Pagi itu berjalan seperti biasa saja. Saya berangkat ke kampus dengan niat sederhana: mengambil bukti pembayaran SPP. Tidak ada firasat buruk, tidak ada kekhawatiran. Seperti hari-hari lainnya, saya naik bus Kowanbisata 510 jurusan Kampung Rambutan – Ciputat. Bus kuning yang oleh banyak orang sudah “punya reputasi” sendiri.
Ketika perhatian saya dialihkan saat turun bus, tangan refleks meraba tas. Lemas, dan saya sadar ada yang hilang. Handphone yang baru pertama kali saya bawa telah lenyap.
Saya berjalan menuju halte berikut sambil membaca kalimat yang pertama saya ingat: Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn—sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Kalimat itu seperti pengingat ampuh bagi hati yang hampir terguncang.
Kalimat itu pastinya tidak mengembalikan hape saya, tapi ia menenangkan sesuatu yang lebih penting: cara saya memandang kejadian itu.
Empat hari kemudian, kejadian serupa terulang. Kakak saya kehilangan handphone di bus TransJakarta. Dua handphone hilang dalam waktu kurang dari seminggu. Berita televisi menyiarkan peningkatan angka kejahatan di ibu kota. Secara logika, mudah sekali menyimpulkan: ini soal kriminalitas, kelalaian, atau bahkan nasib buruk.
Tapi saya merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar fakta tersebut.
Dalam Islam, musibah tidak selalu dipandang sebagai kejadian acak tanpa makna. Ada dimensi lain yang lebih dalam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Aapa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini memang terasa “tidak nyaman”. Karena ia mengajak kita berkaca untuk melihat ke diri kita sendiri. Bukan sekadar menyalahkan pencopet, sistem keamanan, atau keadaan kota—tetapi juga mengajak kita bertanya: adakah kontribusi diri kita sendiri, bahkan di masa lalu, yang menjadi sebabnya?
Pandangan ini memang tidak tunggal dalam tradisi Islam. Dalam teologi Abul-Hasan al-Asy’ari, misalnya, ada penekanan bahwa segala sesuatu pada akhirnya adalah ciptaan dan kehendak Allah. Sementara dalam perspektif lain, seperti yang sering dikaitkan dengan ajaran ahlulbait, ada penekanan lebih besar pada tanggung jawab moral manusia.
Imam ‘Alī ibn Abi Ṭālib pernah berkata sebagaimana direkakm dalam Nahjul Balāghah: “Berhati-hatilah terhadap dosa karena semua musibah dan kekurangan dalam masalah pendapatan, bahkan goresan pada tubuh, atau jatuhnya seseorang ke tanah disebabkan perbuatan dosa.”
Kalimat ini menusuk cukup dalam. Ia tidak menyederhanakan musibah, tetapi juga tidak membiarkannya kosong tanpa makna.
Saat itu, saya teringat potongan doa yang sering dibaca dalam Doa Kumail:
اَللّـهُمَّ اغْفِرْ لِي الذُّنُوبَ الَّتي تُنْزِلُ الْبَلاءَ
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.
Doa ini bukan sekadar permohonan, tapi juga pengakuan. Bahwa mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang perlu dibenahi. Bahwa musibah bisa menjadi cara Allah untuk mengingatkan—bukan melalui hukuman, tapi untuk menyadarkan.
Namun, di titik ini kita juga perlu berhati-hati. Tidak semua musibah bisa disederhanakan sebagai “hukuman”. Dalam banyak ayat lain, ujian juga disebut sebagai cara meningkatkan derajat manusia. Dalam Al-Baqarah ayat 155, Allah menyebutkan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, lapar, dan kehilangan.
Artinya, ada keseimbangan yang perlu dijaga: antara introspeksi dan tidak terjebak dalam rasa bersalah berlebihan.
Dari pengalaman kehilangan hape itu, saya tidak tiba-tiba menjadi lebih suci. Tapi ada satu hal yang berubah: cara saya memaknai kehilangan. Ia bukan lagi sekadar kerugian materi, tetapi juga pengingat spiritual.
Di dunia yang serba cepat ini, kita sering ingin semua berjalan sesuai rencana. Tapi kadang, justru dari hal-hal kecil yang “hilang”, kita menemukan sesuatu yang lebih besar: kesadaran.
Mungkin kita tidak bisa menghindari semua musibah. Tapi kita selalu punya pilihan—apakah akan memaknainya sebagai kebetulan yang pahit, atau sebagai pesan yang diam-diam mengajak kita untuk mengingat bahwa segala sesuatu akan kembali padanya. Mungkin, di situlah letak ketenangan yang sesungguhnya.








Tinggalkan komentar