Ruangan auditorium utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta siang itu dipenuhi mahasiswa dan dosen yang berdatangan. Mereka membawa satu pertanyaan: apakah agama masih relevan untuk membangun dunia modern? Di tengah arus globalisasi, teknologi, dan politik yang semakin rumit, pertanyaan itu semakin relevan.
Sebagian orang memandang agama hanya sebatas aturan halal-haram. Agama dianggap cukup selesai ketika seseorang menjalankan ibadah. Di sisi lain, ada kelompok yang memahami agama melalui pendekatan rasional dan filsafat. Ada pula yang menekankan dimensi spiritualitas dan tasawuf sebagai jalan utama menuju Tuhan.
Namun, ternyata agama jauh lebih luas daripada sekadar tiga pendekatan tersebut.
Dalam Seminar Internasional bertema Religion in Contemporary World, Yaser Khomeini—cucu Ayatullah Khomeini—menjelaskan bahwa kakeknya memandang agama sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh. Agama bukan hanya ritual, bukan sekadar pemikiran filosofis, dan bukan pula pengalaman spiritual pribadi semata.
Agama harus mampu membentuk manusia menjadi “manusia Ilahi”, yaitu manusia yang menghadirkan nilai ketuhanan dalam seluruh aspek kehidupan.
Kita perlu mengembalikan posisi agama pada tempat yang seharusnya, yaitu menciptakan manusia Ilahi yang akan menciptakan masyarakat Ilahi.
Yaser Khomeini
Pandangan itu lahir dari keyakinan bahwa agama harus hadir di tengah persoalan nyata masyarakat: ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, hingga hilangnya martabat manusia.
Bagi Imam Khomeini, salah satu ciri utama agama adalah keberpihakannya terhadap keadilan. Karena itu, beliau menolak dominasi kekuatan Timur maupun Barat melalui slogan lā syarqiyah lā gharbiyah, jumhuriyah islāmiyah—tidak Timur dan tidak Barat, hanya republik Islam. Dalam pandangannya, manusia tidak boleh tunduk kepada kekuatan zalim apa pun.
Menariknya, pemikiran tersebut juga menyentuh persoalan rakyat kecil dan hak perempuan. Ketika banyak pihak masih membatasi peran wanita di ruang publik, Imam Khomeini justru mendorong perempuan Iran untuk ikut menentukan arah bangsa. Ketika dulu wanita tidak memiliki suara dalam pemilu, Imam Khomeini “mengembalikan” hak tersebut bahkan wanita duduk di parlemen. Mereka diberi hak politik.
Selain itu, Imam Khomeini juga terus menyerukan persatuan umat Islam. Di tengah konflik mazhab dan perpecahan yang kerap dipelihara kepentingan politik, beliau memandang persatuan bukan sekadar strategi kekuasaan, tetapi bagian dari ajaran Islam itu sendiri.
Dalam seminar yang sama, Dr. Amien Rais menyampaikan pandangan yang tidak kalah menarik. Menurutnya, tuduhan bahwa agama menghambat kemajuan manusia lahir dari cara pandang sekular yang memisahkan agama dari kehidupan sosial. Padahal, di dalam Al-Qur’an, agama justru mendorong terciptanya peradaban yang lebih adil.
Amien Rais menyebut tiga hak dasar manusia yang dijamin agama: hak beribadah, hak mengatur kehidupan sosial, dan hak menjalankan amar makruf nahi mungkar. Ketiganya tidak mungkin berjalan baik tanpa adanya kekuatan sosial dan politik yang mendukung.
Untuk menjalani dua hal pertama, dibutuhkan kekuatan politik yang dapat menghadirkan Islamic State/khilafah, atau paling tidak negara dapat melakukan sharing of power terhadap agama. Hal itu perlu untuk menjamin ibadah dan mengelola kehidupan sosial.
Karena itu, dalam sejarah para nabi, ada dua tipe perjuangan. Pertama, nabi yang fokus menyampaikan risalah kepada umatnya. Kedua, nabi yang selain berdakwah juga melawan kekuasaan zalim di zamannya. Nabi Ibrahim menghadapi Namrud, Nabi Musa melawan Firaun, dan Nabi Muhammad menghadapi dominasi Quraisy.
Dari sini muncul satu pesan penting: agama seharusnya menghidupkan manusia, membangunkan keberanian moral, dan menghadirkan keadilan sosial.
Amien Rais memang tidak serta merta setuju jika jihad masuk menjadi rukun Islam. Tapi dia sangat menghargai pendapat itu. Imam Khomeini telah melakukannya dalam Revolusi Islam Iran yang melebihi Revolusi Perancis.
Pertanyaan besarnya kemudian adalah: sudahkah agama memainkan peran itu di Indonesia?
Kita hidup di negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi masih dihantui utang, korupsi, dan ketimpangan sosial. Ironisnya, agama sering kali berhenti pada simbol dan slogan, sementara kemiskinan, ketidakadilan, dan penyalahgunaan kekuasaan terus berlangsung.
Mungkin inilah tantangan terbesar umat beragama hari ini. Bukan sekadar mempertahankan identitas keagamaan, melainkan menghadirkan agama yang membebaskan manusia dari ketakutan, penindasan, dan ketidakadilan.
Sebab pada akhirnya, agama yang hidup bukan hanya agama yang terdengar di mimbar. Agama yang hidup adalah agama yang terasa manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.









Tinggalkan komentar