Lautan Manusia Menanti Ayatullah Khamenei di Haram Imam Khomeini

Matahari belum benar-benar bersinar ketika saya meninggalkan asrama di Qazvin. Hari itu, Selasa, 4 Juni 2013, bertepatan dengan 14 Khordad, hari libur nasional di Iran untuk memperingati wafatnya Imam Khomeini. Kesempatan menghadiri pertemuan umum (deedar-e umoomi) dengan Rahbar adalah pengalaman yang terlalu berharga untuk dilewatkan.

Setelah salat Subuh dan sarapan sederhana di musala, rombongan kami berangkat menuju kompleks Haram Imam Khomeini di luar kota Teheran. Perjalanan berlangsung tenang, tetapi semakin mendekati tujuan, suasana mulai berubah. Jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang mengarah ke satu tempat yang sama.

Gelombang peziarah

Apa yang selama ini hanya saya saksikan lewat layar televisi ternyata jauh lebih mengesankan ketika dilihat langsung. Bus yang saya tumpangi hanyalah satu dari ratusan bus yang berdatangan dari berbagai penjuru Iran. Dari tempat parkir menuju kompleks makam, kami masih harus berjalan lebih dari satu kilometer bersama arus manusia yang seolah tidak ada habisnya.

Di sepanjang perjalanan, telinga saya menangkap beragam logat bahasa Persia dari berbagai provinsi. Sesekali terdengar pula percakapan dalam bahasa lain. Acara ini rupanya bukan hanya menjadi magnet bagi masyarakat Iran, tetapi juga mengundang tamu dari berbagai negara dan latar belakang agama. Dalam keramaian itu, saya merasakan bagaimana sebuah peringatan nasional mampu mempertemukan begitu banyak orang dalam satu tujuan.

Pengamanan berlapis

Sebelum turun dari bus, panitia telah mengingatkan agar peserta tidak membawa telepon seluler, kamera, maupun perangkat elektronik lainnya. Bahkan jam tangan dan dompet pun dianjurkan untuk ditinggalkan apabila tidak benar-benar diperlukan.

Sesampainya di kompleks, saya memahami alasan di balik aturan tersebut. Pemeriksaan dilakukan dalam beberapa lapis dengan prosedur yang sangat ketat. Pos pertama hanya pemeriksaan awal. Memasuki pos kedua, setiap pengunjung diperiksa lebih teliti dan barang bawaan diperiksa satu per satu. Setiap barang yang dibawa ke dalam ditanyakan tujuannya. Di sini, telepon selular masih diperbolehkan untuk dibawa masuk.

Di lapisan terakhir, menjelang area utama tempat Rahbar akan menyampaikan pidato, hampir tidak ada toleransi terhadap barang apa pun. Kepadatan massa membuat antrean berubah menjadi aksi saling dorong yang melelahkan.

Namun, mengingat sejarah panjang aksi pengeboman terhadap masjid maupun tokoh agama di Iran, pengamanan seperti ini terasa dapat dimengerti.

Sulit mendekat

Begitu melewati pemeriksaan terakhir, orang-orang spontan berlari mencari tempat terbaik. Saya pun ikut berusaha menyelinap di antara kerumunan agar bisa melihat panggung lebih jelas. Sayangnya, seluruh area depan telah dipenuhi ribuan orang yang datang lebih awal.

Akhirnya saya hanya memperoleh posisi cukup jauh dari panggung. Dari tempat itu, kursi kehormatan hanya tampak kecil di kejauhan. Meski demikian, gelombang manusia yang terus berdatangan sama sekali tidak surut. Semua ingin berada sedekat mungkin dengan pusat acara.

Percakapan singkat

Di tengah keramaian, beberapa pemuda Iran yang berdiri di samping saya tiba-tiba bertanya, “Bache kojaei?”—saya berasal dari daerah mana.

Ketika saya menjawab berasal dari Indonesia, mereka tampak terkejut. Salah seorang dari mereka langsung berbicara panjang lebar dengan logat Persia utara yang cukup kental. Saya hanya mampu tersenyum sebelum akhirnya mengakui bahwa kemampuan bahasa Persia saya masih sangat terbatas.

Di saat remaja Iran itu membanggakan diri bahwa mereka datang dari provinsi paling ujung demi menghadiri acara tersebut, mereka nampak sulit percaya bahwa seseorang dari negara yang begitu jauh rela datang menghadiri acara yang sama

Momen menggetarkan

Tak lama kemudian, cucu Imam Khomeini, Hassan Khomeini, memasuki panggung. Pembawa acara dan sebagian hadirin langsung menyambut: “Salloo ala Mohammad, boo-ye Khomeini amad. Salawat kepada Muhammad, aroma Khomeini telah datang,” seru pembawa acara yang disambut ribuan suara peserta.

Pengunjung lain yang merasa tidak mau kalah dengan slogan tersebut, juga meneriakkan slogan lain—yang menurut mereka jauh lebih baik: “In hame lashkar amade, be eshgh-e rahbar amade. Seluruh pasukan telah datang, karena kecintaan kepada Rahbar.

Pekikan slogan tersebut diikuti dengan kemunculan Ayatullah Ali Hosseini Khamenei dari balik panggung. Suasana berubah menjadi lautan emosi. Ribuan tangan melambai bersamaan, diiringi pekikan dukungan dan slogan politik yang memenuhi udara.

Saya mungkin tidak memiliki ikatan emosional yang sama seperti sebagian besar masyarakat Iran yang hadir saat itu. Namun, berdiri di tengah puluhan ribu orang yang memperlihatkan kecintaan mereka secara spontan menghadirkan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ketika Rahbar membalas lambaian tangan mereka dengan senyum dan gestur sederhana, saya merasakan getaran yang begitu kuat dengan air mata yang hampir-hampir menetes. Untuk sesaat, saya memahami mengapa momen seperti ini begitu membekas dalam ingatan banyak orang yang pernah menyaksikannya secara langsung.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari islah

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca