Hati Sayidina Ḥusain bin ‘Alī sudah mantap. Permintaan orang-orang agar dirinya tidak pergi ke Kufah ditolak. Bukan cuma hati yang membuatnya yakin tapi juga keimanan. Karena keteguhannya itu, cucu baginda nabi justru difitnah.
Dia dituduh ingin menumbangkan Yazīd demi kekuasaan. Tapi itu menurut orang-orang yang melihat dengan perspektif duniawi. Mereka lupa kalau Sayidina Ḥusain bukan manusia biasa.
حُسَيْنٌ مِنِّي وَ أَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا
Ḥusain bagian dariku dan aku bagian darinya. Allah mencintai siapa saja yang mencintai Ḥusain.
📚 H.R. Ahlusunah: Ṣaḥih At-Tirmiżī, Ṣaḥih Ibnu Mājah
📚 H.R. Syiah: Biḥār Al-Anwār
Menjelang meninggalkan Madinah, Sayidina Ḥusain menulis beberapa surat. Salah satu surat ditujukan untuk adik tirinya bernama Muḥammad bin Al-Ḥanafiah. Di dalam suratnya itulah termuat esensi penting alasan Ḥusain bangkit harus melawan Yazīd.
Beliau menulis, “Aku keluar (bangkit) untuk melakukan iṣlāh pada umat kakekku. Aku ingin menegakkan amar makruf nahi mungkar…”
Al-iṣlāh sebenarnya punya dua makna. Pertama, sudah diadaptasi dalam KBBI yaitu perdamaian, tentang penyelesaian pertikaian dan sebagainya. Kedua, melakukan perbaikan, mengajak kepada kebaikan, sekaligus menyingkirkan keburukan.
Makna terakhir ini lekat dengan prinsip amar makruf nahi mungkar. Kalau perbaikannya dilakukan total pada semua aspek kehidupan, kita mengenalnya dengan istilah reformasi.
Sayidina Ḥusain melihat kehidupan individu, masyarakat, dan negara di masa kekuasaan Yazīd sudah rusak parah. Ketika bertemu ulama dan zuama di Makkah, Sayidina Ḥusain sudah mengingatkan, “Bukankah kalian telah lihat bagaimana kebenaran tidak dijalankan, kebatilan tidak dicegah?”
Yazīd itu pribadi yang tidak punya ikatan dengan Islam. Perilakunya tidak mencerminkan orang yang percaya pada Al-Qur’an. Tapi dia menguasai urusan kaum muslim. Karena pemimpinnya tidak bisa memberi contoh, masyarakat perlahan menjauh dari Islam. Islam menjadi asing ketika penguasanya justru mengklaim sebagai khalifah.
Karena itu implementasi amar makruf nahi mungkar harus ditingkatkan. Tidak bisa lagi hanya dengan nasihat atau dakwah. Tapi harus mengerahkan segenap kekuatan, semampunya.
Kalau kita gagal paham pihak mana yang berada pada kebenaran, mungkin kita akan sama seperti orang-orang di sekitar Sayidina Ḥusain. Al-Qur’an sendiri yang mengatakan kalau orang-orang yang melakukan kerusakan (mufsidin) itu kerap mengaku sebagai orang yang melakukan perbaikan (muslih); dengan kata lain munafik.
Makanya kita harus mengenal apa itu kebenaran, sebelum melihat siapa yang membawanya. Al-Qur’an menyebutkan kalau orang beriman dan melakukan islah, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati (Q.S. Al-An’am: 48). Sayidina Ḥusain bukan cuma tidak takut, bahkan berani mempertaruhkan nyawanya demi terwujudnya reformasi.
Reformasi yang diperjuangkan Sayidina Ḥusain tidak berhenti di Karbala, tempat beliau dibunuh. Beliau berani melawan khalifah yang mempermainkan Islam. Tapi kenapa banyak kaum muslim yang takut untuk memperingati perjuangannya?
Perlawanan Ḥusain kepada Yazīd bukan sekadar lembaran sejarah, tapi reformasi abadi bagi kemanusiaan. Termasuk perlawanan terhadap kelompok yang kelihatannya berjubah agama tapi kerap menciptakan perpecahan.
Melalui blog sederhana ini, saya berharap bisa meniru ucapan Nabi Syu’aib a.s. dalam surah Hūd sewaktu berargumen sama kaumnya, “Aku hanya ingin (mendatangkan) islah selama aku masih sanggup.”









Tinggalkan komentar