Orang yang paling kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika dia sedang marah. Mungkin hadis itu yang ada di pikiran seorang pemuda 24 tahun yang baru saja terciduk oleh agen rahasia. Pemuda ini bukan penjahat, bukan juga pemberontak bersenjata. “Kesalahannya” ialah meneruskan pesan Imam Khomeini kepada rakyatnya sendiri.
Nama pemuda itu, kelak dikenal sebagai Ayatullah Sayid Ali Khamenei.
Malam sebelum penangkapan
Cerita bermula tak lama setelah rezim Pahlavi mengirim pasukan untuk menyerbu Madrasah Feyzieh di Qom. Menjelang Muharam, Imam Khomeini mengirim pesan kepada ulama di berbagai provinsi: manfaatkan mimbar dan majelis untuk mengingatkan umat tentang bahaya yang mengancam negeri.
Khamenei muda dipercaya menjadi kurir pesan gurunya tersebut kepada ulama Mashhad. Dalam perjalanan, ia singgah di Birjand, lalu naik mimbar selama beberapa malam untuk berceramah sampai kemudian ditangkap. Tak lama kemudian dia mendengar kabar jika Imam Khomeini turut ditangkap.
Mashhad mencekam
Di tengah kekacauan, Khamenei muda dibawa ke markas Divisi 12 Khorasan. Tempatnya ialah gudang yang dalam sekejap diubah menjadi ruang tahanan darurat. Manouchehr Hashemi, kepala SAVAK wilayah Khorasan, mencatatkan tuduhan resmi terhadapnya: menghasut rakyat melawan keamanan dalam negeri.
Khamenei muda baru pertama kali merasakan sebagai tahanan. Namun dia sudah mendengar desas-desus bagaimana SAVAK kerap mempermalukan para rohaniwan dengan mencukur paksa janggut memakai silet, tanpa busa maupun air.
Cara itu bukan hanya serangan terhadap fisik namun juga psikologis. Dilatih oleh CIA, SAVAK memakai metode penghancuran identitas diri (identity deconstruction) sebagai senjata utama rezim otoriter untuk mematahkan perlawanan tahanan politik.
Tawa yang mengejutkan musuh
Ketika tukang cukur datang bersama para serdadu, Khamenei sudah bersiap menerima yang terburuk. Namun begitu tangan tukang cukur menyentuh wajahnya, muncul rasa lega. Ayatullah Khamenei bercerita, “Betapa senangnya saya. Secara spontan saya tertawa dan berbicara kepada tukang cukur dan para serdadu. Mereka terkejut mengapa seorang ulama yang janggutnya telah dicukur justru menjadi senang.”

Ketegangan yang harusnya mengiringi momen itu berbalik menjadi cair. Khamenei lalu meminta cermin kepada tukang cukur. Mereka semua tertawa. Khamenei muda melihat wajahnya sendiri yang tidak dikenali dengan baik.
Ketika selesai, seorang petugas masih tetap berusaha untuk memancing amarah Khamenei, berteriak dengan bahasa mengolok-olok, “Hei syekh! Mereka sudah memotong janggut kamu.”
Ayatullah Khamenei, dengan suara yang sama kerasnya, berkata: “Iya! Alhamdulillah! Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya saya bisa melihat dagu sendiri,” jawabnya sambil tertawa.
Tidak seperti ulama lain yang melawan ketika janggutnya akan dicukur, Khamenei muda memilih sikap yang berbeda dan memilih meruntuhkan ketegangan psikologis yang dibangung SAVAK. Dan humor bisa menjadi salah satu mekanisme pertahanan ego (coping mechanism) yang efektif dalam membalikkan dominasi kekuasaan.
“Saya tidak melakukan perlawanan. Saya sudah siap karena saya tahu melawan tidak ada gunanya. Tangan dan kaki saya ditarik kemudian mereka memukul. Lalu apa yang seharusnya tidak terjadi… terjadi juga,” kenangnya.
Kemenangan yang tak terlihat
Dua atau tiga hari kemudian, SAVAK melepaskan seluruh tahanan, termasuk Khamenei. Dia pulang ke rumah ayahnya dengan kepala dan janggut yang telah dicukur habis. Bagi banyak orang mungkin terasa memalukan. Namun ibunya menyambutnya bukan dengan rasa iba namun bangga, sambil berkata, “Engkau adalah kebanggaan keluarga.”
Musuh kecewa dan gagal karena tidak ada amarah yang tersisa dalam diri Khamenei. Tidak pula kesedihan yang berlarut. Mereka berharap melihat seorang ulama muda hancur secara mentaltapi justru sebaliknya: seseorang yang menolak memberi reaksi yang diinginkan penindasnya.
Jauh sebelum revolusi Islam Iran benar-benar meletus, kemenangan kecil semacam inilah yang justru menjadi fondasi ketahanan mental sebuah bangsa—dan mengingatkan kita bahwa penindasan sering kali gagal tepat ketika korbannya menolak untuk merasa kalah.









Tinggalkan komentar