Pertanyaan itu muncul tiba-tiba tanpa bisa saya antisipasi. “Mas, kamu Syiah bukan?” Pemicunya sederhana: sebuah nama yang beredar di media massa, yaitu Ayatullah Alireza Arafi, terpilih sebagai Ketua Dewan Syura Kepemimpinan Interim di Iran. Saya paham, penanya mengaitkan hanya karena kesamaan nama.

Tapi menjawab pertanyaan itu tidak pernah semudah melontarkannya.

Di tengah mayoritas ahlusunah, identitas keislaman yang berbeda bukan hal mudah. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, narasi yang mengkampanyekan kesesatan Syiah sangat masif. Cukup banyak orang yang terpapar oleh keyakinan bahwa Syiah sesat bahkan kafir. Bahkan dalam beberapa kasus, dampaknya sudah menyentuh wilayah sosial, bahkan keamanan.

Bagi sebagian orang, jawaban atas pertanyaan tadi sangat mudah: “Saya sunnī. Saya ahlusunah.” Tegas dan selesai. Bagi yang lebih moderat, atau yang memilih aman, jawabannya, “Saya muslim.” Tapi bagi yang benar-benar berada di posisi itu, ada pergulatan batin yang tidak terlihat.

Namun, dinamika mulai sedikit berubah ketika Israel dan Amerika Serikat melakukan agresi terhadap Iran akhir Februari 2026. Sudah bertahun-tahun pejabat Iran menyerukan persatuan Islam, namun terlalu banyak telinga yang tersumbat kebencian pada Syiah. Sampai diperlukan tumpahnya darah Ayatullah Ali Khamenei untuk membuka lebih banyak mata kaum muslimin.

Ironisnya, di saat yang sama, beberapa negara Arab yang mendanai kampanye Syiah sesat—dan suka tidak suka mereka mayoritas sunnī—justru menyediakan lahan parkir bagi mesin perang AS yang digunakan untuk mengepung sesama anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Iran dengan keyakinannya justru berdiri tegak menghadapi serangan Zionis.

Tentu saja ini bukan perang mazhab. Banyak analis menegaskan bahwa akar konflik ini jauh lebih kompleks—politik, ekonomi, energi, dan pengaruh kawasan serta global. Tapi situasi ini jelas memunculkan refleksi di tubuh umat Islam.

Tidak sedikit dari kalangan ahlusunah mulai mempertanyakan kembali narasi yang mereka terima selama ini. Bahkan, muncul rasa “tidak nyaman” dan “malu” melihat realitas yang terjadi saat ini. Pemimpin negara Arab bahu membahu dengan AS-Israel untuk menyerang Iran, sedangkan ulama Wahabi atau yang mengaku salafi meningkatkan kampanye anti-Syiah. Mereka takut karena semakin banyak orang sadar oleh fitnah yang selama ini dibangun.

Sebaliknya, momen ini juga sebagai situasi yang membanggakan bagi muslim Syiah. Sebagaimana keberanian sebagian muslim ahlusunah yang tidak takut menyuarakan pembelaannya kepada Iran. Bukan cuma karena keyakinan mereka sebagai sesama muslim, tetapi karena prinsip keadilan yang diyakini. Mereka berdiri di barisan kelompok muqawamah—perlawanan terhadap ketidakadilan.

Lalu muncul pertanyaan klasik: mengapa harus membicarakan sunnī dan Syiah? Bukankah Islam itu satu? Secara ideal, benar. Tapi realitas tidak selalu sesederhana retorika. Bukankah pemimpin Arab yang bekerja sama dengan Zionis juga muslim? Jika identitas tidak penting, mengapa ISIS—yang juga mengaku muslim—tetap perlu dibedakan?

Seorang ulama pernah bertemu dengan Ayatullah ‘Alī As-Sīstānī dan membicarakan soal identitas ini. Jawaban Ayatullah Sīstānī mengejutkan: “Katakanlah kepada dunia bahwa kamu seorang muslim Syiah.” Eksklamasi ini tentu bukan ditujukan untuk memecah karena kita semua muslim. Tapi penegasan identitas yang membedakan dengan muslim lain. Semua mengaku meneladani nabi tapi Syiah memasukinya melalui pintu rumahnya: ahlulbait.

Pengakuan seperti itu tentu tidak pernah mudah dan membawa konsekuensi. Tidak hanya karena faktor lingkungan yang sudah terpengaruh oleh kampanye, tapi soal beban tanggung jawab yang muncul.

Dalam kitab Ṣifāt asy-Syī’ah karya Syekh Shadūq, diriwayatkan bagaimana ‘Alī bin Ḥusain menegur orang yang mengaku sebagai Syiahnya. “Kalian berdusta! Di mana tanda-tanda pada wajah kalian? Di mana tanda-tanda ibadahnya? Di mana bekas sujud kalian?” katanya.

Imam Zain al-‘Abidīn tidak mau sekadar klaim. Tapi amal ibadah, kesederhanaan, dan keikhlasan. “Ciri khas mereka adalah kezuhudan,” katanya.

Kembali pada pertanyaan awal, jawabannya mungkin bisa sederhana. Namun hal tersebut hanya berhenti sampai di label. Karena yang jauh lebih penting adalah: apakah kita layak dengan jawaban itu? Apakah kita berani berpihak pada kelompok yang terzalimi? Karena identitas bukan hanya soal apa yang kita klaim—tetapi apa yang benar-benar kita jalani.


Discover more from islah.blog

Berlangganan untuk mendapatkan tulisan terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Saya Ali Reza!

Selamat datang di islah, ruang kecil untuk esai dan refleksi tentang warna-warni keragaman Islam yang saya pahami. Tempat berbagi makna, bukan sekadar menyusun kata, agar kita menemukan pemahaman yang hidup dan relevan sepanjang masa.

Let’s connect

“Saya berharap seluruh masa hidup ini saya jalani untuk mewujudkan persatuan kaum muslim dan kematian yang akan saya alami juga demi persatuan kaum muslim.”

— Ayatullah Ali Khamenei