabat. Apakah kita harus melayaninya atau meninggalkannya?
T: Menurut hemat kami seorang juru dakwah haruslah menghindari masalah-masalah yang menimbulkan sensitivitas di kalangan Muslimin, khususnya dalam masalah-masalah yang tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita saat ini. Perhatikan seberapa besar urgensi membahas siapa yang berhak untuk menjadi pemimpin setelah wafatnya Rasulullah, apakah Abu Bakar atau Ali? Apa manfaat jawaban dan hasil dari pembahasan itu bagi kehidupan kita saat ini? Almarhum Ayatullah Uzma Sayid Burujurdi pernah berkata, “Daripada kaum muslimin membahas siapa yang lebih berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah dan menimbulkan perselisihan berkepanjangan tanpa akhir, sebaiknya mereka membahas siapa yang lebih berhak untuk menjadi rujukan umat dalam hal keilmuan setelah Rasulullah.”
Hal itu hampir menjadi kesepakatan ulama dan umat Islam. Bukankah semua Muslim dari mazhab apa pun dia, selalu menyebut Ali dengan sebutan imam? Para khalifah pun mengakui keluasan dan kedalaman ilmu Imam Ali. Mereka menyelesaikan problem yang dihadapi dengan meminta tolong kepada Imam Ali. Ilmu-ilmu Imam Ali dan Ahlulbait yang lain juga membuktikan hal itu. Begitu pula hadis-hadis Nabi tentang mereka, seperti ‘Ali ma’al haq wal haqqu ma’a ‘Ali (Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali), Inni târikum fikumuts tsaqalain kitâbullâh wa ‘ithratî ahlu baitî (Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berat: Kitabullah dan keluargaku, Ahlulbaitku) dan lain-lain. Semua itu menunjukkan bahwa merekalah poros keilmuan. Kita sisihkan saja pembahasan bahwa mereka merupakan poros dan rujukan masalah-masalah politik dan kepemimpinan setelah Rasul. Alasannya, selain hal itu tidak berhubungan langsung dengan kehidupan kita saat ini juga rentan menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin.
Poin penting lain yang perlu dilakukan oleh para juru dakwah dalam memperkenalkan mazhab Ahlulbait adalah dengan menyampaikan hadis, keindahan sabda-sabda penuh hikmah mereka, yang mereka sendiri menyebutnya dengan “mahasina kalâminâ (ucapan-ucapan indah kami).”
S: Apakah yang Anda sampaikan tadi meniscayakan kita menutup semua pembahasan sejarah, seperti kasus “pembakaran rumah”, perampasan tanah Fadak dan sejenisnya?
T: Menurut hemat saya, harus dibedakan antara ceramah umum dan pembahasan ilmiah. Hal itu tidak layak dan bahkan tidak boleh untuk disampaikan pada forum pertama namun bisa saja menjadi pembahasan ilmiah antara ahli sejarah. Kalau kita mau meneliti kehidupan Ahlulbait, kita tidak akan menemukan data yang menunjukkan bahwa mereka mengetengahkan kasus Fadak dalam ceramah dan diskusi mereka, kecuali di saat persitiwa itu terjadi saja semenjak Imam Ali, Imam Hasan hingga Imam Kedua Belas, karena hal itu merupakan kasus historis yang sangat parsial. Kami meyakini masih banyak masalah positif lain yang bisa disampaikan dalam rangka memperkenalkan Ahlulbait. Itu tentu jauh lebih baik dan produktif.
S: Bagaimana pandangan Anda terhadap upacara dan ritual yang dilakukan oleh orang-orang Syiah di Iran dan di tempat lain, khususnya pada hari-hari Asyura yang kadangkala menyebabkan saudara-saudara kita dari Ahlussunah merasa “risih” dan mengecamnya, seperti memukul kepala dengan pedang dan pisau, memukul-mukul dada dengan rantai hingga berdarah-darah?
T: Sebagian dari yang mereka lakukan, seperti menangis dan bersedih atas duka yang menimpa Ahlulbait adalah hal yang wajar. Banyak teks hadis yang menguatkan agar kita bersedih ketika Ahlulbait bersedih dan bergembira disaat mereka bergembira. Sebagian lain dari praktik-praktik itu merupakan ekspresi spontan (floklori). Setiap bangsa memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan kesedihannya. Misalnya, sebagian bangsa mengenakan baju hitam, sebagian yang lain menutup segala sesuatu dengan kain hitam, membuat makanan khusus dan membagi-bagikannya kepada yang membutuhkan. Semua ekspresi tersebut, selama tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak dilarangan.
