Saat ini kita hidup di era derasnya informasi. Setiap orang berlomba-lomba berteriak di media sosial, sampai-sampai kita seolah lupa bagaimana cara mendengarkan dengan baik. Padahal kemagisan seseorang itu terkadang bukan terletak pada kata-kata yang diucapkan, melainkan pada jeda keheningan di antaranya.
Masih ingat kisah ribuan tahun lalu yang dialami oleh manusia suci bernama Sayidah Mariam atau Bunda Maria?
Puasa Terberat
Ketika Sayidah Mariam kembali ke kaumnya sambil menggendong bayi ‘Īsā tanpa seorang suami, bisakah kita membayangkan serbuan caci maki yang diterimanya? Tuduhan keji dilemparkan masyarakat tanpa bertanya dan mencari tahu cerita sesungguhnya. Perasaan Sayidah Mariam pastilah sedih. Hatinya hancur dan dia terpojok.
Mungkin jika terjadi di masa sekarang, kita akan menyuruhnya untuk bicara dan mengatakan, “Belalah diri kamu!” Tapi dalam Al-Qur’an, Allah tidak menyuruhnya melawan dan mendebat para penuduhnya. Sayidah Mariam justru berkata, “Sungguh aku bernazar puasa untuk yang Maha Pengasih maka aku tidak akan berbicara dengan manusia siapa pun hari ini.”
Puasa bicara (imsak lisan) sering kali jauh lebih menyiksa dari pada puasa makan dan minum. Ketika ego kita sebagai manusia menjerit ingin membela diri dan membalas, Sayidah Mariam memilih untuk diam. Diam karena memasrahkan diri pada pembelaan dari Allah membutuhkan kekuatan iman dan spiritualitas yang tinggi.
Emas di Keramaian
Ada sebuah pepatah Arab yang kerap kita dengar: Jika berbicara itu perak, maka diam adalah emas. Namun menurut Khalīl Al-Mūsawī dalam Kaifa Tataṣarruf bi Ḥikmah, tidak semua diam akan berkilau seperti emas. Cendekiawan tersebut membagi diam ke dalam tiga jenis:
- Diam karena tafakur dan hikmah.
- Diam dari amar makruf nahi mungkar—lari dari kebenaran.
- Diam sebagai penyakit—karena trauma, rasa malu ekstrem, atau lingkungan.
Diam jenis pertama adalah emas yang sesungguhnya. Seseorang yang sadar bahwa langsung berbicara tidak akan segera dapat diterima; tidak mengubah pendirian seseorang; dan akhirnya tidak mencapai tujuan atau maksud utamanya.
Diam seperti itulah yang dipraktikkan oleh Alamah Muhammad Husayn Tabataba’i, penulis Tafsir Al-Mīzān. Syekh Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi dan murid lainnya bersaksi bahwa Alamah nyaris tidak bersuara di majelis. Dia mengunci lisannya rapat-rapat. Namun saat ditanya dan mulai berbicara, seluruh semesta seolah tunduk menyimak kedalaman ilmunya.
Seolah seperti apa yang pernah Rasulullah saw. sabdakan, “Jika engkau melihat seorang mukmin diam, dekatilah. Karena dia akan menyampaikan hikmah.”
Secara ilmiah, diam jenis ini ternyata baik untuk kesehatan. Sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal Brain, Structure and Function berkesimpulan: berada dalam keheningan total memicu neurogenesis, yakni pembentukan sel-sel otak baru di area hippocampus yang berkaitan dengan memori.
Perak di Kezaliman
Diam juga memiliki batasnya. Diam saat melihat kemungkaran ketidakadilan adalah sebuah tragedi. Ketika kezaliman merajalela dan penguasa bertindak sewenang-wenang, diamnya seorang manusia, terlebih ulama, adalah pengkhianatan terhadap nurani publik. Pada titik ini, berbicara adalah sebuah kewajiban suci. Rasulullah dengan tegas menyatakan:
أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر
Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim.
Kewajiban tersebut berlaku untuk siapa saja yang memiliki keberanian. Jika kita menjadi anggota ormas, partai, atau mungkin pegawai pemerintahan yang menyaksikan kezaliman, diamnya kita merupakan persetujuan terselubung atas aksi ketidakadilan tersebut. Bersuara adalah sedikit bukti bahwa kita masih memiliki nurani.
Semoga kecenderungan kita sebagai seseorang yang pendiam, merupakan diamnya Sayidah Mariam yang bertawakal, diamnya Alamah Tabataba’i yang memancarkan hikmah, dan bukan diamnya para pengecut di hadapan kezaliman.








Tinggalkan Balasan ke lapasionara Batalkan balasan