Kesederhanaan dalam balutan kain panjang berwarna gelap memberikan bekas mendalam. Keanggunannya tidak meminta pengakuan dari orang lain, tetapi memaksa dunia untuk menghormatinya. Itulah kesan pertama yang sulit dijelaskan oleh saya ketika melihat dia mengenakan abaya.
Keragaman Bentuk
Secara etimologis, abayah (عباية) atau ‘aba’ah (عباءة) berasal dari bahasa Arab yang berarti jubah atau mantel luar. Namun, mendefinisikannya sekadar sebagai “pakaian” adalah penyederhanaan yang keliru. Abaya adalah narasi budaya. Di negara Arab, ia adalah pakaian nasional yang melambangkan kebanggaan.
Sementara di Iran, ia bermetamorfosis menjadi chador (چادر), kain setengah lingkaran yang menutupi dari kepala hingga kaki. Tradisi yang tetap dijaga oleh sebagian wanita, meski arus modernitas terus memaksa masuk.
Lalu ada juga burqa (برقع), yang lazim di Afghanistan atau Pakistan. Bagi orang asing yang tidak mengerti, bentuknya mungkin terlihat membatasi. Namun bagi mereka yang memakainya di tengah badai debu Asia Tengah, ia adalah pelindung fisik sekaligus spiritual.
Islam sendiri tidak menetapkan satu model pakaian khusus bagi muslimah. Tapi bagi saya, abaya dapat menjadi simbol kesantunan. Dalam catatan International Journal of Fashion Studies, gaya berpakaian santun (modest fashion) bukan lagi simbol ketertinggalan.
Sebuah penelitian lain dalam jurnal Fashion and Textiles juga menyebutkan bagaimana pakaian longgar dapat memberi efek psikologis berupa rasa privasi dan kontrol diri yang lebih tinggi bagi sebagian perempuan muslim.
Namun tentu saja, bentuk pakaian bukan media untuk merasa paling suci. Ukuran ketakwaan tidak berhenti pada bentuk kain yang dikenakan. Ada perempuan bercadar yang akhlaknya buruk, ada pula perempuan sederhana yang hatinya sangat mulia.
Tradisi Warna
Soal warna pakaian wanita muslim, Islam ternyata tidak sekaku yang Barat persepsikan. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyebutkan bahwa para sahabat perempuan nabi mengenakan pakaian multi-warna, mulai dari hijau, kuning, hingga merah. Namun warna hitam lebih diasosiasikan dengan kesederhanaan karena kerap dipakai oleh istri nabi.
Muslimah Syiah yang kerap digambarkan selalu memakai warna hitam juga ternyata tidak selalu demikian. Ayatullah Ali Khamenei dalam fatwanya menekankan bahwa tidak ada larangan warna tertentu, asalkan tidak bertujuan untuk menarik perhatian yang merusak (tabarruj) atau menimbulkan dampak sosial yang buruk.
Fatemeh Tabatabai, menantu Imam Khomeini, mengatakan bahwa Imam memang lebih menyukai warna gelap karena dianggap lebih “pantas” dan melindungi dari pandangan jahat. Namun esensinya tetaplah kesantunan, bukan pada warna.
Imam (Khomeini) percaya, jilbab harus benar-benar menutup dan tidak boleh menunjukkan lekuk tubuh agar tidak mengundang kejahatan. Pakaian juga seharusnya berwarna gelap karena warna terang, merah misalnya, bisa mengundang kejahatan… Jika melihat wanita dengan jilbab kurang baik, ia menjadi sangat kesal pada orang yang sikapnya berlawanan dengan hukum Islam -Fatemeh Tabatabai.
Di Balik Tabir
Pria dan wanita muslim harus berpakaian secara sopan, terutama di depan publik. Bagi muslimah, ada penekanan khusus dalam Al-Qur’an sebagai panduan: “…hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.”
Mereka yang mengenakan abaya seperti ingin bercerita tentang keberanian untuk menetapkan batas. Di dunia yang terobsesi dengan eksploitasi visual, mereka memilih untuk menyimpan keindahan mereka bagi yang berhak.
Ada rasa hormat yang muncul saat kita melihat perempuan yang menjaga privasi tubuhnya. Bagi sang suami, ada kebanggaan tersendiri memiliki pasangan yang hanya membagikan pesona fisiknya di ruang privat dan eksklusif.
Di mata saya, ketenangan yang terpancar dari seorang perempuan berabaya jauh lebih berkelas ketimbang mereka yang memamerkan lekuk tubuh demi validasi sesaat. Ia tidak butuh jeans ketat untuk terlihat modern; ia hanya butuh harga diri untuk terlihat abadi.
Apakah kalian juga merasakan kekuatan di balik keanggunan yang tertutup itu?








Tinggalkan Balasan ke Zahra Batalkan balasan