Membuka ponsel pada hari Minggu terasa berat tidak seperti biasanya. Berita yang beredar satu hari sebelumnya, terkonfirmasi keesokan paginya. Nama itu muncul berulang-ulang: Ayatullah Khamenei. Satu kata yang mendahului namanya bukan hanya sayid yang mempertegas jalur nasabnya sebagai keturunan nabi, namun juga syahid.

Dunia tetap berjalan seperti biasa, perang pun masih berlanjut. Tapi di dalam dada ini seolah ada yang berhenti.

Melintasi Batas Negara

Banyak orang menyikapi berita itu dengan kacamata politik. Mereka melihatnya sebagai pemimpin tertinggi Iran, tokoh Syiah, atau figur yang kontroversial di media Barat. Tapi bagi saya pribadi—dan sebagian minoritas muslim lain—figur Sayid Ali Khamenei tidak pernah sesederhana label politik.

Ketika saya baru lahir, Sayid Ali Khamenei berada di periode akhir masa jabatannya sebagai presiden ketiga Iran. Sementara kesehatan Imam Khomeini mulai menurun, beliau menyiratkan untuk dilanjutkan oleh Khamenei.  Satu hari setelah Imam Khomeini wafat, Dewan Para Ahli (Majles-e Khobregan) yang berisi para mujtahid memilih Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Juni 1989.

Dalam konstitusional Iran, beliau adalah Rahbar-e Mo’azzam (Supreme Leader). Posisi ini berada di atas presiden yang mengelola pemerintahan sehari-hari. Namun seorang Rahbar memiliki otoritas strategis: menetapkan garis besar haluan negara, komando tertinggi angkatan bersenjata, hingga keputusan krusial mengenai damai dan perang.

Konsep yang menjadi fondasinya adalah velayat-e faqih—wilayah kepemimpinan seorang fakih dalam hukum Islam. Kepemimpinan spiritual tersebut tidak hanya mengikat warga negara Iran. Dalam tradisi muslim Syiah, kepemimpinan umat secara langsung tidak boleh kosong. Meski konsep ini memiliki perdebatan di kalangan ulama, namun secara teoritis dan akliah terdapat kebutuhan akan otoritas moral dan hukum di masa kegaiban imam ahlulbait.

Selain itu, beliau adalah seorang marja’ taqlid, tempat rujukan spiritual bagi jutaan muslim Syiah yang risalah amaliah dan  fatwa keagamaannya diikuti oleh masyarakat di luar Iran.

Melawan Firaun Modern

Pengaruh paling kuat dari Sayid Ali Khamenei yang melewati batas negara dan lintas mazhab adalah sikap politiknya. Beliau konsisten dalam melawan kebijakan Amerika Serikat dan entitas Israel serta pembelaannya terhadap Palestina. 

Dalam salah satu pidatonya, Syahid Ali Khamenei mengatakan, “Konfrontasi yang sudah berlangsung selama lebih dari 40 tahun ini bisa disederhanakan dalam beberapa kalimat: mereka ingin menguasai Iran dan Republik Islam adalah penghalang. Mereka ingin kembali ke era Pahlevi.”

Kebijakan tersebut sangat kontras dengan banyak pemimpin negara Arab yang membungkukkan badan di hadapan Barat. Mereka pasrah menerima dibangunnya pangkalan militer Amerika Serikat dan menormalisasi hubungan dengan Israel. Sedangkan Syahid Ali Khamenei menjadi arsitek di balik axis of resistance yang menentang presensi arogansi Amerika Serikat dan Israel di kawasan.

Keberanian ini yang membuat Firaun modern yang diwakili oleh presiden Amerika Serikat bingung dan heran. Imam Khomeini pernah mengatakan, “Kenapa orang-orang yang memiliki Tuhan harus takut? Jika kita bekerja di jalan Tuhan, kekuatan apa yang dapat menakuti kalian? Takut menjadi syahid? Apakah meraih kesyahidan itu mengerikan?”

Kita Menjadi Saksi

Bagi Imam Khomeini yang menjadi pendahulunya, menjadi syahid sesederhana berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik. “Saya tidak mengatakan akan menaklukkan mereka (Amerika Serikat), tapi keimanan kita mengalahkan mereka. Kita memiliki logika yang sama seperti awal kemunculan Islam: jika kita melawan para penindas, surga untuk kita; namun jika kita terbunuh oleh mereka, kita tetap menuju surga,” katanya.

Ayat Al-Qur’an yang menjamin bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu tidaklah mati bahkan hidup bukan sekadar meromantisme kematian. Ayat tersebut menegaskan bahwa kehidupan bukan sekadar biologis dan fisik semata. Kesyahidan dalam tradisi Islam merupakan puncak komitmen.

Kita yang hidup di dunia akan menjadi saksi bagaimana seorang alim rabani bersahaja yang lahir dari tradisi pesantren Islam Syiah berdiri tanpa pernah takut terhadap hegemoni Firaun modern. Syahid Ali Khamenei tanpa pernah lelah mengingatkan tentang persatuan umat Islam namun “sebagian negara Islam merasa jika ingin bertahan maka harus bersandar pada Amerika. Padahal jika kita bersatu, perasaan seperti itu tidak ada… dan persatuan ini menjadi kekuatan terbesar di dunia.”

Kesyahidan Sayid Ali bukan sekadar berita biasa namun menjadi pengingat bahwa keimanan menjadi fondasi bagi sikap politik seseorang. Dunia boleh berbeda pendapat tentangnya. Tetapi keberanian Syahid Ali Khamenei sampai usia 86 tahun untuk berdiri tegak di tengah tekanan global adalah pelajaran yang akan terus hidup selamanya, meskipun berita sedih pagi ini akan tergantikan oleh berita-berita baru.

Satu tanggapan untuk “Jejak Pemimpin Tauhid hingga Syahid”

  1. mohammad safari Avatar
    mohammad safari

    Alfatihah

Tinggalkan Balasan ke mohammad safari Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Hi 👋🏻

Baca cerita dan pengalaman yang lain di sini.

Be Part of the Movement

Saya berbagi pengalaman dan pandangan—straight to your inbox.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