Suatu hari di Madinah, seorang sahabat berdiri di hadapan Khalifah Utsman bin ‘Affan dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Wajahnya letih, tetapi suaranya tetaplah lantang. Ia bukan panglima perang, bukan pula pejabat kerajaan. Dia hanya seorang lelaki sederhana bernama Abu Dzar al-Ghifari.
Setiap pagi dan petang, dia terus mengulang satu ayat yang membuat penguasa gelisah: tentang emas, perak, dan manusia yang menimbun harta tanpa peduli penderitaan orang lain. Ayat itu merupakan potongan dari Surah At-Taubah:
Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka azab yang pedih.
Itulah cuplikan cerita yang saya tulis dalam makalah mata kuliah Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi yang disusun bersama Abdul Badruddin, Hasanudin, dan Khairunnisa pada tahun 2008. Ayat tersebut ternyata diturunkan bukan hanya untuk mengkritik kerakusan ekonomi, tapi juga untuk membongkar wajah agama yang diperalat demi kekuasaan dan keuntungan pribadi.
Agama dan kekuasaan
Dalam Surah At-Taubah ayat 30–31, Allah lebih dahulu menyinggung sebagian pemuka Yahudi dan Nasrani yang menjadikan para alim dan rahib seperti “tuhan-tuhan kecil”. Mereka bukan hanya dihormati, tetapi juga diikuti secara membabi buta. Ketika agama berubah menjadi alat dominasi, kebenaran pun mudah disembunyikan.
Banyak mufasir menjelaskan bahwa sebagian pemuka agama pada masa itu mengambil keuntungan dari umat dengan cara batil: menerima suap, menjual pengampunan dosa, hingga memanfaatkan ketakutan masyarakat demi memperkaya diri.
Kritik Al-Qur’an terhadap praktik ini masih relevan hingga hari ini, ketika agama dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pendakwah.
Suara Abu Dzar
Di tengah kemewahan yang mulai tumbuh pada masa kekhalifahan Utsman, Abu Dzar memilih menjadi suara yang mengganggu kenyamanan elit politik. Ia memahami ayat tentang emas dan perak bukan hanya kewajiban zakat, tetapi juga kritik terhadap penumpukan kekayaan yang berlebihan.
Dalam banyak riwayat tafsir, termasuk yang dijelaskan dalam Tafsir Al-Qurthubi, Abu Dzar menolak gaya hidup mewah pejabat muslim saat itu. Ia bahkan mendebat Muawiyah yang beranggapan bahwa ayat tersebut hanya untuk ahlulkitab. Abu Dzar menolak tafsir itu dan menyebut ayat itu juga ditujukan kepada kaum muslimin karena terdapat kata wallażīna. Menurutnya, siapa pun yang menimbun kekayaan dan melupakan rakyat kecil termasuk dalam peringatan ayat tersebut.
Sikap kritis itu membuatnya harus menerima pengasingan. Tetapi sejarah mengingat Abu Dzar sebagai simbol keberanian di hadapan kekuasaan.
Harta dan moral
Tidak semua ulama sepakat dengan pandangan Abu Dzar. Sebagian berpendapat bahwa boleh memiliki harta yang banyak selama zakatnya ditunaikan. Pendapat ini dapat ditemukan dalam penjelasan Prof. Quraish Shihab di Tafsir Al-Miṣbāḥ.
Namun Al-Qur’an tampak ingin membawa manusia melampaui sekadar hitungan halal dan haram. Ada dimensi moral yang lebih dalam: apakah harta membuat seseorang semakin peduli atau justru semakin jauh dari sesama?
Penelitian modern menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi yang ekstrem dapat merusak stabilitas sosial dan kesehatan mental masyarakat. Meningkatnya ketimpangan ekonomi berkaitan dengan menurunnya kepercayaan sosial.
Api kesombongan
Ayat berikutnya dalam surah At-Taubah menggambarkan suasana yang menggetarkan. Emas dan perak yang dahulu disimpan dengan penuh kebanggaan dipanaskan dalam neraka, lalu ditempelkan ke dahi, lambung, dan punggung manusia.
Prof. Quraish Shihab menjelaskan bahwa dahi melambangkan kesombongan, lambung melambangkan kenikmatan yang berlebihan, dan punggung menggambarkan sikap membelakangi tuntunan Allah.
Pesan ayat ini sebenarnya sangat manusiawi. Islam tidak memusuhi kekayaan. Masalahnya adalah ketika manusia merasa aman hanya karena tumpukan materi, lalu lupa bahwa di luar rumahnya masih banyak orang tidur dalam keadaan lapar.
Dunia mungkin berubah dari dinar menjadi rekening digital, dari pasar tradisional menjadi bursa saham global. Tetapi kerakusan manusia tetap memiliki wajah yang sama: ingin memiliki lebih banyak, sambil perlahan kehilangan rasa cukup.
Itulah sebabnya suara Abu Dzar masih terdengar relevan hingga hari ini.









Tinggalkan komentar