Jalan-jalan Kufah dipenuhi isak tangis. Orang-orang yang sebelumnya mengirim surat kepada Imam Ḥusain bin ‘Alī a.s. kini berdiri sebagai penonton dari tragedi yang tidak mungkin dihapus dari sejarah Islam. Di hadapan mereka berdiri seorang wanita yang baru saja kehilangan saudara, keponakan, sepupu, dan sahabat terdekatnya di Karbala.
Wanita itu adalah Sayidah Zainab binti ‘Alī a.s.
Dengan keberanian yang melampaui ketakutan manusia biasa, beliau menyampaikan khutbah yang mengguncang hati penduduk Kufah. Zainab menyeru agar mereka menangis sebanyak-banyaknya, karena dosa pengkhianatan terhadap cucu Rasulullah ﷺ tidak akan mudah dilupakan.
“Demi Allah! Menangislah kalian karena kalian pantas melakukannya. Ya, banyaklah menangis dan sedikitlah tertawa sebab kalian telah mencoreng diri kalian sendiri dengan kelalaian membunuh imam zamannya. Noda ketidakadilan yang menumpahkan darah saudaraku ada di kening kalian dan tidak akan pernah bisa kalian bersihkan.”
Dalam sejumlah riwayat, Sayidah Zainab juga mengingatkan mereka tentang tanda luar biasa yang menyertai tragedi tersebut.
“Dengan membunuh Imam kalian, kalian memikul tanggung jawab atas kehinaan, kesedihan dan perilaku yang mengerikan. Mengapa kalian ragu setelah hujan darah turun dari langit? Ingatlah! Sungguh azab Allah di akhirat kelak akan lebih pedih dan keras…”
Luka Karbala
Peristiwa Karbala pada 10 Muharam 61 H bukan sekadar peperangan kecil di padang pasir Irak. Bagi jutaan muslim, khususnya pecinta ahlulbait, tragedi ini merupakan titik balik sejarah yang memperlihatkan pertarungan antara kekuasaan politik dan prinsip moral.
Imam Ḥusain as., cucu Nabi Muhammad ﷺ, menolak memberikan baiat kepada penguasa yang dianggap menyimpang dari nilai-nilai Islam. Keputusan itu membawanya bersama keluarga dan sahabat menuju Karbala, tempat mereka dikepung, kehausan, dan akhirnya dibantai.
Rasulullah ﷺ sendiri telah menyampaikan kedudukan istimewa Ḥasan dan Ḥusain dalam banyak hadis yang diterima oleh ulama sunnī maupun Syiah. “Ḥasan dan Ḥusain adalah penghulu para pemuda penghuni surga,” kata nabi. Karena itu, wafatnya Imam Ḥusain dipandang oleh banyak ulama sebagai salah satu tragedi terbesar dalam sejarah umat Islam.

Catatan Britania
Berabad-abad setelah peristiwa Karbala, penulis Hajis Hala dan Zaynab memperoleh cuplikan buku The Anglo-Saxon Chronicle dari seorang wartawan Teluk. Buku manuskrip sejarah Inggris kuno tersebut menyebutkan sebuah peristiwa pada entri tahun 685 M:
Pada tahun ini terjadi hujan darah di Britania; susu dan mentega berubah menjadi darah.
Catatan tersebut telah lama menjadi bahan diskusi para sejarawan Barat. Sebagian menafsirkannya sebagai fenomena alam yang kemudian digambarkan dengan bahasa simbolik khas abad pertengahan. Sebagian lainnya menghubungkannya dengan kejadian atmosfer tertentu yang menghasilkan hujan berwarna merah.
Namun bagi sebagian penulis muslim, terutama dalam tradisi kecintaan kepada ahlulbait, catatan ini menarik karena mengingatkan pada berbagai riwayat tentang “langit yang menangis darah” setelah syahadah Imam Ḥusain a.s.
Riwayat hujan darah
Dalam sejumlah kitab sejarah dan hadis Islam terdapat riwayat yang menyebutkan fenomena luar biasa setelah terbunuhnya Imam Ḥusain as. Tidak hanya penduduk langit yang menangisi Imam Husain, tapi juga langit seolah menangis untuknya dan hujan darah turun bagi orang yang dizalimi ini.
“Pada hari syahadahnya al-Ḥusain, langit hujan darah…” (Tsakhâir al-Uqba, hlm. 144, 145, 150; ash-Shawaiq al-Muhriqah, hlm. 116, 192)
“Tidak ada satupun batu yang diangkat kecuali di bawahnya terdapat darah…” (ash-Shawaiq al-Muhriqah, hlm. 116, 192; Tadzkirah al-Khawas, hlm. 284; Tafsir Ibnu Katsir, jil. 9, hlm. 162)
Kita sendiri tidak pernah tahu apakah yang turun benar-benar darah atau air berwarna merah yang menyerupai darah. Sebagian sejarawan modern memahaminya secara harfiah sebagai mukjizat atau tanda kosmis. Sebagian lainnya melihatnya sebagai ungkapan simbolik yang menggambarkan besarnya kesedihan umat atas wafatnya cucu Nabi.
Makna yang abadi
Terlepas dari bagaimana seseorang memandang riwayat hujan darah, satu hal yang sulit dibantah adalah besarnya pengaruh Karbala dalam sejarah manusia.
Imam Ḥusain as. gugur lebih dari 1.300 tahun lalu, namun namanya tetap disebut oleh jutaan orang setiap tahun. Pengorbanannya menjadi simbol perlawanan terhadap kezaliman, sedangkan Sayidah Zainab as. menjelma menjadi simbol keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
Mungkin karena itulah Karbala tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia terus hidup dalam ingatan umat, dalam air mata para pecintanya, dan dalam pertanyaan yang selalu relevan hingga hari ini: di saat kebenaran dan kekuasaan bertemu di persimpangan sejarah, di pihak manakah manusia akan berdiri?









Tinggalkan komentar