Teladan Imam ‘Alī, Jalan Ikhlas Ilahi

Kebahagiaan bagi saya karena dapat berada di tengah orang-orang yang penuh dengan semangat dan kecintaan kepada ahlulbait. Begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada kita dan salah satunya ialah kecintaan kepada ahlulbait. Dengan kecintaan tersebut, insyaallah kita dapat meniru dan meneladani kehidupan mereka.

Cinta kepada Imam ‘Alī bin Abī Ṭālib adalah sebuah kebahagiaan bagi seluruh manusia di dunia ini. Keimanannya kepada Rasulullah ﷺ dan seluruh kehidupannya, baik memimpin atau tidak, adalah sebaik-sebaik teladan.

Dalam waktu yang singkat ini, saya akan mengungkapkan dua poin utama kehidupan Imam ‘Alī secara ringkas. Poin pertama akan bermanfaat bagi kehidupan pribadi kita, sedangkan poin kedua akan bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Poin Pertama. Pada saat Perang Khandaq, sejarah mencatat bahwa pukulan pedang Imam ‘Alī yang mengenai kepala ‘Amr bin ‘Abdu Wudd menjadikan kemenangan Islam atas kekafiran. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Pukulan pedang ‘Alī di hari Khandaq lebih utama dari ibadah ṡaqalain (seluruh jin dan manusia).” Ada dua pandangan dalam menafsirkan sabda Rasul tersebut.

Pandangan pertama, alasan mengapa pukulan tersebut lebih utama dari ibadah jin dan manusia karena tanpa pedang Imam ‘Alī saat itu maka kekafiran akan menang dan Islam tidak akan ada kecuali namanya saja. Dalam hal ini tentu benar, bahwa ketika tidak ada Imam ‘Alī saat itu dan Islam kalah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi muslim dan tidak ada yang akan beribadah kepada Allah.

Pandangan kedua tidak menyalahkan pandangan pertama, tapi ada hal lain yang harus dicari sehingga gerakan pedang Imam ‘Alī lebih utama dari ibadah jin dan manusia. Imam Khomeini termasuk yang memiliki pandangan kedua berikut ini.

Beliau mengatakan bahwa setiap tindakan manusia mendapat nilai di sisi Allah sesuai dengan: kadar ketulusan ketika melaksanakan dan kadar makrifat kepada Allah.

Karena keikhlasan dan makrifat Imam ‘Alī serta para imam ahlulbait berada pada tingkat yang tinggi, tentu pahala dari Allah sangat besar. Hal tersebut harus menjadi motivasi bagi kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Meski tingkat keikhlasan dan makrifat kita tidak sampai seperti mereka, namun kita harus tetap melangkah ke arah sana.

Poin Kedua. Salah satu yang dibanggakan setiap pencinta ahlulbait adalah bahwa Imam ‘Alī adalah Putra Ka’bah; karena dilahirkan dalam Ka’bah. Tentu tidak ada kebahagian lain di mana seseorang dilahirkan di tempat paling suci di atas muka bumi.

Namun rezim Bani Umayyah berusaha untuk mengingkari kejadian tersebut. Karenanya yang banyak orang tahu Imam ‘Alī lahir di rumahnya sendiri sama seperti yang lainnya. Namun apa yang mereka lakukan berakhir dengan kegagalan karena saat itu banyak sahabat Rasul yang masih hidup menyaksikan atau mendapat berita dari ayah mereka, sehingga mereka pun tahu.

Karena itu Bani Umayyah mengubah taktiknya dengan mengatakan, “Benar ‘Alī lahir di Ka’bah, tapi dia bukan satu-satunya.” Lalu dalam sejarah dibuatlah sekitar 7 atau 8 nama lain yang juga lahir di Ka’bah.

Mungkin Bani Umayyah memahami Ka’bah sebagai sebuah klinik, yang ketika setiap orang ingin melahirkan lalu akan datang ke sana. Ini adalah sesatu yang kita lihat dalam sejarah dan kehidupan kita. Awalnya mereka mengingkari, namun ketika gagal, barulah kemudian mengubah sejarah dengan mengatakan “bukan hanya ‘Alī” sehingga akan dianggap sama dengan yang lain.

Ada contoh lain. Sejarah juga mencatat ketika Imam ‘Alī Zainal-‘Ābidīn meraih kesyahidan (wafat), tahun tersebut oleh sejarah disebut sebagai tahun meninggalnya para fukaha. Sejarah menyebutkan beberapa fakih lain yang juga meninggal pada tahun itu dengan tujuan bahwa Imam tidak lebih atau sama kedudukannya dengan fakih lain yang meninggal satu tahun dengan beliau.

Upaya Meredam Iran

Peristiwa yang terjadi pada zaman dulu juga terjadi di zaman modern, khususnya pada yang terjadi pada Revolusi Islam Iran.

