Jejak Pemimpin Tauhid hingga Syahid

Membuka ponsel pada hari Minggu terasa berat tidak seperti biasanya. Berita yang beredar satu hari sebelumnya, terkonfirmasi keesokan paginya. Nama itu muncul berulang-ulang: Ayatullah Khamenei. Kini, satu kata yang mendahului namanya bukan hanya sayid yang mempertegas jalur nasabnya sebagai keturunan nabi, namun juga syahid.

Dunia tetap berjalan seperti biasa, perang pun masih berlanjut. Tapi di dalam dada ini seolah ada sesuatu yang berhenti.

Melintas Batas Negara

Banyak orang akan menyikapi berita itu dengan kacamata politik. Mereka melihatnya sebagai pemimpin tertinggi Iran, tokoh Syiah, atau figur yang kontroversial di media Barat.

Tapi bagi saya pribadi—dan sebagian minoritas muslim lain—figur Ayatullah Ali Hosseini Khamenei tidak pernah sesederhana label politik.

Ketika saya baru lahir, Sayid Ali berada di periode akhir masa jabatannya sebagai presiden ketiga Iran. Saat kesehatan Imam Khomeini mulai menurun, beliau menyiratkan untuk dilanjutkan oleh Sayid Ali Khamenei.  Satu hari setelah Imam Khomeini wafat pada tahun 1989, Dewan Para Ahli (Majles-e Khobregan) yang berisi para mujtahid memilih Sayid Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Dalam konstitusional Iran, beliau adalah seorang Rahbar-e Mo’azzam (Supreme Leader). Posisi ini berada di atas presiden yang “hanya” mengelola pemerintahan sehari-hari. Namun seorang Rahbar memiliki otoritas strategis: menetapkan garis besar haluan negara, komando tertinggi angkatan bersenjata, hingga keputusan krusial mengenai damai dan perang.

Konsep yang menjadi fondasinya adalah velayat-e faqih—wilayah kepemimpinan seorang fakih dalam hukum Islam. Kepemimpinan spiritual tersebut tidak hanya mengikat warga negara Iran. Dalam tradisi muslim Syiah, kepemimpinan umat secara langsung tidak boleh kosong. Meski konsep ini memiliki perdebatan di kalangan ulama, namun secara teoritis dan akliah terdapat kebutuhan akan otoritas moral dan hukum di masa kegaiban imam ahlulbait.

Tak hanya itu, beliau adalah seorang marja’ taqlid, tempat rujukan spiritual bagi jutaan muslim Syiah yang risalah amaliah dan fatwa keagamaannya diikuti oleh masyarakat di luar Iran.

Melawan Firaun Modern

Pengaruh paling kuat dari Sayid Ali Khamenei yang melewati batas negara dan lintas mazhab adalah sikap politiknya. Sejak awal beliau selalu konsisten dalam melawan kebijakan Amerika Serikat dan entitas Israel serta pembelaannya terhadap Palestina. 

Dalam salah satu pidatonya, Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Konfrontasi yang sudah berlangsung selama lebih dari 40 tahun ini bisa disederhanakan dalam beberapa kalimat: mereka ingin menguasai Iran dan Republik Islam adalah penghalangnya. Mereka ingin mengembalikan era kekuasaan Pahlevi.”

Kebijakan tersebut tentu sangat kontras dengan banyak pemimpin negara Arab yang tanpa malu membungkukkan badan di hadapan kekuatan dan uang Barat. Mereka pasrah menerima dibangunnya pangkalan militer Amerika Serikat dan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Namun Sayid Ali justru menjadi arsitek di balik axis of resistance yang menentang presensi arogansi Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Keberanian inilah yang membuat Firaun modern yang diwakili oleh presiden Amerika Serikat bingung dan heran.

Dulu, Imam Khomeini pernah berkata, “Kenapa orang-orang yang memiliki Tuhan harus takut? Jika kita bekerja di jalan Tuhan, kekuatan apa yang dapat menakuti kalian? Takut menjadi syahid? Apakah meraih kesyahidan itu mengerikan?”

Kita Menjadi Saksi

Bagi Imam Khomeini yang menjadi pendahulunya sekaligus guru Sayid Ali, menjadi syahid sesederhana berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik. “Saya tidak mengatakan akan menaklukkan mereka (Amerika Serikat), tapi keimanan kita mengalahkan mereka,” katanya.

Ayat Al-Qur’an yang menjamin bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu tidaklah mati bahkan hidup, bukanlah sekadar ayat yang meromantisme kematian. Firman Allah tersebut justru menegaskan bahwa kehidupan bukan hanya dilihat dari fisik atau biologis semata. Kesyahidan dalam tradisi Islam merupakan puncak komitmen.

Kita yang hidup di dunia hari ini akan menjadi saksi bagaimana seorang alim rabani bersahaja yang lahir dari tradisi pesantren Islam Syiah berdiri tanpa pernah takut terhadap hegemoni Firaun modern.

Syahid Ali Khamenei juga tanpa pernah lelah mengingatkan tentang persatuan umat Islam namun “sebagian negara Islam merasa jika ingin bertahan maka harus bersandar pada Amerika. Padahal jika kita bersatu, perasaan seperti itu tidak akan pernah ada… dan persatuan ini menjadi kekuatan terbesar di dunia.”

Kesyahidan Sayid Ali bukan sekadar berita biasa namun menjadi pengingat bagi kita bahwa keimanan merupakan fondasi bagi sikap politik seseorang. Dunia boleh berbeda pendapat tentangnya. Tetapi keberanian Syahid Ali Khamenei sampai usia 86 tahun untuk berdiri tegak di tengah tekanan global adalah pelajaran yang akan terus hidup selamanya.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Satu tanggapan untuk “Jejak Pemimpin Tauhid hingga Syahid”

  1. mohammad safari Avatar
    mohammad safari

    Alfatihah

Tinggalkan Balasan ke mohammad safari Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect

“Saya berharap seluruh masa hidup ini saya jalani untuk mewujudkan persatuan kaum muslim dan kematian yang akan saya alami juga demi persatuan kaum muslim.”

— Ayatullah Ali Khamenei