Penyebutan Nama Imam Ali dalam Azan
Kutanyakan kepada Sayid Shadr tentang Imam Ali, kenapa namanya diucapkan dalam azan dengan sebutan waliullâh. Beliau menjawab, “Amirul Mukminin Ali as. adalah di antara hamba Allah yang dipilih oleh-Nya untuk meneruskan tanggung jawab mengemban risalah setelah para nabi-Nya. Mereka adalah para wasi (pengemban wasiat—eja.) Nabi. Setiap nabi memiliki wasi, dan wasi Nabi Muhammad saw. adalah Ali bin Abi Thalib. Kami mengutamakannya atas semua sahabat karena Allah dan rasul-Nya mengutamakannya. Dan kami mempunyai dalil akli dan nakli, Alquran dan sunah dalam hal ini. Dalil-dalil ini tidak dapat diragukan kebenarannya, lantaran bersifat mutawatir dan sahih dalam jalur sanad kami, dan hatta dalam jalur sanad ahlusunah waljamaah. Para ulama kami telah menulis berbagai buku tentang hal ini.
Ketika pemerintahan Bani Umayyah coba menghapuskan kebenaran ini dan memerangi Amirulmukminin Ali dan anak-anaknya serta membunuh mereka bahkan mencaci dan melaknatnya di atas mimbar-mimbar kaum muslimin serta memaksa mereka untuk berbuat serupa, melihat ini maka Syiah Ali dan para pengikutnya, semoga Allah meridai mereka, tetap mengikrarkan bahwa beliau adalah waliullah, karena seorang muslim yang sejati dilarang mencaci waliullah. Hal ini dilakukan sebagai bantahan mereka terhadap penguasa yang zalim saat itu hingga kemuliaan yang sebenarnya dapat dikembalikan kepada Allah, rasul-Nya dan orang-orang mukminin saja; dan biarlah ia wujud sebagai bukti sejarah kepada segenap kaum muslimin yang datang berikutnya, agar mereka tahu tentang kebenaran Ali dan kebatilan musuh-musuhnya.”
“Para fukaha kami mengatakan bahwa syahadat kepada wilayah Ali di saat azan adalah sunah semata-mata, dan dengan niat bahwa ia bukan bagian dari azan atau ikamah. Apabila seorang muazin menganggap bahwa itu adalah bagian dari azan dan ikamah maka azannya dianggap tidak sah. Dan hal-hal sunah dalam ibadah dan muamalat banyak sekali jumlahnya. Seorang muslim akan diberi ganjaran jika melakukannya dan tidak akan berdosa apabila meninggalkannya. Sebagai contoh, dalam suatu hadis disebutkan bahwa usai mengucapkan syahadat kepada Allah dan Muhammad dalam azan, disunahkan juga bersyahadat (bersaksi) bahwa surga itu adalah benar; neraka itu adalah benar; dan Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya.”
Kukatakan bahwa para ulama kami mengajarkan bahwa Sayidina Abu Bakar al-Shiddiq adalah khalifah yang paling utama, kemudian Sayidina Umar al-Faruq, Sayidina Utsman baru kemudian Sayidina Ali, semoga Allah meridai mereka semua. Sayid diam sejenak. Kemudian berkata: “Mereka boleh berkata apa saja tetapi jauh sekali untuk bisa membuktikannya secara valid. Di samping ia bertentangan dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab mereka yang sahih dan muktabar. Di sana tertulis bahwa manusia yang paling utama adalah Abu Bakar, kemudian Utsman. Tidak ada kata-kata Ali sama sekali. Justru Ali dijadikan sebagai manusia awam semata-mata. Namun para ahli sejarah juga menyebutnya lantaran menyebut-nyebut para khulafa rasyidin saja.”
Tanah Turbah
Aku tanyakan juga tentang tanah yang digunakan untuk sujud, atau yang biasa disebut dengan Turbah Husainiyah. Beliau menjawab: “Pertama-tama wajib diketahui bahwa kami bukan sujud kepada tanah, seperti yang disangka oleh mereka yang benci pada Syiah, tapi kami sujud di atas tanah. Sujud hanya untuk Allah semata-mata. Apa yang terbukti secara dalil bagi kami dan juga di sisi ahlusunah bahwa yang utama adalah sujud di atas tanah atau di atas sesuatu yang tumbuh dari tanah, tapi bukan sejenis dari bahan makanan. Selain dari itu tidak sah sujud di atasnya. Dahulunya Rasulullah saw. duduk di atas tanah dan menjadikan sebongkah tanah sebagai tempat sujudnya. Beliau juga mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya demikian juga sehingga mereka sujud di atasnya, dan di atas batu-batu kecil. Baginda melarang mereka sujud di atas ujung bajunya. Hal ini diketahui sangat lumrah sekali di sisi kami.”
