Saya bersyukur kepada Allah karena masih dapat menghadiri peringatan wafatnya Rasulullah. Manusia paling mulia yang jika kita sebut namanya, kita mendapatkan pahala. Bahkan mengeraskan suara di hadapan Rasulullah akan mendapatkan siksa. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
يَأيهَا الذِيْنَ ءامَنُوا لا تَرفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَبِيّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أعْمَالَكُمْ وَأنْتُمْ لا تَشْعُرُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara lebih dari suara Nabi. Janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (Q.S. Al-Hujurat: 2)
Orientalis mengatakan bahwa ayat ini tidak perlu lagi kita gunakan karena Nabi sudah wafat. Mereka lupa bahwa anak cucu Rasulullah masih ada. Sebagian mufasir mengatakan larangan mengangkat suara itu berlaku pula di hadapan sulalāturrasūl (para pewaris rasul).
Sekarang ini, orang yang berada di sekitar makam Rasul di Madinah itu dilarang berteriak. Pernah suatu ketika ada orang-orang Badui bercanda di hadapan makam Rasul. Riwayat menyebut Sayidina ‘Alī k.w. marah dan berkata, “Tidakkah kalian tahu bahwa di sini dikuburkan orang yang paling mulia sepanjang kehidupan manusia?”
Ayat di atas juga menggambarkan bahwa begitu mulia dan agungnya Rasulullah sehingga amal kita akan dihapus oleh Allah kalau kita mengangkat suara lebih tinggi dari suara nabi. Amal ibadah kita akan dihapus kalau kita menyamakan nabi dengan orang biasa. Itu sebabnya, mufasir mengatakan bahwa seseorang yang mencintai Rasul pasti akan mendapat surga.
Tadi sore saya merasa kurang enak badan. Namun ketika ditelepon untuk menghadiri acara ini, saya katakan, “Insyaallah saya datang.” Ini karena cinta saya kepada Rasul. Di awal acara, qari membacakan ayat:
محمد رَسُوْلُ الله والذِيْنَ مَعَهُ أشِدّاءُ عَلَى الكُفَار رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكعًا سُجدًا يَبْتَغُوْنَ فَضْلاً مِنْ الله وَرِضْوَانًا سِيْمَاهُمْ في وُجُوْهِهِمْ مِنْ أثَرِ السُجُوْدِ
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (QS. Al-Fath: 29)
Ada sebuah riwayat yang menyebut, jika seseorang takut mati itu tandanya masih ada dosa. Namun kita ingin mati dengan mendapatkan syafaat dari Rasulullah. Karena itu, tadi sore saya katakan dalam hati, kalau saya mati dalam perjalanan atau dalam melaksanakan dakwah agar orang mencintai Rasul maka pasti saya menjadi umat Rasul. Pasti saya akan mati dalam keadaan syahid. Karena saya tahu mati itu suatu hal yang pasti.
Sayidina ‘Alī pernah ditanya, “Apa yang pasti di dunia ini?” Kemudian Sayidina ‘Alī bertanya balik, “Menurut engkau, apa yang pasti?” Orang itu mengatakan, “Yang pasti adalah terbitnya matahari besok.”
Sayidina ‘Alī kemudian berkata, “Kenapa engkau pastikan terbit matahari besok. Mengapa engkau begitu yakin?” “Karena itu setiap hari terbit.” Sayidina ‘Alī berkata, “Tidak, itu tidak pasti. Tapi yang pasti bahwa semua orang akan mati.”
Kalau kita sudah tahu bahwa kita akan mati maka seharusnya kita mempersiapkan diri untuk mati. Bagaiman caranya mempersiapkan diri? Sesuai dengan ayat dalam surah Al-Fath, kita bisa bersama dengan Rasulullah jika kita tegas terhadap orang-orang kafir.
Kalau kita lihat kondisi dunia sekarang, negara mana yang tegas terhadap orang-orang kafir? Saya tidak perlu mengajari hadirin sekalian. Mereka berani menghadapi orang-orang kafir walaupun musuhnya besar, kaya, dan kuat. Selain itu mereka berkasih sayang terhadap sesama.
