Memahami Ekonomi Islam dari Makna Dinul-Islam

Seorang pedagang kecil menutup kiosnya lebih awal. Hari itu penjualannya tidak terlalu baik. Sebelum pulang, ia duduk sejenak sambil merenungkan ucapan rekannya yang berdagang di sebelahnya. “Kalau sudah urusan duit, agama jangan ikut campur!” katanya sambil tertawa kecil. Kalimat itu memunculkan pertanyaan pada dirinya.

Apakah semua jual beli yang dia lakukan hari ini hanya soal mencari uang, atau ada nilai yang lebih besar yang sedang dia jalankan? Lalu, apa sebenarnya arti dari “agama”?

Makna agama sesungguhnya

Pertanyaannya terdengar sederhana. Namun kata “agama” ternyata lebih rumit dari yang kita kira. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), agama adalah sistem kepercayaan kepada Tuhan. Dictionary of Religion mencatat bahwa kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tradisi.” Adapun kata “religi” berasal dari bahasa Latin re-ligare, yang artinya “mengikat kembali kepada Tuhan.”

Dari berbagai definisi itu terdapat satu kesamaan: agama adalah urusan vertikal, yaitu sebagai jembatan antara manusia dan Tuhan. Tapi bagaimana menurut Islam?

Dalam tradisi Islam, terdapat istilah yang lebih luas, yaitu ad-dîn. Dan muatannya jauh lebih dalam dari sekadar ritual. Allah SWT berfirman:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan dîn-mu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu. (Q.S. Al-Maidah: 3)

Ayat ini bukan hanya tentang salat dan doa, tapi tentang sistem hidup yang utuh dan lengkap. Ad-dîn mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia: hubungan dengan Tuhan (hablun minallah) sekaligus hubungan dengan sesama (hablun minannas). Artinya, termasuk urusan lingkungan, masyarakat, bahkan tata kehidupan secara keseluruhan tidak terkecuali ekonomi dan keuangan.

Islam tidak hanya di masjid. Nilai-nilainya juga hadir di pasar, kantor, sawah, pabrik, hingga ruang-ruang pengambilan keputusan ekonomi.

Ekonomi sebagai ibadah

Dari sini kita bisa melihat dengan jernih: ekonomi Islam bukan hasil “islamisasi” teori ekonomi Barat. Ia merupakan sistem yang lahir bersamaan dengan turunnya risalah Islam kepada Nabi Muhammad saw.

Baqir as-Sadr dalam karya monumentalnya Iqtishaduna menegaskan bahwa Islam memiliki filsafat ekonominya sendiri yang berpijak pada nilai-nilai wahyu, bukan derivasi dari kapitalisme maupun sosialisme.

Bila ada konsep dalam ekonomi Barat yang selaras dengan Islam—misalnya keadilan distribusi atau pelarangan eksploitasi—bukan berarti Islam “meminjam” dari Barat. Sebab kebenaran itu memanglah universal.

Bahkan keadilan, kejujuran, amanah, larangan penipuan, dan larangan riba menjadi fondasi moral bagi aktivitas ekonomi manusia. Karena itu, ekonomi Islam bukan sekadar kumpulan produk keuangan yang diberi label syariah. Ia adalah cara pandang yang menempatkan aktivitas ekonomi sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut bahwa pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dalam Islam memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat.

Bank Islam, bukan syariah

Dalam konteks modern, salah satu institusi yang sering dikaitkan dengan ekonomi Islam adalah bank syariah atau bank Islam. Harus diakui bahwa bentuk kelembagaan perbankan modern tidak lahir secara langsung dari sejarah Islam klasik.

Tapi prinsip yang menjadi praktik dasarnya—seperti titipan, pembiayaan, dan kemitraan usaha—telah dikenal sejak masa awal Islam.

Karena itu, yang membedakan bank Islam dari bank konvensional bukan sekadar nama atau produk yang ditawarkan. Perbedaan utamanya terletak pada filosofi yang mendasarinya: keadilan, transparansi, kemitraan, serta keberpihakan kepada kemaslahatan bersama.

Pada akhirnya, ekonomi Islam bukan sekadar pembahasan tentang uang. Ia adalah upaya menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam aktivitas sehari-hari manusia.

Ketika seseorang berdagang dengan jujur, membayar pekerja secara adil, menghindari penipuan, dan mencari keuntungan tanpa merugikan orang lain, saat itulah ia sedang menjalankan bagian dari agamanya.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

5 tanggapan atas “Memahami Ekonomi Islam dari Makna Dinul-Islam”

  1. dede Avatar
    dede

    Hem…akyu setuju sekali Li, yang aku pahami juga kurang lebih mirip dengan apa yang dikau kemukakan. Bahwa titik tolak ekonomi islam itu berangkat dari ketauhidan, sedangkan kapitalisme (baca: ekonomi barat) bertolak dari utility marginal yang individualistik, sedangkan untuk sosialis, bertolak dari pembuatan mekanisme produksi yang langsung di pegang oleh legal otoriter (Pemerintah) untuk kepentingan kaum proletar–yang dalam banyak literatur dikatakan overexpression–yang tertindas. Falsafah ekonomi Islam ini berangkat dari keserasian kerjasama antara Tuhan, Manusia dan alam, yang disebut oleh Bapak Mohammad Hidayat sebagai konsep “filsafat triangle”. Konsep ini membentuk sebuah bangunan piramid, dimana Tuhan berada pada posisi teratas (central) untuk memberikan irama perekonomian. Akan tetapi sayangnya bagi kaum prokapitalism & sosialism, bangunan piramid ini diputarbalikan menjadi sesuatu yang bukan pada rotasinya, yaitu manusia menjadi titik epicentrum dari triangle tersebut, hingga akhirnya isme-isme yang humanitarian focus membentuk diri pribadi-pribadi manusia misoriented dalam tindakan ke-ekonomiannya, yaitu manusia yang konsumerisme, materialistik bahkan liberal economist.
    Wa Allahu a’lam bi ash-shawab

    1. Ali Reza Avatar

      Kalo mau dihubungin ke bank Islam, kenapa masih “kecil” peminatnya, back to basic kali ya… Agama masyarakatnya dulu dikuatin; banyak yg meragukan “kemurnian” bank Islam karena tidak mengenal filosofi dasarnya. Terlepas dari realitas yang terjadi akibat beberapa oknum tertentu.

  2. dede Avatar
    dede

    ehmmm…kl g salah Nabi Muhammad ketika pertama kali berdakwah itupun waktunya lebih banyak untuk menguatkan sendi-sendi keimanan terlebih dahulu drpd muamalatnya kan! tentu saja tanggapan dikau itu bener sekali Li, cahyo deh untuk diskusi2nya yg seperti ini

  3. lely Avatar
    lely

    bukannya ragu ma sesuatu yang da islam2nya,,,akn tetapi pa kah bank2 islam trsbut mang dah mnjlankan asas2 keislaman, khwatirnya nma islam itu djual…jd pa pa yg brbau islam di anggap bner….kyak trik g2,,,so,, antra bank islam yg bneran n yg cm asal nama2 ja smpe2 g trliat bdanya,,,

    1. Ali Reza Avatar

      Tidak setiap muslim pasti menjalankan seluruh perintah agama Islam, tapi diwajibkan untuk terus mengarah yg lebih baik. Lembaga keuangan islami pun terus mengupayakan menjadi lebih baik. Karenanya di setiap lembaga itu ada Dewan Pengawas Syariah. Kalau yg tidak terlihat beda mungkin hanya di tataran operasional.

Tinggalkan komentar