Islam tidak pernah melarang adat istiadat dan budaya suatu bangsa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memberikan makanan pada fakir miskin, menampakkan kesedihan, tidak tertawa pada hari-hari Asyura, bahkan sebagian tidak merayakan akad nikah karena menghormati Imam Husain. Semua masalah ini adalah wajar-wajar saja dan saya tidak mendapatkan adanya larangan.
Satu hal lagi, kita tidak boleh ekstrim seperti sebagian salafiah yang mengatakan bahwa segala sesuatu harus ada contohnya di zaman Rasulullah. Menurut kami tidak harus begitu, sebab banyak dari masalah yang masuk dalam area mubah, sekalipun kita beri merek agamis. Seperti yang saya contohkan sebelumnya, misalnya tidak melakukan perayaan akad nikah di hari-hari Asyura atau Muharam demi penghormatan kepada Imam Husain.
Kecuali itu, melakukan hal-hal yang membahayakan bagi diri sendiri atau melakukan upacara-upacara yang dinisbahkan kepada agama, atau melakukan hal-hal aneh dan “risih”, semua itu tidak pernah diajarkan oleh Islam. Saya meyakini hal itu sebagai bidah dan penyelewengan yang tidak pernah diajarkan oleh wahyu dan tuntunan Allah Swt. Melukai diri, memukul kepala dengan pedang, berjalan di atas kobaran api dan sejenisnya yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam dan jika kita melihat juga ada ulama yang melakukannya, maka itu semua termasuk ujian yang dihadapinya dari penyakit awam. Sebenarnya hal itu tidak hanya terbatas pada apa yang dilakukan oleh umat Syiah saja, namun juga mencakup apa yang dilakukan oleh sebagian Ahlussunah atau kaum sufi.
S: Apakah menjadi keharusan untuk kita memperingati hari-hari besar keagaamaan seperti Asyura atau lainnya dengan mencontoh apa yang dilakukan di suatu negara tertentu dan kita terapkan di Indonesia secara seratus persen?
T: Seharusnya kalian memperhatikan budaya umum masyarakat Indonesia dan penerimaan mereka. Pokok penting yang mesti dipegang teguh adalah menjelaskan kesedihan kepada masyarakat kita bahwa kita memasuki hari-hari sedih Ahlulbait, tidak lebih dari itu.
S: Sebagian hadis dari jalur Ahlulbait kita dapatkan memiliki nuansa kultus yang berlebihan atau yang sering disebut dengan “ghulw” begitu juga hal-hal yang aneh dan terkesan tidak logis sering dijumpai di situ. Bagiamana Amda menyikapinya?
T: Sebagai sebuah kaidah umum tanpa menyebutkan riwayat ini dan itu secara khusus, secara umum semua riwayat haruslah diteliti kesahihan sanadnya, haruslah diketahui siapa yang meriwayatkannya, apakah bisa diterima atau tidak? Jujur atau tidak? Betapa banyak riwayat yang sanadnya lemah (dhaif) baik di dalam kitab-kitab hadis Ahlussunah atau Syiah. Hadis-hadis semacam itu tidaklah bernilai, kecuali memiliki penguat lain, seperti misalnya, secara pribadi saya kadang-kadang menemukan sebuah hadis yang sangat memiliki kesesuaian dengan kata hati kecil (wijdan), maka saya menerimanya walaupun sanadnya belum jelas. Namun saya tidak berani menisbahkannya kepada Ahlulbait atau Rasulullah.
Saya menemukan sebuah teks yang sangat indah maknanya; “Al ‘uqul aimmatul afkâr, wal afkâr aimmatul qulûb, wal qulûb aimmatul hawâs, wal hawâs aimmatul a’dha.” Artinya, akal adalah pemandu pemikiran, pemikiran pemandu hati, hati pemandu indera dan indera pemandu anggota tubuh yang lain. Sungguh ini sebuah realitas. Setiap orang yang merenungkannya akan menerimanya. Coba renungkan. Setiap orang yang berakal kemudian menggunakan akalnya, niscaya dia akan menghasilkan pemikiran-pemikiran. Pemikiran tersebut nantinya akan memberi pengaruh pada sisi emosional kita, maka pemikiran itu pemandu hati sebagai pusat emosional. Hati, dengan kekuatan emosionalnya akan mempengaruhi indera yang pada akhirnya ia akan menggerakkan anggota tubuh yang lain untuk menghasilkan sebuah aksi. Hadis semacam ini sekalipun sanadnya mursal (tidak bersambung pada Nabi atau Ahlulbait) dan tidak dalam rangka menetapkan sebuah kewajiban (taklif) atau meniadakan kewajiban, namun ia menceritakan sebuah realitas, maka tidak ada salahnya kita menerimanya.
