Di tengah kobaran perang Suriah yang panjang dan melelahkan, muncul satu pertanyaan yang lebih menyesakkan daripada dentuman bom: ke mana arah revolusi ini sebenarnya berjalan? Bahkan, Syekh Muแธฅammad Abลซl-Hudฤ Al-Ya’qลซbฤซ, cendekiawan dan ulama sunnฤซ Suriah terkemuka, dalam tulisannya bertanya, “Apakah perang terhadap ahlusunah telah dimulai?”
Apakah perang untuk membersihkan Syam dari makam para wali dan orang-orang saleh sudah dimulai?
Apakah revolusi rakyat Suriah telah berubah arah dari kebangkitan melawan penindasan, tiran, dan kejahatan menjadi perlawanan terhadap “syirik dan kemusyrikan” di antara pengikutย ahlusunah yang membolehkan ziarah dan bertawasul kepada para wali?
Apakah revolusi ini telah menjadi peluang bagi berbagai mazhab, sekte, dan kelompok untuk memaksakan keyakinan dan pendapat mereka dengan kekuatan?
Bumi Syam dan warisannya
Di Syam, berbagai firkah dan kelompok saling bertoleransi selama berabad-abad; apakah revolusi datang untuk menghapus sejarah terkemuka ini?
Kita mencegah rezim dari mengobarkan perlawanan sektarian; tapi kemudian, akankah kita dihanguskan oleh api perang sektarian yang dinyalakan oleh sekelompok orang di barisan revolusi?
Begitu juga, apakah kelompok ini benar-benar bergabung dengan revolusi untuk menjatuhkan rezim atau untuk meraih agenda mereka sendiri dengan memaksakan keyakinan dan dogma melalui kekerasan dan senjata
Tampaknya kecurigaan ini terbukti dan revolusi telah melenceng dari arahnya. Makam wali Muhammad Jarabeh telah diledakkan oleh Jabhat An-Nusra. Sebuah tindakan yang bukan hanya melukai masyarakat sekitar, tetapi juga perasaan umat Islam di Syam.
Makam yang selama puluhan tahun diziarahi dihancurkan atas nama “pemurnian akidah”. Sebagian kelompok menilai ziarah dan tawasul sebagai bentuk penyimpangan, sementara mayoritas umat Islam di Suriah mengenalnya sebagai tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama besar.
Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran yang tidak kecil. Banyak orang mulai bertanya: apakah revolusi telah dibajak oleh kelompok yang ingin memaksakan tafsir agama mereka dengan senjata? Jika benar demikian maka Suriah menghadapi bahaya yang jauh lebih dalam daripada sekadar perang politik.
Dendam yang sulit padam
Selama berabad-abad, Syam dikenal sebagai tanah yang dihuni berbagai mazhab dan corak pemikiran Islam. Di sana hidup berdampingan kaum Syafiโi, Hanafi, Asyโari, Maturidi, kaum sufi, hingga kelompok salafi. Perbedaan tidak selalu berarti permusuhan.
Tradisi ilmu di negeri itu justru tumbuh karena keberagaman pandangan yang saling berdialog. Karena itu, ketika makam para wali dihancurkan atas nama agama, banyak warga merasa bahwa yang sedang diruntuhkan bukan hanya bangunan, melainkan sejarah panjang toleransi di Suriah.
Sebagian kalangan memang menganggap tawasul dan ziarah kubur sebagai perkara yang tidak dibenarkan. Namun banyak ulama besar ahlusunah membolehkan praktik tersebut selama tidak melampaui batas syariat.
Nama-nama seperti Imam Nawawi, Imam Ghazali, Ibnu Hajar al-Asqalani, hingga Ibnu Abidin disebut sebagai ulama yang menerima tawasul dan penghormatan kepada orang-orang saleh. Perbedaan pendapat itu sudah berlangsung sejak lama dan tidak pernah selesai dengan kekerasan.
Karena itu, penghancuran makam wali bukanlah dakwah, melainkan pemaksaan keyakinan. Ketika sebuah pandangan dipaksakan melalui ledakan dan senjata, maka yang lahir bukan kesadaran, tetapi dendam. Dendam sektarian, sekali menyala, sulit dipadamkan.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan munculnya perang internal di tengah rakyat yang sebelumnya bersatu menghadapi rezim. Api sektarian selalu bermula dari tindakan yang tampak kecil, lalu membesar menjadi luka sosial yang diwariskan lintas generasi. Sejarah Timur Tengah telah berkali-kali menunjukkan betapa mahal harga yang harus dibayar ketika perbedaan mazhab dijadikan alat permusuhan.
Seruan penting terakhir
Syam bukan hanya wilayah geografis. Ia adalah rumah bagi para ulama, hafiz Al-Qur’an, ahli fikih, dan orang-orang saleh yang dihormati lintas generasi. Di tanah itu, makam wali bukan sekadar kuburan, tetapi simbol hubungan spiritual masyarakat dengan sejarah dan agamanya. Ketika simbol itu dihancurkan, masyarakat merasa kehilangan sebagian dari identitas mereka sendiri.
Karena itu, banyak suara menyerukan agar seluruh pihak yang terlibat dalam revolusi menolak tindakan ekstrem semacam ini sebelum semuanya terlambat. Sebab ketika kebencian mulai dilegalkan atas nama agama, perang tidak lagi memiliki batas. Ia akan menghanguskan siapa saja, bahkan mereka yang awalnya merasa paling benar.
Syekh Muแธฅammad Al-Ya’qลซbฤซ menutup tulisannya dengan menyampaikan, “Saya telah menyampaikannya. Ya Allah, saksikanlah!”
Oleh karena itu, pertanyaan yang belum terjawab di tengah reruntuhan perang Suriah ialah: apakah yang sedang diperjuangkan benar-benar kebebasan, atau justru kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya?










Tinggalkan komentar