Seorang teman bertanya, “Kenapa orang Iran memperingati Asyura dengan melukai diri pakai pedang?” Saya bersyukur dia bertanya tanpa langsung menyimpulkan sesuatu yang keliru. Dia baru saja melihat potret mengerikan tradisi Asyura di Irak atau Pakistan: pria berpakaian hitam, menggenggam pedang, dengan darah segar mengucur membasahi kepala dan tubuh.
Selama bertahun-tahun, foto yang menampilkan orang berlumuran darah saat Muharam diedarkan secara luas di internet. Bagi mereka yang tidak memahami latar belakangnya, gambar tersebut menimbulkan kesan bahwa seluruh muslim Syiah identik dengan praktik menyakiti diri sendiri.
Namun, ada sejarah agung yang tereduksi menjadi sekadar foto atau video mengerikan.
Kekuatan sebuah gambar
Satu gambar dapat membentuk opini jutaan orang. Visual aksi ekstrem bersimbah darah, atau yang dikenal dengan istilah qameh zani, kerap menjadi komoditas empuk media yang fobia terhadap Syiah. Aktivitas tersebut mereka sajikan sebagai “ritual” Syiah dengan judul provokatif “bukti kesesatan Syiah”.
Sebuah gambar yang menjadi senjata ampuh untuk menyerang kredibilitas Syiah. Akibatnya, lahirlah kesan bahwa Syiah adalah kelompok yang identik dengan kekerasan dan pengikutnya gemar melukai tubuh. Masyarakat awam bukan hanya heran namun juga jijik sebelum kemudian emosinya membawanya pada kesimpulan sesat.
Bukan cuma media Barat yang mendistorsi fakta. Media yang mengklaim islami juga ikut menciptakan narasi fatal. Mereka lebih memilih menampilkan gambar kontroversial dan viral, serta menutup lensa untuk sisi lain keagamaan muslim Syiah: salat berjamaah, majelis munajat dan doa, kegiatan sosial donor darah, hingga pengajian yang penuh khusyuk.
Ayatullah Khamenei pernah menjelaskan fenomena paradoks ini merujuk pada era penindasan komunis terhadap Azerbaijan. Rezim Soviet berusaha memusnahkan segala warisan Islam. Mereka melarang muslim melakukan salat berjemaah atau membaca Al-Qur’an.
Bagi rezim anti-tuhan saat itu, qameh zani adalah instrumen terbaik untuk menampilkan wajah Islam yang primitif dan menakutkan kepada dunia. “Mereka hanya perbolehkan qameh zani karena itu adalah alat propaganda anti-agama dan anti-Syiah,โ kata Ali Khamenei.
Ajaran agama atau tradisi?
Sejumlah ayatullah, seperti Khomeini, Ali Khamenei, ‘Alฤซ As-Sistฤnฤซ, Muแธฅammad Bฤqir al-แนขadr, Muแธฅammad แธคussein Faแธlallฤh dan banyak ulama besar Syiah secara terbuka mengkritik praktik melukai diri dan konsisten menegaskan bahwa hal itu bukanlah ajaran pokok agama.
Mereka sendiri tidak melakukannya dan mencegah pengikutnya untuk mempraktikkan karena tradisi itu tidak mewakili esensi pesan Asyura.
Menurut peneliti, praktik itu lebih karena pengaruh budaya lokal dan ekspresi emosional atau psikologis masyarakat tertentu dibandingkan ajaran agama yang memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Budaya lokal yang dimaksud diperkirakan berasal dari Kufah, sebuah kota yang penduduknya pernah mengkhianati Imam แธคusain. Setelah tragedi Karbala, mereka mengalami rasa bersalah yang kronis (historical guilt) karena tidak membantu keluarga Nabi. Ekspresi kesedihan dan penebusan mereka termanifestasi dalam bentuk melukai diri.
Karena itu, menganggap seluruh Syiah mendukung praktik tersebut sama kelirunya dengan menilai ajaran agama Islam dan perilaku umatnya berdasarkan perilaku segelintir orang.