“Imam Zainal Abidin Ali bin Husain a.s. mengambil tanah dari kuburan ayahnya Abu Abdillah Husain al-Syahîd sebagai turbahnya. Ini karena tanahnya bersih dan suci dan telah disiram oleh darah Sayid Syuhada (penghulu para syahid). Para Syiahnya meneruskan kebiasaan ini sehingga ke hari ini. Kami tidak mengatakan bahwa sujud di atas selainnya bermakna tidak sah. Sujud akan sah di atas sebarang tanah atau sebarang batu yang suci, sebagaimana ia juga akan sah sujud di atas tikar atau tempat ambal yang dibuat dari pelepah kurma dan sejenisnya.”
Peringatan Asyura
Kutanyakan lagi tentang peringatan Sayidina Husain as,, kenapa Syiah menangis dan memukul-mukul dada sehingga berdarah? Bukankah ini haram di dalam Islam. Nabi juga telah bersabda, “Bukan dari golongan kami mereka yang memukul-mukul pipi dan mengoyak-ngoyak baju serta melakukan seperti perbuatan jahiliah.”
Sayid menjawab, “Hadis itu memang sahih, tapi ia tidak dapat diterapkan untuk peringatan Abu Abdillah Al-Husain. Mereka yang menyeru pada perjuangan Husain dan mengikut jejaknya, perbuatan ini bukan sejenis perbuatan jahiliah. Lalu di dalam mazhab Syiah ada manusia yang beragam, ada yang alim dan ada juga yang jahil. Kesemua mereka mempunyai rasa emosi. Jika di dalam mengingat kesyahidan Husain dan apa yang terjadi kepada keluarganya serta para sahabatnya—yang dibunuh atau yang ditawan—lalu perasaan emosinya menguasai mereka, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Karena niat mereka adalah fi sabilillah semata-mata. Dan Allah memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya sekadar niatnya masing-masing.
Seminggu yang lalu saya membaca suatu kenyataan resmi dari pemerintahan Mesir sempena kematian Gamal Abdul Nasir. Dikatakan bahwa mereka telah mencatat delapan kasus bunuh diri karena mendengar kematian Gamal Abdul Nasir. Ada yang menerjunkan diri dari atas bangunan yang bertingkat; ada yang menerjunkan diri ke bawah rel kereta api dan sebagainya. Adapun mereka yang terluka jumlahnya cukup banyak. Ini saya sebutkan sebagai contoh bagaimana emosi manusia kadang-kadang bisa menguasai manusia itu sendiri.
Jika manusia muslim sampai membunuh diri lantaran kematian Gamal Abdul Nasir, padahal dia mati secara wajar, maka tidak ada hak bagi kita untuk menghukumi bahwa ahlusunah adalah salah. Dan tidak ada hak bagi ahlusunah juga menghukumi saudara-saudara mereka dari syiah salah lantaran menangisi Sayyid al-Syuhada Al-Husain. Mereka meratapi penderitaan Husain sampai sekarang. Rasulullah sendiri pernah menangis untuk Husain, dan Jibril juga menangis karena tangisnya Rasulullah.”
Bangunan Masjid dengan Emas

“Kenapa Syiah menghiasi kuburan wali-wali mereka dengan emas dan perak sementara ia haram di dalam Islam?” Tanyaku lagi. “Ini tidak hanya ada di dalam syiah dan juga tidak haram. Lihatlah masjid-masjid saudara kami dari golongan ahlusunah, di Irak, Mesir, Turki atau negara-negara Islam yang lain. Rata-rata dihiasi dengan emas dan perak. Begitu juga dengan masjid Rasulullah saw. di Madinah al-Munawarah dan Baitulharam di Mekah yang setiap tahun dipakaikan dengan perhiasan emas yang baru dengan perbelanjaan berjuta-juta. Ini tidak hanya ada pada mazhab Syiah saja.”
