Siang hari di awal bulan Muharam, saya dan seorang teman sedang berdiskusi di kantin kampus. Kami berbicara tentang tragedi besar bulan itu: Asyura—sebuah hari yang akan selalu membuat banyak hati bergetar mendengar kisahnya. Saya kebetulan memang membawa buku tentang Karbala dan Imam Husain yang sedang kami bicarakan.
Belum lama kami berbincang, seorang mahasiwa lain keturunan Arab datang menghampiri. Ia duduk tanpa canggung, lalu ikut membuka percakapan. Awalnya saya mengira dia tertarik pada sejarah Asyura. Namun tak lama kemudian, arah pembicaraan berubah.
Tangannya sibuk membolak-balik halaman buku, mencari nama Yazid. Dia tampak ingin menemukan kalimat penyesalan Yazid bin Muawiyah atas wafatnya cucu Nabi Muhammad ﷺ. Tetapi yang dia kutip justru Yazid al-Asadi, saudara dari Habib bin Mazhahir, sahabat Imam Husain.
Dari sana saya mulai memahami sesuatu. Niatnya berbelok untuk mencari kata-kata pengikut Imam Husain yang seolah membunuhnya. Dia bukan sedang mencari kebenaran sejarah, melainkan mencari celah untuk menggiring kesimpulan tertentu.
Saya tidak terlalu mengenalnya. Namun sikapnya terasa ganjil. Dia memuji-muji saya, berbicara seolah kami sahabat lama. Saya memilih diam, menyimpan rasa heran itu sendiri.
Beberapa waktu kemudian, seorang teman akhirnya bercerita. Rupanya ada orang-orang yang merasa khawatir bila seseorang terlalu dekat dengan saya. Mereka takut saya menyebarkan sejarah Imam Husain yang identik dengan Syiah. Ketakutan yang sepertinya muncul karena kecemasan kehilangan pengaruh.
Ketakutan mayoritas
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak orang tidak takut pada kekerasan, tetapi takut pada percakapan dan diskusi. Mereka tidak khawatir pada kebencian, tetapi khawatir pada orang yang mulai membaca sejarah dari sudut berbeda.
Ketakutan mereka mengingatkan saya pada ucapan Syekh Ahmad Deedat, kristolog masyhur yang juga seorang ulama suni. Dalam salah satu ceramahnya, dia mempertanyakan mengapa sebagian umat Islam sulit menerima Syiah sebagai bagian dari tubuh besar Islam.
Beliau bahkan menyebut ketakutan itu sebagai penyakit perpecahan yang tidak masuk akal: bagaimana mungkin mayoritas merasa terancam oleh minoritas yang ingin diperlakukan sebagai saudara seiman? “Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka (Syiah) yang seharusnya ketakutan,” katanya.
Pengalaman lama
Saya sudah pernah mengalami hal serupa saat awal kuliah. Suatu hari, seseorang mengirim pesan anonim: “Jangan bawa-bawa sekte ke kelas…!”
Kalimat itu singkat, tetapi terasa tendensius. Sebab pada saat yang sama, orang lain bebas menyampaikan keyakinannya, bebas berdakwah, bebas mengutip ulama yang mereka yakini. Namun ketika orang yang berbeda berbicara, label “sesat” atau “membawa sekte” begitu mudah dilemparkan.
Beberapa kali saya bahkan harus menyanggah pernyataan dosen yang menurut saya tidak tepat tentang keyakinan tertentu. Bagaimana mungkin saya diam ketika di kelas keyakinan saya dilecehkan? Hingga akhirnya dosen mengeluarkan kata-kata bijak nan sakti, “Sudah. Ikutilah apa yang kebanyakan diyakini umat (jumhur). Itu lebih aman…”
Padahal Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa kebenaran tidak selalu berada di pihak mayoritas. Allah berfirman:
Jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS. Al-An’am: 116)
Ayat lain juga menyebut:
Berapa banyak golongan kecil mengalahkan golongan besar dengan izin Allah. (QS. Al-Baqarah: 249)
Pesan Al-Qur’an sangat jelas: ukuran kebenaran bukan jumlah pengikutnya, melainkan kedekatannya dengan petunjuk Allah.
Dakwah dan hidayah
Di titik ini saya belajar bahwa berdakwah bukan berarti memaksa orang berubah. Bahkan para nabi tidak diberi tugas untuk memberi hidayah. Mereka hanya menyampaikan.
Karena itu, berbicara tentang ahlulbait bagi saya bukanlah proyek mengubah identitas orang lain. Ini hanyalah usaha kecil memperkenalkan sejarah, hikmah, dan keteladanan keluarga Nabi Muhammad ﷺ—keluarga yang dicintai seluruh umat Islam, baik sunnī maupun Syiah. Hadis tentang kecintaan kepada ahlulbait diriwayatkan dalam banyak kitab, termasuk Ṣaḥīḥ Muslim dan Musnad Aḥmad.
Al-Qur’an sendiri menegaskan:
Katakanlah, “Aku tidak meminta kepadamu imbalan apa pun selain kasih sayang kepada kerabatku.” (QS. Asy-Syura: 23)
Seperti sop buntut
Seorang teman pernah memberi analogi sederhana. Katanya, orang Jakarta sering bilang sop buntut terenak ada di Hotel Borobudur. Untuk membuat orang lain penasaran, kita cukup menceritakan nikmatnya rasa sop itu. Tidak perlu memaksa siapa pun makan di sana.
Begitu pula dakwah. Tugas kita hanya menyampaikan keindahan Islam. Bukan membagikan tiket surga, apalagi memaksa orang menerima semua pandangan kita.
Persatuan bukanlah mensyiahkan yang sunnī atau mensunikan yang Syiah. Saya hanyalah partikel kecil yang menceritakan tentang sejarah dan hikmah ahlulbait. Sedikitnya orang yang mengenal ahlulbait tidak mengurangi kemuliaan mereka di sisi Allah.
Barangkali justru di situlah kekuatan sejati sebuah keyakinan: ia tetap bertahan meski ditekan, tetap hidup meski dicurigai, dan tetap berbicara tentang persaudaraan ketika yang lain sibuk membangun tembok ketakutan.









Tinggalkan komentar