Alhamdulillah kita masih tergolong mukmin yang saling berkasih sayang. Kita berharap mereka yang memelihara makam Rasul adalah orang-orang yang mau dan mencintai Rasul. Kita tidak ingin tanah suci itu dikuasai oleh orang-orang yang tidak cinta kepada Rasul dan keluarga Rasul.
Coba kita bayangkan, bagaimana ketika kita dikafan dan dikubur? Bersama siapa? Kita akan sendiri tanpa ada teman. Tidak ada orang yang bisa membantu kita. Pada saat itu yang membantu kita ialah amal kita sendiri. Hari ini ketika kita memperingati wafat Rasul, semoga menjadi amal yang akan membantu kita di kubur nanti.
Hadirin sekalian, orang-orang yang bersama Rasul itu mereka rukuk dan sujud, yaitu salat. Mereka menghendaki keutamaan dari Allah. Karena itulah, saya menganjurkan pada diri saya sendiri dan para hadirin, marilah kita pelihara salat kita. Mari kita mencintai Rasul. Mari kita tegas terhadap orang kafir dan sifat kekafiran. Mari kita saling kasih sayang.
Saya heran mengapa masih ada yang mengaku beragama Islam tapi tidak kasih sayang terhadap sesamanya. Masih ingin merusak. Masih ingin menghancurkan padahal tidak ada bedanya di antara mereka.
Pada tahun 1939, di Pulau Jawa terjadi perselisihan yang sangat keras antara kelompok yang mengaku ahlusunah dengan kelompok yang mengaku bukan ahlusunah. Kalau sekarang ini sudah berubah: kelompok Syiah dan kelompok sunnī. Saya heran mereka mengaku muslim; mengaku Al-Qur’an, kiblat, dan rasulnya sama tapi di antara mereka masih saling membenci. Padahal perintah ayatnya saling berkasih sayang.
Karena itu saya mengimbau kepada saudara-saudara muslim, jangan terpikir untuk selalu mencemooh dan mencela orang lain. Mencela orang lain sama dengan mencela diri sendiri. Memaki orang lain sama dengan memaki diri sendiri. Saya katakan ini di hadapan siapa saja. Di manapun saya ceramah di seluruh Indonesia, saya katakan Al-Qur’an mengajarkan ruhamā`u bainahum.
Saya terharu dengan acara ini karena jarang sekali kita memperingati wafatnya rasul. Kita seringnya memperingati maulid Rasul. Kalau maulid kita bersuka ria karena lahir seseorang yang paling mulia, tapi hari wafatnya kita bersedih. Kita bersedih karena sudah tidak ada orang yang memimpin kita lagi. Karena itu banyak orang berharap bisa mimpi bertemu Rasul.
Setiap kali saya pergi ke Madinah, berulang kali saya meminta, “Ya Allah, saya ingin mimpi bertemu Rasul.” Tapi tidak pernah mimpi Rasul. Saya kadang mimpi bertemu orang yang berpakaian Arab. Tapi bukan Rasul.
Karena itu kita semua patut bersedih. Kalau ayah kita saja meninggal kita bersedih. Tapi kalau Rasul yang meninggal, kita tidak pantas untuk tidak melakukan suatu kegiatan dengan memperingati wafatnya Rasul. Sehingga kita sadar bahwa kita pasti akan meninggal. Kalau kita sudah sadar bahwa kita pasti akan meninggal, insyaallah itu tanda-tanda yang baik buat kita. Kalau kita tidak yakin bahwa kita akan mati, barang kali kita perlu membaca riwayat tentang wafatnya Rasul.
Bapak dan ibu tahu, Rasul itu wafat setelah berulang kali malaikat datang untuk menyampikan pesan Allah. “Wahai Muhammad Rasulullah, maukah engkau diperpanjang umurmu?”
Rasulullah justru menjawab, “Tidakkah Allah berfirman: Mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (Q.S. Ala’râf : 34). Apa beda saya dengan manusia biasa?”
Sewaktu Rasulullah akan wafat, orang yang pertama beliau beri tahu adalah putrinya, Fāṭimah az-Zahra. Putri beliau inilah yang paling dekat dengan Rasul. Putri yang melahirkan cucunya, Sayidina Hasan dan Sayidina Husain, yang dianggap oleh Rasulullah sebagai anaknya.
