Gaza Berduka, Generasi Tetap Menyala

Jika semalam Anda menyaksikan program Apa Kabar Indonesia Malam, seorang juru bicara Hamas menyampaikan pernyataan yang membuat banyak orang terheran-heran. Sami Abu Zuhair bilang selama perang 22 hari yang merenggut lebih dari 1.300 nyawa warga Gaza, pada waktu yang sama, sekitar 3.000 bayi lahir di tanah yang sama.

Angka itu bukan sekadar statistik. Tapi seperti harapan di tengah dentuman bom yang bertahun-tahun menimpa Palestina. Satu sisi, kematian, tapi di sisi lain, kehidupan yang terus tumbuh. Mungkin di situlah letak pesan yang ingin disampaikan: bahwa sebuah bangsa tidak hanya bertahan dengan senjata, tetapi juga dengan generasi.

Pernyataan tersebut mengingatkan pada sebuah hadis Nabi Muhammad ﷺ yang populer: “Menikahlah dengan perempuan yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku di hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Terlepas dari perdebatan kualitas sanadnya, pesan moralnya jelas—bahwa keberlanjutan umat memiliki nilai penting dalam Islam.

Namun, persoalan jumlah tidak bisa dilepaskan dari kualitas. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir.

Dalam dunia akademik Barat, ada nama Thomas Robert Malthus yang terkenal dengan teorinya tentang populasi. Dalam An Essay on the Principle of Population, ia berargumen bahwa pertumbuhan penduduk cenderung lebih cepat dibandingkan produksi pangan. Akibatnya, menurut Malthus, dunia akan menghadapi krisis—kelaparan, perang, dan bencana menjadi “penyeimbang alami”.

Teori ini kemudian banyak memengaruhi kebijakan kependudukan di berbagai negara, termasuk program Keluarga Berencana (KB). Sebagian pihak bahkan melihatnya sebagai upaya sistematis untuk mengendalikan populasi global. Namun, perlu diakui, tidak semua asumsi Malthus terbukti sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi pertanian, distribusi pangan, dan ekonomi modern telah menunjukkan bahwa produksi bisa meningkat jauh lebih cepat dari yang dia bayangkan sebelumnya.

Artinya, masalahnya bukan hanya jumlah manusia, tetapi bagaimana kebutuhan dasar manusia terpenuhi—pendidikannya, kesehatannya, dan kontribusinya.

Dalam perspektif Islam terdapat keseimbangan menarik. Tidak ada larangan untuk memiliki banyak anak. Namun di sisi lain, ada penekanan kuat pada kualitas hidup. Imam ‘Alī bin Abi Ṭālib dalam Nahjul Balāghah pernah mengatakan, “Keluarga kecil adalah salah satu cara (mendapatkan) kelapangan.” Pernyataan ini seolah menjadi pengingat bahwa tanggung jawab terhadap keluarga tidak ringan.

Al-Qur’an pun memberikan panduan yang lebih dalam. Dalam Surah Al-Furqān ayat 74 disebutkan:  “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Allah menggunakan kata “penyejuk hati”. Bukan sekadar banyak, tetapi membawa ketenangan, kebahagiaan, dan nilai.

Di sinilah titik temu antara jumlah dan kualitas. Generasi bukan hanya soal angka kelahiran, tetapi tentang bagaimana mereka dibentuk. Pendidikan agama menjadi fondasi utama—membangun akhlak, iman, dan ketahanan moral. 

Imam Khomeini dalam salah satu pesannya menekankan pentingnya ilmu yang bermanfaat bagi umat. Dunia modern membutuhkan generasi yang menguasai sains, teknologi, ekonomi, dan politik. Jika pendidikan agama adalah kewajiban individu (fardu ain), maka ilmu dunia bisa menjadi kewajiban kolektif (fardu kifayah).

Tanpa kualitas, jumlah bisa menjadi beban. Namun dengan kualitas, jumlah justru menjadi kekuatan.

Jubir Hamas mungkin bukan sekadar ingin menyampaikan angka 3.000 kelahiran. Tetapi sebuah pesan yang lebih dalam: bahwa harapan tidak pernah benar-benar mati. Bahwa di tengah kehancuran, selalu ada kehidupan yang bersiap melanjutkan cerita.

Bagi kita yang hidup jauh dari medan konflik, pertanyaannya menjadi lebih relevan: bukan berapa banyak anak yang kita miliki, tetapi seperti apa generasi yang kita tinggalkan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak diubah oleh jumlah manusia—melainkan oleh kualitas manusia itu sendiri.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect