#4: Al-Azhar dan Syiar Persatuan

Syekh Maḥmud Syaltūt, tokoh Mesir yang pernah menjadi Imam Besar Al-Azhar, punya mimpi sederhana. Dia ingin agar pengikut Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali duduk berdampingan dengan Syiah Imami dan Zaidi.

Mereka berdiskusi bersama dengan suara penuh pengetahuan, pengabdian dan yurisprudensi serta semangat persaudaraan, persahabatan, cinta dan pengabdian kepada sains dan gnostisisme.

Syekh Syaltūt bilang, “Saya meyakini, gagasan untuk mengumpulkan mazhab Islam sebagai prinsip yang benar.” Hal itu bukan hanya pendapat pribadinya, tapi menjadi sikap universitas Islam tertua di dunia.

“Al-Azhar menyepakati aturan dasar berbagai mazhab. Karenanya yurisprudensi berbagai pemikiran Islam diajarkan. Semua itu didasarkan pada bukti kuat, tanpa prasangka yang memihak kelompok tertentu.”

Meski demikian, Syekh Syaltūt tidak menafikan adanya kelompok yang menentang gagasan tersebut. Mereka bahkan ingin menghancurkan mazhab atau menyatukannya. “Gagasan ini ditentang oleh sebagian orang yang kurang cerdas, sebagian lagi orang-orang yang punya tujuan tertentu yang tidak layak.”

Syekh Syaltūt sampai mengeluarkan fatwa terkait mazhab Syiah yang pada intinya:

  1. Agama Islam tidak mengharuskan setiap pemeluknya menjalankan mazhab tertentu. Namun hak setiap orang yang beriman untuk dapat mengikuti salah satu mazhab yang telah diriwayatkan dan ditulis secara benar. Orang yang telah menganut salah satu mazhab boleh berpindah kepada mazhab lainnya.
  2. Mazhab Ja’fari, yang dikenal sebagai Syi’ah Iṡnā Asyariah, adalah mazhab yang dapat diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab ahlusunah. Kaum muslim harus mengetahui hal ini dan menahan diri dari prasangka yang tidak adil karena agama Allah dan syariah-Nya tidak pernah tunduk pada mazhab tertentu.

Terkait Jamā’ah at-Taqrīb, Syekh Muḥammad al-Ghazālī dalam buku Kaifa Nafham Al-Islām menulis, “Meski aku banyak menyimpulkan hukum-hukum tentang berbagai hal yang berbeda dengan apa yang digunakan oleh Syiah, namun tetap saja saya tidak membuat pendapat saya sebagai agama dan orang yang berbeda dengannya menjadi berdosa.”

Syekh Al-Ghazālī berpendapat, siapapun yang membantu perpecahan Syiah dan sunnī, meskipun hanya dengan satu perkataan, sama seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Orang-orang yang memecah belah agamanya dan menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun engkau tidak bertanggung jawab terhadap mereka. Urusan mereka hanya kepada Allah. Kemudian, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”

Syiah dan sunnī, menurut Syekh Al-Ghazālī, sama-sama mendasarkan keyakinannya kitabullah dan sunah rasul. Mereka berdua sepakat penuh pada prinsip utama agama Islam. Namun ketika masuk ke area fikih perbandingan, barulah terdapat perbedaan pendapat tentang sahih atau daifnya sebuah hadis.

Kami melihat bahwa jarak antara mazhab Syiah dan sunnī serupa dengan jarak antara mazhab Abu Hanifah dan mazhab Maliki atau Syafi’i.

Syekh Al-Ghazālī

Dalam kitab Naẓarāt fil-Qur’ān, Syekh al-Ghazālī juga memuji beberapa ulama Syiah. Hal tersebut dilakukan karena sebagian orang awam menganggap Syiah adalah kelompok menyimpang di luar Islam.

Salah satu ulama yang disebut adalah Hibbat-uddīn Al-Husainī, “Salah satu ulama Syiah terkemuka. Kami telah menerbitkan ringkasan (pendapat)nya agar pembaca muslim mengetahui sejauh mana pengetahuan ulama ini tentang kemukjizatan (Al-Qur’an) dan sejauh mana kaum Syiah memuliakan Kitab Allah.”

Demikianlah Syekh al-Ghazālī, seorang cendekiawan penting Ikhwanul Muslimun, berbicara tentang muslim Syiah. Dia telah menepis segala ilusi naif dan tuduhan yang didasarkan pada kebodohan, kebencian, dan kepentingan pribadi dengan cahaya kebenaran.

Artikel ini merupakan bagian dari buku As-Sunnah Al-Syī‘ah Ḍajjah Mufta’alah karya Dr. Fatḥī Syaqāqī, pendiri Jihad Islam Palestina. Artikel lainnya dapat dibaca pada label Perselisihan Semu Sunnī dan Syiah.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “#4: Al-Azhar dan Syiar Persatuan”

  1. jack Avatar

    Such an inspiring example of scholars promoting unity and mutual respect among different schools of thought. It shows how focusing on shared principles can overcome division — much like how reciting سورة الواقعة مكتوبة كاملة

    reminds us of the ultimate truths that unite all believers

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect

“Saya berharap seluruh masa hidup ini saya jalani untuk mewujudkan persatuan kaum muslim dan kematian yang akan saya alami juga demi persatuan kaum muslim.”

— Ayatullah Ali Khamenei