Rasul memberi tahu, “Wahai Fāṭimah, sudah hampir sampai ajal saya.” Fāṭimah menangis dan air matanya jatuh di janggut Rasulullah. Rasulullah memeluk Fāṭimah, “Wahai Fāṭimah, jangan engkau menangis karena engkau bersamaku di surga.” Jadi orang yang paling dipastikan masuk surga itu hanya Fāṭimah az-Zahra.
Kemudian Rasulullah bertanya, “Mana suamimu? Sampaikan juga kepada ‘Alī agar dia yang memandikanku.” Kenapa Sayidina ‘Alī yang diminta memandikan? Karena beliaulah yang paling paham tentang aturan agama, paling tahu tentang keadaan Rasul, dan beliau yang paling tidak pernah ada dosa menyekutukan Allah.
Di antara sahabat Rasulullah, hampir semua pernah mensyarikatkan Allah. Sahabat yang empat, yang disebut khulafaurasyidin, Abū Bakar, ‘Umar, ‘Uṡman, pernah menyekutukan Allah. Sedangkan Sayidina ‘Alī tidak pernah menyekutukan Allah.
Dalam riwayat juga disebutkan bahwa Fāṭimah, karena kesedihannya, tidak berapa lama kemudian mengikuti jejak ayahnya.
Memperingati wafatnya Rasulullah sangatlah penting. Umat Islam mestinya sadar bahwa memperingati wafatnya Rasulullah adalah sangat baik untuk mengenang dan membimbing kita ke arah memahami tentang kematian.
Bapak dan ibu yang terhormat, satu lagi yang ingin saya sampaikan. Kalau kita menyebut nama Rasulullah, jangan kita menyebut nama “Muhammad” saja. Ada orang yang terkadang mengatakan “Itukan Muhammad”. Jangan! Allah memperingatkan kepada kita:
وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ
Janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain…
Kalau orang panggil nama saya hanya ‘Umar tidak masalah. Tapi orang panggil nama “Muhammad”, jangan hanya nama Muhammad. Sertai juga dengan selawat.
Di kalangan Syafii menyebut juga dengan “Sayidina” Muhammad ṣalallāhu ‘alaihi was-salām. Namun di kalangan mazhab lain ada yang tidak menyebutkan sayidina. Tidak masalah, tetapi jangan hanya menyebut Muhammad saja. Janganlah kita panggil beliau seperti nama saudara kita yang lain. Perbanyaklah selawat.
Ada satu riwayat tentang seseorang yang selalu mengambilkan air untuk Rasulullah. Pada suatu ketika sahabat itu diberi tahu oleh Rasulullah, “Saya sudah sangat berat. Kamu selalu mengambilkan air buat saya. Kalau saya mau berwudu engkau siapkan air.” Rasulullah kemudian bertanya, “Saya ingin balas. Apa yang engkau inginkan?”
Sahabat itu menjawab, “Saya ingin bersama Rasulullah di surga.” Terhentak Rasulullah. Orang ingin bersama dengan Rasulullah di surga. Rasulullah mengatakan, “Bantu saya untuk bersama-sama kita nanti di surga.” Salah satu riwayat mengatakan, “Perbanyak zikir.” Riwayat lain mengatakan, “Perbanyak selawat.” Jadi kalau kita ingin masuk surga bersama Rasulullah, mari kita perbanyak selawat.
Baiklah bapak dan ibu yang terhormat… karena saya sudah lelah, mengingat umur saya yang sudah 70 tahun, alhamdulillah… Saya mohon maaf kalau tidak bisa memenuhi harapan bapak dan ibu sekalian.
Tapi yakinlah bahwa saya selalu bersama dengan bapak dan ibu, dan insyaallah kita akan bersama-sama dengan Rasulullah di surga. Karena kita semua cinta kepada beliau, mengagungkan dan membesarkan beliau. Terima kasih dan mohon maaf.
Pentranskrip: Ali Reza Aljufri © 2009. Ceramah disampaikan oleh Dr. Umar Shihab dalam peringatan haul Rasulullah ﷺ tanggal 28 Safar 1430 H di Islamic Cultural Center, Jakarta.













Tinggalkan Balasan ke serbagratisbuku Batalkan balasan