Pertama banyak yang mengingkari gerakan Imam Khomeini yang sebenarnya bermula dari hauzah (pesantren). Banyak yang mengatakan tidak ada gerakan atau kebangkitan apapun.

Namun setelah terdapat beberapa kejadian dan darah syuhada tertumpah, mulailah para musuh menempuh cara kedua dengan melakukan perang yang dipaksakan kepada Iran. Alhamdulillah mereka tidak berhasil dalam langkah yang kedua ini di mana mereka ingin menghabiskan Republik Islam, tapi perang yang dipaksakan [oleh Irak] tidak berhasil menjatuhkan dan mematikan Revolusi Islam.

Setelah wafatnya Imam Khomeini, musuh melakukan cara yang ketiga, dengan membandingkan Revolusi Iran dengan revolusi lainnya. Mengapa mereka melakukan hal itu? Jawabnya karena kemenangan Revolusi Iran tidak hanya berdampak pada masyarakat Iran saja, tapi pandangan Imam juga menyebar di seluruh dunia. Karena itulah mereka melakukan berbagai upaya dengan menciptakan kelompok di berbagai negara untuk menjelaskan bahwa revolusi di Iran adalah revolusi Syiah dan muslimin harus bangkit untuk melawannya.

Namun kita saksikan juga bahwa kelompok tersebut, meski awalnya anti kezaliman atau anti-imperialis, pada akhirnya mereka bergabung dengan hal dan tujuan yang sama dengan kaum imperialis.

Sampai kepada apa yang terjadi beberapa hari yang lalu di Hamas, kita juga tidak menyaksikan gerakan pada kelompok tersebut. Namun Republik Islam sejak awal revolusi sampai saat ini tetap komitmen untuk membantu penderitaan Palestina. Sebagaimana seluruh kaum muslimin sedunia mendukung perjuangan Palestina, dan ini adalah sebuah pelajaran penting bagi kaum muslimin agar sadar dan tidak salah langkah.

Di saat kaum muslimin berpegang teguh pada akidah dan keyakinan yang mereka percayai, pada saat sama kaum muslimin berkewajiban menjaga dan menjalin persatuan dengan yang lain. Harus kita sadari dan yakini bahwa seluruh tindakan kita di dunia ini nanti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah. Kalau saat ini kita tidak peduli pada penderitaan kaum muslimin, tentu di sana kita tidak bisa mengangkat kepala untuk menjawab di pengadilan Allah.

Kalau kita menelaah dan merenungi kehidupan Imam Khomeini—walaupun usia saya masih muda saat beliau hidup dan tidak bisa merekam banyak kehidupannya, tapi saya mendapat penuturan dari keluarga—bahwa setiap pekerjaan yang dilakukannya, Imam Khomeini selalu menekankan bagaimana menjadikan Allah rela dan bangga pada perbuatan kita.

Di akhir pembicaraan, saya akan sampaikan wasiat dari Imam Khomeini untuk seluruh manusia. Imam Khomeini selalu memesankan kepada para pejabat negara atau mereka yang akan masuk dunia politik, Imam menekankan agar mereka hendaknya membina dan membangun diri sendiri, membenahi dan meluruskan hubungan antara kita dengan Allah, baru lalu setelah itu kita jalinkan hubungan masyarakat dengan Allah.

Kalau segala yang disampaikan Imam akan langsung masuk ke dalam hati kita dan kepada setiap orang yang mendengar sehingga menyebar ke seluruh dunia, ketahuilah bahwa rahasianya adalah karena setiap langkah Imam Khomeini dilakukan demi keridaan dan ketulusan kepada Allah Swt.

Pada malam Jumat yang penuh berkah ini, semoga Allah Swt. mengumpulkan ruh suci Imam dan putra beliau serta para syuhada di mana pun mereka berada bersama Rasulullah.

Saya ucapkan terima kasih kepada hadirin yang mendengarkan dengan cermat apa yang saya sampaikan. Semoga Allah selalu memberikan kesuksesan pada kita dan jangan lupakan saya dalam doa Bapak dan Ibu sekalian.

Ceramah Sayid Yaser bin Ahmad Khomeini disampaikan pada peringatan 30 Tahun Revolusi Islam di Islamic Cultural Center pada 5 Februari 2009 diterjemahkan oleh Ust. Abdullah Beik dan ditulis ulang


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

2 tanggapan atas “Teladan Imam ‘Alī, Jalan Ikhlas Ilahi”

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect

“Saya berharap seluruh masa hidup ini saya jalani untuk mewujudkan persatuan kaum muslim dan kematian yang akan saya alami juga demi persatuan kaum muslim.”

— Ayatullah Ali Khamenei