Tabaruk
“Ulama-ulama Saudi berkata bahwa mengusap tangan di atas kubur, minta doa dari orang-orang yang saleh serta mengambil berkat dari mereka semua itu adalah syirik kepada Allah. Bagaimana pendapat Anda dalam hal ini?”
“Jika mengusap tangan di atas kubur dan menyebut nama-nama penghuninya dengan niat bahwa mereka memberi manfaat atau mendatangkan mudarat (kerugian), maka tak diragukan lagi ia berbuat syirik. Orang-orang muslim adalah orang yang muwahhid (bertauhid) dan mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat atau mudarat. Mereka menyeru para wali dan imam as. semata-mata sebagai wasilah atau perantara mereka kepada Allah Swt. Ini tidak syirik. Kaum muslimin, suni dan Syiah, sepakat dalam hal ini sejak zaman Rasul sehingga sekarang. Melainkan Wahabi atau ulama-ulama Saudi seperti yang Anda sebutkan. Mereka telah melanggar ijmak kaum muslimin dengan mazhab mereka yang baru muncul di abad ini. Mereka telah memfitnah kaum muslimin dengan akidah mereka ini, mengkafirkan mereka dan bahkan menghalalkan darah mereka. Para jemaah haji Baitullah Haram dipukul lantaran mereka berkata: Assalamu Alaika Ya Rasulullah. Tidak diperkenankan siapapun untuk menyentuh kuburan suci Nabi Muhammad saw. Mereka telah berdiskusi dengan ulama kami beberapa kali, tapi mereka tetap sombong untuk menerima kebenaran.”

“Sayid Syarafuddin, seorang di antara ulama Syiah ketika pergi haji ke Baitulharam di zaman raja Abdul Aziz al-Saud, adalah di antara ulama ke istana raja untuk merayakan Hari Raya Iduladha bersama raja. Ketika tiba gilirannya untuk bersalaman dengan raja, dihadiahkannya kepada raja sebuah mushaf Alquran yang bersampul kulit binatang. Raja menerima hadiah mushaf tersebut lalu diciumnya dan diletakkannya di atas dahi sebagai tanda penghormatan dan pentakziman. Sayid Syarafuddin kemudian berkata ketika itu: “Wahai Raja, kenapa Anda mencium kulit dan mengagungkannya. Bukankah ia hanya berupa kulit kambing, tidak lebih?” “Yang kumaksudkan adalah pentakziman kepada Alquran yang ada di dalamnya, bukan kepada kulit ini,” jawab Raja.
Sayid Syarafuddin berkata: “Anda bijak, wahai raja. Begitulah juga ketika kami mencium pintu-pintu kuburan nabi atau dinding-dindingnya. Kami tahu bahwa itu semua adalah besi yang tidak memberi sembarang manfaat atau mudarat. Kami bermaksud mencium orang yang ada di balik besi dan kayu-kayu itu. Kami bermaksud mentakzimkan Rasulullah saw., sebagaimana Anda bermaksud mentakzimkan Alquran dengan mencium kulit kambing yang membungkus Alquran ini.”
“Para hadirin mengucapkan takbir sebagai tanda kagum atas sayid ini. Mereka berkata: anda benar, anda benar. Akhirnya raja terpaksa mengizinkan para jemaah haji untuk melakukan tabaruk (mengambil berkat) dari peninggalan-peningalan Nabi saw. sehingga datang raja berikutnya dan kemudian dilarang kembali.”
“Perkara yang sebenarnya bukan karena mereka takut kaum muslimin akan syirik kepada Allah. Tetapi disana ada motivasi politik untuk menguasai kaum muslimin dan memperkuat kerajaan mereka. Sejarah adalah sebaik-baik bukti atas apa yang mereka lakukan terhadap umat Muhammad saw. ”
Aku tanya juga tentang tarikat-tarikat Sufi. Jawabnya singkat, “Ada yang positif dan ada juga yang negatif. Yang positif seperti membina diri dan mendidiknya untuk sederhana di dalam hidup dan bersikap zuhud atas kenikmatan-kenikmatan dunia serta melatih diri untuk berangkat tinggi ke alam ruh yang suci. Sementara yang negatif seperti menyendiri dan lari dari realitas kehidupan, terbatas hanya berzikir kepada Allah secara lafzi dan sebagainya. Islam seperti yang diketahui mengabsahkan yang positif dan membuang jauh-jauh yang negatif. Kita layak mengatakan bahwa semua prinsip Islam adalah positif.”











Tinggalkan komentar