Berani Berkata “Saya Tidak Tahu”: Kunci Kejujuran dan Ilmu

Di ruang kuliah, beberapa mahasiswa yang sedang presentasi terlihat gelisah. Pertanyaan demi pertanyaan datang dari berbagai arah. Tema yang diangkat begitu sulit, sesulit memahami pertanyaan yang disampaikan. Sebagian memang bisa dengan mudah dijawab, sebagian lain begitu rumit hingga membuat suasana semakin tegang.

Ketika sebuah pertanyaan sulit diajukan, pemakalah mencoba menjawab seadanya. Kalimat yang keluar terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak benar-benar menjawab persoalan. Melihat itu, dosen menghentikan penjelasan mereka.

“Kamu ngerti enggak sebenarnya? Kalau tidak ngerti jawabannya bilang: tidak tahu,” kata dosen.

Kalimat itu membuat ruangan mendadak hening. Banyak dari kami akhirnya menyadari bahwa selama ini kami lebih takut terlihat bodoh daripada takut menyampaikan sesuatu yang keliru. Agar tidak malu di hadapan orang-orang, kita kerap mengabaikan kebenaran jawaban dan nekat menjawab pertanyaan.

Gengsi pengetahuan

Pengalaman seperti itu bukan hanya terjadi di ruang kuliah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa harus memiliki jawaban atas segala hal. Ketika ditanya sesuatu yang tidak dipahami, mereka berusaha menjawab apa pun yang terlintas di kepala.

Dorongannya sering kali bukan karena ingin membantu, melainkan karena tidak ingin kehilangan wibawa. Kita takut dianggap kurang pintar. Kita takut dipermalukan. Akhirnya, ego mengambil alih akal sehat.

Psikologi menyebutnya illusory superiority—kecenderungan manusia melebih-lebihkan kemampuan dirinya sendiri. Padahal, mengaku tidak tahu sering kali membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada memberikan jawaban asal-asalan.

Peringatan Al-Qur’an

Makalah para mahasiswa tadi membawa tema mengenai fikih. Dalam urusan agama, kesalahan informasi memiliki konsekuensi yang lebih serius. Al-Qur’an mengingatkan:

Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” (Q.S. An-Nahl: 116)

Ayat ini mengajarkan kehati-hatian dalam berbicara atas nama agama. Tidak semua hal harus dijawab. Tidak semua persoalan harus diberi fatwa. Ada saat ketika diam lebih mulia daripada berbicara tanpa ilmu.

Hikmah Imam ‘Alī

Dalam kitab Nahjul-Balāghah, pesan senada juga bisa kita temukan dalam nasihat Imam ‘Alī bin Abī Ṭālib:

وَلا يَسْتَحِين أحد مِنكُم إذَاسُئِلَ عَمّا لا يَعْلَم أن يقوْل: لا أعْلَم

Janganlah seseorang di antara kalian merasa malu mengatakan “Aku tidak tahu” terhadap sesuatu yang apabila dia ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya.

Nasihat ini menunjukkan bahwa kerendahan hati intelektual bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, ia adalah tanda kedewasaan berpikir.

Para peneliti menyebut sikap ini sebagai intellectual humility, yaitu kesadaran bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Orang yang memiliki sifat ini cenderung lebih terbuka terhadap fakta, lebih kritis dalam berpikir, dan lebih siap memperbaiki kesalahan ketika menemukan bukti baru.

Guru dan amanah

Bagi seorang guru, dosen, pendidik, atau penceramah, kemampuan mengatakan “saya tidak tahu” merupakan bentuk tanggung jawab moral.

Bayangkan seorang murid bertanya kepada gurunya. Karena tidak ingin kehilangan muka, sang guru memberikan jawaban yang salah. Jawaban itu kemudian dipercaya oleh banyak murid dan menyebar. Kesalahan kecil berubah menjadi kesesatan yang lebih besar.

Sebaliknya, ketika seorang guru berkata, “Saya belum mengetahui jawabannya, tetapi akan saya pelajari,” berarti dia sedang memberikan teladan tentang kejujuran ilmiah. Sikap seperti inilah yang menjaga ilmu tetap bersih dari kesombongan.

Ayatullah Ḥusain Maẓahirī pernah mengatakan bahwa para pelajar agama selalu berkata, “Mengatakan saya tidak tahu adalah setengah dari ilmu.”

Jalan untuk belajar

Menariknya, mengakui ketidaktahuan bukanlah akhir dari pengetahuan. Justru di situlah proses belajar dimulai. Imam ‘Alī melanjutkan nasihatnya dengan pesan yang tak kalah penting:

ولا يستحين أحد إذا لم يعلم الشيء أن يَتعلّمه

Janganlah seseorang merasa malu untuk mempelajari sesuatu yang tidak diketahuinya.

Ketidaktahuan yang disadari akan melahirkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu melahirkan pencarian, dan pencarian melahirkan ilmu.

Dalam film The Pursuit of Happyness, Chris Gardner mengatakan saat wawancara pekerjaan, “I’m the type of person that if you ask me a question and I don’t know the answer, I’m gonna tell you that I don’t know. But I bet you what, I know how to find the answer and I will find the answer.”

Kalimat itu bermakna: manusia tidak dituntut mengetahui segalanya, tapi dituntut untuk jujur dalam mengakui keterbatasan dan kesungguhan untuk terus belajar.

Keberanian sejati

Di zaman media sosial, ketika semua orang berlomba menjadi yang paling cepat berkomentar, kemampuan mengatakan “saya tidak tahu” justru menjadi semakin langka. Padahal, keberanian bukan terletak pada banyaknya jawaban yang kita miliki. Keberanian sejati terletak pada kesediaan mengakui batas pengetahuan kita.

Sebab dari kalimat sederhana “saya tidak tahu” atau stay foolish, lahir kerendahan hati. Dari kerendahan hati lahir pencarian. Dari pencarian itulah ilmu yang sesungguhnya bertumbuh.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

2 tanggapan atas “Berani Berkata “Saya Tidak Tahu”: Kunci Kejujuran dan Ilmu”

  1. jamel virgiawan Avatar

    kk blog na keren bgt

  2. agung ponco wibowo Avatar
    agung ponco wibowo

    Salam,

    Salam kenal mas,sangat indah blog blog anda,banyak ilmu yg saya dapat dari tulisan tulisan anda semoga keberkahan dan kemudahan selalu diberikan Allah untuk semuanya

Tinggalkan komentar