Duka yang mendalam
Selain budaya, ada juga faktor psikologis yang mendorong mengapa praktik semacam itu muncul. Pada 10 Muharam tahun 61 H, cucu Nabi Muแธฅammad ๏ทบ, yakni แธคusain bin ‘Alฤซ, bersama keluarga dan para sahabatnya dibantai secara keji di Karbala. Tragedi tersebut seperti luka yang tak pernah kering.
Berdasarkan studi psikologi sosiokultural, ekspresi kedukaan publik yang ekstrem sering kali lahir dari katarsis emosional kolektif atas trauma sejarah masa lalu. Hari ini, ketika pecintanya mengingat cucu Rasulullah dipenggal, ketika membayangkan penderitaan keluarga nabi, akal sehat orang awam lumpuh oleh rasa sedih yang mendidih.
Dalam psikologi modern, kesedihan yang sangat kuat atau histeria bisa mendorong seseorang melakukan tindakan irasional. Ketika para pengagum Gamal Abdul Nasir mendengar kematiannya, ada lebih dari delapan kasus bunuh diri yang terjadi karena rasa duka mendalam.
Begitu pula dengan penggemar yang pingsan ketika melihat artis atau penyanyi secara langsung atau melakukan tindakan ekstrem ketika mereka kehilangan sosok yang mereka idolakan.
Emosi manusia memang tidak mengenal batasan logika. Namun kesedihan mendalam tetap tidak menjadikan tindakan tersebut sebagai bagian dari ajaran agama.
Teladan keluarga nabi
Jika merujuk kepada riwayat sejarah, tidak ditemukan keterangan bahwa Nabi Muแธฅammad ๏ทบ melukai dirinya ketika kehilangan orang-orang tercinta, seperti Khadฤซjah, Abลซ แนฌฤlib, maupun putranya, Ibrฤhฤซm.
Begitu pula ketika Rasulullah wafat. Tidak ditemukan riwayat yang menunjukkan bahwa ‘Alฤซ bin Abฤซ แนฌฤlib, แธคasan bin ‘Alฤซ, atau แธคusain sendiri melakukan tindakan melukai diri sebagai bentuk duka cita.
Bahkan dalam berbagai riwayat, แธคusain berpesan kepada keluarganya agar tidak melakukan tindakan berlebihan ketika dirinya gugur di medan Karbala. “Janganlah kalian robek pakaian, jangan pukul wajah, dan jangan ucapkan yang tidak semestinya,” katanya.
Itu sebabnya, Imam ‘Alฤซ Zainal-‘ฤbidฤซn yang menyaksikan langsung pembunuhan ayahnya, tidak meninggalkan catatan sejarah tentang perilaku ekstrem tersebut. Pesan tersebut menjadi landasan bagi banyak ulama yang menolak segala bentuk penyiksaan atas nama kecintaan kepada ahlulbait.
Makna Asyura
Bagi mayoritas muslim Syiah, Asyura bukanlah tentang darah yang mengalir dari tubuh, melainkan tentang air mata yang mengalir dari hati. Peringatan ini dihidupkan melalui pembacaan sejarah Karbala, doa, refleksi spiritual, sedekah, dan komitmen untuk membela kebenaran sebagaimana yang telah diperjuangkan แธคusain.
Hal itu juga sejalan dengan sabda Nabi ๏ทบ yang disepakati ahlusunah dan Syiah: โแธคusain dariku dan aku dari แธคusain.โ Hadis ini menunjukkan kedudukan istimewa แธคusain dalam Islam sekaligus mengingatkan bahwa mengenang Karbala seharusnya membawa manusia lebih dekat kepada nilai keadilan, kesabaran, dan ketakwaan.
Pada akhirnya, memahami suatu kelompok melalui foto-foto ekstrem adalah cara yang tidak adil untuk mencari kebenaran. Sebab kenyataan hampir selalu lebih luas, lebih dalam, dan lebih manusiawi daripada apa yang terlihat di permukaan.









Tinggalkan komentar