Sebuah rumor absurd masih hidup dan dipercaya oleh sebagian orang. Mereka mengatakan, “Syiah itu mengharamkan sepak bola. Katanya bermain bola itu kebiasaan keji pasukan musuh menendang kepala Husain yang dipenggal di Karbala.” Saya pribadi belum pernah membaca dalam literatur utama atau fatwa ulama Syiah yang mengharamkan sepak bola.
Lalu dari mana asal rumor ini?
Peneliti komunikasi menyebut fenomena ini sebagai religious misinformation. Informasi keliru yang dibungkus dengan narasi simbolik. Tragedi Karbala yang keji tersebut kemudian dibumbui oleh cerita yang tidak pernah ada dasarnya. Semua itu bertujuan agar orang-orang semakin yakin bahwa Syiah sesat dan aneh sehingga harus dijauhi.
Dalam konsep Illusory Truth Effect, otak manusia memang cenderung mempercayai kebohongan tidak logis sekalipun apalagi jika terus menerus diulang. Padahal Islam mengajarkan untuk berhati-hati dalam menerima informasi.
Karena fakta yang kita semua tahu, Iran adalah negara dengan populasi muslim Syiah terbesar dan secara tegas berlandaskan mazhab Syiah Iṡnā ‘Asyarīah… dan Iran adalah salah satu kekuatan sepak bola Asia.
Bahkan kalau kita ingat, salah satu malam bersejarah di Piala Dunia 1998 adalah saat Timnas Iran berlaga melawan Amerika Serikat. Beberapa pekan sebelum pertandingan, media antek imperialisme sibuk membumbui laga ini dengan narasi permusuhan.
Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu tujuan berita tersebut ialah untuk merusak hubungan antara rakyat Iran dan rakyat Amerika. Stasiun radio milik Barat mengklaim bahwa ini adalah pertandingan politik. “Padahal semua orang tahu bahwa sepak bola bukanlah pertandingan politik. Tetapi karena media tersebut, setiap orang jadi mengatakan bahwa pertandingan ini adalah pertandingan politik.”
Ketika bertemu dengan anak-anak muda, Ayatullah Khamenei bercerita tentang momen saat menyaksikan pertandingan Iran melawan Amerika Serikat di Piala Dunia 1998. Malam itu, tanpa rencana, ia menyalakan televisi. “Baru saja saya akan duduk, saya melihat gol Tuan Estili dan tidak lagi mengantuk! Saya menyaksikannya sampai habis.”
Ayatullah Khamenei sendiri sebenarnya sangat jarang sekali menyaksikan pertandingan olahraga di televisi. “Olah raga yang banyak disiarkan (televisi) adalah sepak bola. Di masa muda saya tidak bermain sepak bola. Pada saat masih kecil saya bermain bola voli,” katanya.
Setelah berhasil mengalahkan Amerika Serikat dan kembali ke Iran, para pemain timnas disambut oleh pemimpin tertinggi Iran. Ayatullah Khamenei memeluk Hamid Estili dan berkata, “Sebagai hadiah atas gol itu saya akan cium kening Anda.”
Namun, ada hal lain yang lebih dalam dari sekadar pertandingan. Di saat media Barat membingkai laga Iran vs Amerika sebagai “pertandingan politik”, Ayatullah Khamenei justru menolak pandangan tersebut, “Pertandingan tersebut menjadi refleksi bagi bangsa Iran dalam menghadapi Amerika. Namun ketika Tuan Estili mencetak gol, dia bukan mencetak gol politik. Dia bermain sepak bola. Karena kemampuan dan tekniknya dia mencetak gol. Siapapun yang ada di posisinya akan mencetak gol dan siapapun yang ada di posisi lawan akan kebobolan. Dia mencetak gol bukan karena masalah politik.”
“Tapi gol tersebut memang benar-benar mengubah situasi yang Amerika Serikat rencana dan inginkan. Mereka marah. Tapi media imperialisme mengatakan bahwa Khamenei yang menjadikannya pertandingan politik. Mereka tidak mengatakan bahwa mereka sendirilah yang sebenarnya telah membuat pertandingan politik selama beberapa minggu terakhir (sebelum pertandingan).”
Pada akhirnya kita bisa melihat pola yang sama: bagaimana sebuah peristiwa—baik tragedi Karbala maupun pertandingan sepak bola—bisa dipelintir menjadi narasi yang jauh dari kenyataan.













Tinggalkan Balasan ke Toha Alaydrus Batalkan balasan