Sekali lagi, setiap hadis haruslah diperjelas dan diteliti sanad periwayatannya di mana pun kita temukan hadis-hadis tersebut. Tidak semua hadis pasti sahih sekalipun Al-Kâfî yang ditulis oleh ulama besar hadis, Al-Kulaini. Bahkan banyak para ulama yang mengatakan bahwa di dalam kitab Al-Kafi, lebih dari setengah kandungannya dhaif. Al-Majlisi meyakini lebih dari 2/3 dari hadis Al-Kâfî daif. Padahal Al-Majlisi tergolong ulama hadis yang tidak terlalu ketat dalam menerima periwayatan hadis. Maka semua hadis itu haruslah tunduk pada metode penelitian sanad.
Kemudian, kita harus meneliti isi dan apa yang dapat dipahami dari hadis tersebut (dilalah). Jika ia bertentangan dengan hukum akal yang jelas dan pasti, maka ia tidak bisa diterima, seperti hadis yang menerangkan tentang kebendaan (tajsim) Allah Swt. Selanjutnya hadis yang dapat diterima harus yang tidak bertentangan dengan yang sudah masyhur, seperti yang disabdakan oleh Imam Ali as. atau salah seorang Ahlulbait yang lain, “Hendaklah kalian mengambil hadis yang telah masyhur di kalangan kalian dan tinggalkanlah yang tidak demikian (ganjil/syadz).” Jadi, hadis yang isinya terkesan menyalahi yang sudah masyhur, minimal harus diragukan kabsahannya.
Setiap yang masyhur, serta menjadi kesepakatan di dalam banyak hadis sahih dan di kalangan ulama bahwa Ahlulbait menolak segala bentuk penghormatan yang terkesan berlebihan (ghuluw) mereka selalu menjelaskan, bahwa diri mereka adalah hamba-hamba Allah yang saleh tidak pernah melanggar perintah Allah (maksiat), selalu mengajak kepada sikap warak dan kasih sayang sesama. Maka, segala sesuatu yang melebihi hal itu, haruslah ditolak, apalagi jika sanad hadisnya daif atau merupakan ucapan seorang ulama yang berangkat dari sisi emosional belaka. Apalagi sekedar untaian para penyair.
Imam Ali bersabda, “Celaka dua golongan; yang belebihan dalam mencintaiku dan yang berlebihan dalam membenciku.” Ada seorang yang datang menemui Imam Ja’far Ash-Shadiq dan mengatakan kepadanya bahwa ada seseorang yang meyakini bahwa dirinya tidak perlu beramal karena kecintaan kepada Imam Ali bin Abi Thalib telah menggugurkan segala kewajiban dan amal baik. Imam Ja’far Shadiq berkata kepadanya, “Apakah taklif Imam Ali digugurkan darinya sehingga orang lain yang mencintai juga demikian? Jika Imam Ali sendiri tidak demikian, apalagi orang lain yang hanya berdalih telah mencintainya? Itu semua adalah ghuluw dan penyimpangan.”
S: Anda salah seorang murid Syahid Muhammad Baqir Ash-Shadr, adakah pandangan khusus atau praktik khusus yang beliau contohkan kepada kita di dalam masalah ini (persatuan umat)?
T : Sebenarnya apa yang kami kemukakan adalah intisari dari pandangan para guru kami, Sayid Burujurdi, Imam Khomeini dan lebih khusus yang mulia Alm. Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, sebagai bukti atas hal itu, beliau melarang bukunya yang membahas Fadak untuk dicetak dengan dalih bahwa beliau menuliskannya ketika berusia masih sangat belia dan kondisinya belum stabil.
S: Terima kasih atas waktu yang telah diberikan, khususnya sumbangsih pemikiran-pemikiran YM yang sangat berharga bagi kami semua dan jangan lupa mendoakan kami!
T: Saya akan mendoakan kalian dan semua mubalig agar Allah memberikan taufik-Nya untuk menyebarkan ajaran Ahlulbait as. Sebagaimana saya selalu berdoa untuk kemakmuran dan kejayaan Indonesia. Terakhir saya berharap kalian pun tidak lupa mendoakan saya.
Sumber: Disadur dari majalah SYIAR. Wawancara dilakuan oleh Muhsin Labib dan Abdullah Beik, disunting oleh Arif Mulyadi dan Anwar M. Aris.










Tinggalkan Balasan