Semua Sujud Sama Rendah, Tak Ada Istimewa di Saf Terdepan

Azan Magrib baru saja selesai berkumandang ketika saya melangkah memasuki Masjid Al-Bakrie di kawasan Epicentrum, Jakarta. Suasana masjid mulai dipenuhi jemaah. Menariknya, saya melihat banyak anak kecil yang telah lebih dulu menanti di mulainya salat berjemaah, bukan orang-orang dewasa.

Wajah mereka memancarkan semangat yang tidak dibuat-buat. Begitu ikamah dikumandangkan, mereka bergegas menempati saf-saf depan.

Saya sendiri memilih berdiri di saf ketiga. Tidak lama kemudian, suasana yang semula tenang berubah. Saya terkejut ketika seorang pria tua dengan suara keras meminta anak-anak mundur dari saf kedua. Terpancing, beberapa orang dewasa lain yang berada di saf keempat juga menyuruh anak-anak untuk salat di belakang.

Bapak tua yang tadi mengusir anak-anak ke belakang, meminta saya maju menggantikan posisi mereka. Saya memilih tetap di tempat dan membiarkan anak-anak itu berada di saf depan. “Tidak apa-apa di situ, asal jangan berisik,” kata saya pelan.

Peristiwa singkat itu mengingatkan saya pada sebuah kisah yang pernah disampaikan Ayatullah Ali Khamenei pada Juni 1997 tentang cara memperlakukan generasi muda di rumah Allah.

Pelajaran seorang Imam

Sayid Ali Khamenei pernah menceritakan pengalamannya ketika menjadi imam salat di masjid yang selalu dipenuhi anak muda. Menurutnya, sekitar 80% jemaah di masjid tersebut berasal dari kalangan muda. Dia meyakini hal itu bisa terjadi karena hubungan yang hangat selalu dijaga antara pengurus masjid dan para pemuda.

Suatu hari, seorang anak muda yang mengenakan jaket musim dingin—model pakaian yang saat itu sedang menjadi tren—duduk di saf pertama. Di sebelahnya terdapat seorang pebisnis yang rutin menempati barisan depan. Diam-diam lelaki itu membisikkan sesuatu yang membuat pemuda tersebut tampak gelisah.

Sayid Ali menoleh ke pebisnis itu dan bertanya apa yang dikatakannya kepada anak muda itu. Anak muda itu langsung menjawab tidak ada apa-apa. Dari cara bicara anak muda itu, Sayid Ali Khamenei segera memahami apa yang terjadi.

Salah satu ciri orang beriman adalah kegembiraan mereka nampak di wajah dan kesedihan mereka tersembunyi dalam hati.

Pemuda itu ternyata diminta mundur hanya karena penampilannya dianggap kurang pantas berada di saf pertama. Sang imam langsung meminta pemuda tersebut tetap berada di tempatnya. Kepada lelaki tadi dia mengingatkan bahwa masjid bukan tempat menilai seseorang dari pakaian, melainkan tempat menyambut siapa pun yang datang untuk bersujud kepada Allah.

Baginya, menjaga hati seorang anak muda jauh lebih penting daripada memperdebatkan penampilan lahiriahnya. Jika seseorang telah melangkahkan kaki ke masjid, maka pintu penerimaan seharusnya dibuka selebar-lebarnya, bukan justru dipersempit.

Menyentuh hati

Pesan tersebut sejalan dengan banyak penelitian mengenai psikologi perkembangan. Rasa diterima oleh lingkungan ibadah berpengaruh besar terhadap keterikatan anak dan remaja dengan kehidupan beragama hingga usia dewasa. Sebaliknya, pengalaman dipermalukan atau ditolak ketika sedang ibadah dapat meninggalkan kesan negatif yang bertahan lama.

Prinsip ini memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah ﷺ dikenal memperlakukan anak-anak dengan penuh kelembutan. Bahkan ketika cucunya menaiki punggung beliau saat salat, beliau tidak memarahinya, melainkan memperpanjang sujud agar sang cucu turun dengan sendirinya.

Riwayat ini menjadi pelajaran bahwa pendidikan sering kali lebih efektif melalui kasih sayang daripada teguran yang mempermalukan.

Saf yang setara

Anak-anak memang perlu diarahkan agar menjaga ketertiban ketika salat berjemaah. Mereka harus belajar adab masjid, menghormati kekhusyukan orang lain, dan memahami tata cara ibadah secara benar. Namun bimbingan tidak harus diwujudkan dalam bentuk pengusiran atau perlakuan yang membuat mereka merasa tidak diterima.

Pada akhirnya, saf salat mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar urutan berdiri. Di hadapan Allah, tidak ada keistimewaan karena usia, jabatan, kekayaan, ataupun cara berpakaian. Semua berdiri sejajar menghadap kiblat yang sama dan bersujud kepada Tuhan yang sama.

Barangkali yang paling perlu kita jaga bukan hanya kerapian saf, melainkan juga hati orang-orang yang datang untuk mengisinya. Sebab bisa jadi, satu kalimat yang menghangatkan akan membuat seorang anak mencintai masjid sepanjang hidupnya. Sebaliknya, satu penolakan yang terasa sepele bagi orang dewasa dapat menjadi alasan mengapa dia enggan kembali ke rumah Allah.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

8 responses to “Semua Sujud Sama Rendah, Tak Ada Istimewa di Saf Terdepan”

  1. Avatar Reppy
    Reppy

    saya setuju dengan pendapat tersebut.

  2. Avatar Habib
    Habib

    mantap !

  3. Avatar dessy
    dessy

    memang seharusnya kita bersikap seperti itu, sy jg pernah melihat bapak2 dengan kasarnya menyuruh anak2 berdiri disyaf paling belakang, hingga akhirnya anakitu malas untuk shalat berjama’ah dimesjid itu, padahal bapak2 td adalah seorang haji, bagaimana perasaannya…

  4. Avatar Dian Mahmud

    Nah ini istimewa

  5. Avatar thio

    setuju..

  6. Avatar gussyech

    Sbd Rosul ”BARANG SIAPA YG TIDAK MENGASIHI ANAK KECIL DAN TIDAK MENGHORMAT ORANG YG TUA MAKA BUKAN GOLONGANKU” hadits ini tentang adabia sesama manusia tapi kalo sholat lain karena menghadap Alloh yg udah balig harus didepan kecuali ga ada lihat itu kitab2 fikih semua ajarkan begitu ini masalah fadzilah sof tapi ga boleh kasar dg anak kecil

  7. Avatar beni z
    beni z

    Kadangkala apa yang kita fikirkan dan kita perbuat sesuai dengan ajaran namun dibalik hal tersebut terjadi kezhaliman. alangkah tepatnya bila prinsip-prinsip Ajaran Illahi Subhanaka dan RasulNya disampaikan dengan perkataan yang baik, santun beradab, apalagi dengan anak-anak yang belum tertuntut untuk melaksanakan suatu kewajiban.

  8. Avatar septio akabr rosier
    septio akabr rosier

    wedwqe

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari islah

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca