Entah karena terlalu sering melihat televisi atau memang acara kuliner di televisi sudah terlalu banyak. Tidak hanya di setiap stasiun televisi, bahkan dalam satu kanal televisi terdapat beragam acara yang berkaitan dengan makanan di setiap waktu. Acara berita seolah kehabisan informasi sehingga harus diselingi liputan makanan.
Mungkin terkesan sinis. Tapi coba kita bayangkan seorang ayah atau ibu di pelosok negeri ini yang menyalakan televisi setelah seharian bekerja dengan upah tak seberapa. Dia berharap menemukan berita atau hiburan yang menenangkan. Tapi dia disambut acara yang menawarkan aroma semu dengan pembawa acara yang asyik menyantap makanan. Rasa lapar muncul; bukan hanya di perut, tapi di pikirannya.
Semua acara kuliner mungkin punya kemasan yang berbeda, tapi isinya selalu sama: eksploitasi makanan dan nafsu makan. Tidak ada yang salah dengan makanan. Islam pun memandangnya sebagai nikmat Tuhan. Namun masalah muncul ketika makanan berubah menjadi hiburan tanpa batas, sementara rasa syukur dan kesadaran justru perlahan hilang.
Kesadaran bahwa terdapat fakta soal ketimpangan yang menyertainya. Di saat tayangan semacam ini terus membanjiri layar kaca, masih ada jutaan warga Indonesia yang berjuang mendapat sesuap nasi layak. Data Badan Pusat Statistik (2023) mencatat lebih dari 25 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Ironi yang menyakitkan.
Nafsu konsumsi
Fenomena yang terjadi belakang ini menggambarkan budaya konsumsi di masyarakat. Kita hidup di zaman ketika perut tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga identitas sosial. Orang difoto saat makan, dipuji karena restoran mahal yang dikunjungi, bahkan dinilai dari gaya hidup kulinernya.
Al-Qur’an mengingatkan, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini sangat sederhana, tetapi selamanya akan relevan di tengah meningkatnya budaya berlebih-lebihan yang dipertontonkan setiap hari.
Nabi saw. diriwayatkan pernah bersabda, “Jangan jadikan perut-perut kamu sebagai kuburan binatang-binatang.” Pesan ini bukan larangan menikmati makanan, melainkan peringatan agar manusia tidak diperbudak nafsunya.
Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. pernah mengatakan bahwa makan sedikit lebih baik bagi kesehatan lahir maupun batin. Dalam buku The Lantern of the Path, beliau menjelaskan bahwa makan seharusnya dilakukan karena kebutuhan, bukan karena dorongan syahwat semata.
Filosofi lapar
Ada masa dalam kehidupan manusia ketika rasa lapar seperti dianggap penderitaan. Padahal hampir semua tradisi spiritual besar mengenal puasa sebagai jalan penyucian diri. Islam mewajibkan puasa bukan sekadar untuk menahan makan dan minum, tetapi mendidik manusia memahami batas. Saat lapar, manusia belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memenuhi keinginan.
Menariknya, sains modern mulai menemukan banyak manfaat biologis dari puasa. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten membantu memperbaiki metabolisme tubuh, meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi inflamasi, hingga memperbaiki kesehatan jantung.
Kajian lain juga menjelaskan bahwa puasa membantu pengendalian emosi dan kesehatan mental karena tubuh mengalami proses adaptasi biologis yang memperkuat regulasi diri. Karena itu, lapar dalam pandangan spiritual bukan kutukan. Ia adalah cara tubuh dan jiwa beristirahat dari kerakusan.
Makan karena dorongan kebutuhan adalah untuk orang yang suci; makan sebagai suatu sarana dan persediaan adalah penunjang untuk orang yang bertakwa; makan setiap kali secukupnya saja adalah untuk mereka yang percaya; dan makan untuk menguatkan badan adalah untuk orang-orang beriman.
Hati yang keras
Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. mengingatkan bahaya terlalu banyak makan yang dapat melahirkan dua hal: kerasnya hati dan bangkitnya syahwat. Manusia modern mungkin tidak kekurangan makanan, tetapi sering kekurangan empati.
Kita bisa menonton pesta kuliner sambil melupakan bahwa di luar sana masih banyak orang yang bahkan kesulitan membeli beras.
Nabi Isa a.s. pernah berkata bahwa hati tidak mengalami penyakit yang lebih buruk daripada kekerasan. Salah satu penyebab jiwa melemah adalah karena manusia tidak pernah merasakan lapar.
Barangkali itulah sebabnya bulan Ramadan selalu terasa berbeda. Saat perut kosong, manusia lebih mudah mengingat Tuhan, lebih mudah memahami penderitaan orang lain, dan lebih mudah menyadari bahwa hidup tidak melulu soal kenikmatan.
Menemukan batas
Mungkin masalah terbesar hari ini bukan kurangnya makanan, melainkan hilangnya batas. Kita diajarkan mengejar semua hal tanpa jeda: makan lebih banyak, membeli lebih banyak, menikmati lebih banyak. Padahal kebijaksanaan sering lahir justru dari kemampuan berkata, “cukup.”
Puasa mengajarkan bahwa manusia tidak mati karena lapar sesaat karena yang sering membunuh manusia perlahan adalah ketidakmampuan mengendalikan diri.
Di tengah dunia yang sibuk memuaskan perut, mungkin kita perlu kembali belajar menghargai rasa lapar. Sebab kadang, dari perut yang kosong, hati justru menjadi lebih hidup dengan kesadaran. Seperti kata Nabi Isa a.s., “Hati tidak akan menderita penyakit yang lebih buruk daripada kekerasan, dan tidak ada jiwa yang dapat lebih mudah dilemahkan kecuali karena tidak pernah dirasanya kelaparan.”









Tinggalkan komentar