Kamis, 10 Maret 2009. Aku menulis sebuah notes di Facebook mengenai daftar universitas yang ingin kujadikan tempat melanjutkan pendidikan. Menggunakan Google Earth, aku “berkeliling dunia” membayangkan bisa belajar di Iran.
Pada urutan pertama, aku menulis Fakultas Ekonomi Universitas Tehran. Kedua, Universitas Shahid Beheshti. Ketiga, Universitas Imam Sadiq. Tujuan keempat, sebagai alternatif, berada di Malaysia; ironisnya merupakan negara favorit mahasiswa Iran untuk berkuliah.
Selasa, 1 Oktober 2013. Empat tahun lebih berlalu dan aku menuliskan cerita ini saat sedang berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Tehran. Alhamdulillah, cita-cita untuk—setidaknya—tiba di negeri ini terwujud.
Tapi… aku memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Mungkin, jika kamu sudah lahir saat itu, kamu akan mengatakan, “Apa Aba sudah gila?!”
Aku akan bercerita mengapa aku menyerah. Semoga kamu bisa melihat sisi negatifnya dan tidak meniru, atau mengambil sedikit positifnya, jika ada, agar kamu tidak juga menyerah dalam kondisi apapun.
Dimulai dari keberangkatan hingga tulisan ini aku buat, selalu ada masalah yang kutemui. Tentu, bukan berarti aku tidak menyadari bahwa segala sesuatu ada rintangannya.
Bahkan sebelum berangkat ke Iran, aku sudah dinasihati beberapa orang yang seharusnya membuatku lebih bersabar: salah satu problem yang akan muncul di negeri Persia ini adalah birokrasi.
Beberapa orang Iran yang aku temui juga mengakui kerumitan itu. Ada yang mengatakan, “Di sini memang begitu. Kamu harus datangi kantor fulan setiap hari.” Guruku di kelas bahasa Persia bahkan mengatakan, “Semua itu bukan kesalahan sistem atau komputer. Memang ada oknum yang malas untuk menekan tombol.”
Lucunya, orang Indonesia yang pro segala-sesuatu-tentang-Iran mengatakan bahwa semua “kesulitan” itu dilakukan untuk menyulitkan mata-mata asing.
Sejak awal mendaftar, tidak pernah ada kepastian berangkat, sampai kemudian tiba-tiba aku dikirimkan tiket Qatar Airways satu arah. Itupun aku tidak dibekali dengan surat resmi dari Kementerian Sains dan Ristek Iran. Sampai kemudian di Iran, aku baru menyadari adanya kesalahan jenis visa.
Selama di Qazvin dan Tehran, jumlah beasiswa yang diberikan tidak pernah diketahui persis jumlahnya. Berkas ijazah yang dikirim dari Indonesia ke Iran juga hilang. Saat cerita ini kutulis, aku belum mendapatkan asrama resmi untuk mahasiswa asing.
Bisa dikatakan, lebih dari separuh waktu dan energi selama berada di sini hanya berurusan dengan proses administrasi. Ada banyak cerita dan tentunya melelahkan jika harus dikisahkan kembali dari awal.
Empat tahun lalu saat bersemangat untuk belajar di sini, aku mengira bahwa seluruh universitas di Iran mengajarkan tentang bidang pendidikan S-1 yang aku pelajari. Iran merupakan negara dengan pasar keuangan syariah terbesar di dunia.

Aku bukan orang Indonesia pertama yang memiliki rencana awal untuk belajar tentang ekonomi dan keuangan syariah di sini. Meski demikian, aku menjadi orang pertama karena berkesempatan untuk mencoba jurusan bânkdâri eslâmi (perbankan syariah)—jurusan yang baru dibuka sekitar tahun 2010—di universitas nomor wahid Iran.
Ada beberapa hal yang membuat aku (dianggap) gila, mudah menyerah, tidak tahan banting karena memutuskan untuk meninggalkan pendidikan di sini.
Ketika masalah visa muncul, aku dan beberapa teman sempat diminta untuk pulang ke Indonesia dan mengambil kembali visa pendidikan dari kedutaan Iran di Jakarta. Tentu pemerintah Iran tidak akan membiayai ongkos itu.
Saat periode awal dinyatakan diterima di Universitas Tehran, aku belum diberikan kartu mahasiswa, uang makan, dan asrama sehingga terpaksa bolak balik Tehran-Qazvin untuk bisa menghadiri kelas. (Terima kasih Kang Purkon Hidayat diizinkan untuk menumpang sejenak!)
Sedikit contoh dari banyaknya masalah administrasi dan urusan teknis—yang seharusnya tidak menjadi urusan rutin mahasiswa yang memiliki niat awal untuk belajar—jelas membuat aku dan mahasiswa asing lain kehilangan semangat untuk belajar di Iran.
Mahasiswa asing lain yang mengalami kekecewaan ingin kembali ke negara masing-masing. Perbedaannya, di antara mereka ada yang tidak mempunyai pilihan lain. Misalnya, mahasiswa asal Suriah dan Irak yang negaranya masih mengalami perang, tentu mereka tidak akan pulang.
Aku berangkat ke Iran bersama dengan dua orang mahasiswi. Dalam kurun waktu satu tahun, aku menjadi mahasiswa Indonesia ketiga yang meninggalkan pendidikan di tengah jalan, dan menyusul orang keempat.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk keluarga yang harus mengirimkan uang karena beasiswa tidak turut datang, aku meminta masukan dari keluarga, tempat kerja, dan juga teman-teman.
Meski mereka memberikan lampu hijau untuk kembali, aku merasa belum mantap. Lalu untuk pertama kalinya, aku melakukan ibadah istikharah. Dengan banyaknya pertimbangan, keputusan untuk meninggalkan pendidikan di sini tidaklah mudah, bahkan berat.
Aku berterima kasih sekaligus memohon maaf kepada keluarga, rekan, dan teman-teman yang telah mengorbankan materi, tenaga, dan waktu. Aku memang menyerah dan kalah di Tehran, tapi aku harap kalian, anak-anakku, tidak menyerah dan kalah di manapun kalian berada.
Tinggalkan Balasan ke Hesty Batalkan balasan