Seorang pria berbahasa Arab dengan fasih mengutip hadis Nabi, “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” Kalimat itu terasa akrab—sering kita dengar di mimbar keagamaan. Namun yang mengucapkannya bukan ulama dengan gelar License (Lc), melainkan Avichay Adraee, kepala divisi media khusus dunia Arab di militer Zionis Israel.
Mengapa seorang juru bicara militer menggunakan hadis untuk menyampaikan pesan politik?
Dalam video tersebut, Adraee mengaitkan Hamas dengan Iran. Dia menyebut, “Pimpinan teroris Hamas yang menyerupai orang Iran. Mereka merayakan Hari Internasional Al-Quds, sebuah hari yang dicanangkan oleh Ayatullah Khomeini…” Narasi yang dibangun sederhana: membingkai konflik politik sebagai konflik sektarian.
Pada akhir video, bak seorang ustaz, Avichay Adraee memperingatkan Hamas soal hukuman di akhirat jika masih berteman dengan Iran.
Adraee merupakan perwira Zionis pertama yang mendapat tempat khusus di media Saudi bernama Elaph. Media milik Othman Al Omeir itu mempublikasikan tulisan anti-Hamas. Menurut Media Ownership Monitor, Othman—pebisnis Inggris kelahiran Saudi—memiliki hubungan dekat dengan keluarga Raja Salman.
James M. Dorsey, seorang jurnalis senior, mencatat bahwa Israel mulai mengadopsi retorika sektarian yang sebelumnya populer di sebagian kalangan Timur Tengah. Retorika ini bekerja dengan cara yang halus namun efektif: menggeser fokus dari konflik utama menjadi konflik internal. Dari penjajahan menjadi perpecahan.
Sejumlah penelitian dalam ilmu komunikasi politik memang menunjukkan bahwa propaganda yang efektif adalah menggunakan simbol dan bahasa yang sudah akrab bagi targetnya. Penggunaan narasi agama dalam propaganda juga dapat meningkatkan daya persuasi karena menyentuh identitas terdalam audiens.
Dalam konteks ini, kutipan hadis oleh juru bicara militer bukan sekadar retorika—ia adalah strategi. Namun di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan berpikir kritis.
Apakah konflik di Timur Tengah semata-mata soal perbedaan mazhab? Ataukah ini tentang sesuatu yang lebih mendasar—tanah, kedaulatan, dan kemerdekaan?

Ketika Ebrahim Raisi dilantik pada 2021, berbagai faksi Palestina—termasuk Hamas dan kelompok sekuler—hadir di Teheran. Bahkan tokoh seperti Ismail Haniyeh secara terbuka menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Iran. Ini membuktikan bahwa, bagi mereka, isu utama bukanlah sektarianisme, melainkan perjuangan bersama.
Di sisi lain, data opini publik di kawasan Arab juga menunjukkan bahwa dukungan terhadap aliansi dengan Israel untuk melawan Iran sebenarnya kecil. Karena itulah, Zionis mempromosikan agenda anti-Iran dengan menarik literatur agama.
Target utama Zionis adalah untuk “menyadarkan” Hamas dan pendukungnya. Sebab Hamas terlihat semakin geram dengan pendekatan insentif dan sanksi (carrot and stick) yang dilakukan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Ketika bertemu dengan Presiden Iran, perwakilan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina—yang beraliran sosialis—Abu Jihad Talal Naji juga menyatakan, “Perlawanan akan berdiri bersama rakyat Iran karena Iran berusaha untuk melindungi keamanan seluruh kawasan dan sejarah akan bersaksi tentang hal ini.”
Ziyad Al-Nakhalah, Sekjen Jihad Islam, juga menegaskan kesetiaannya, “Kami akan berada di sisi Iran sampai pembebasan Al-Quds.”
Seluruh kelompok perjuangan di Palestina sadar akan hal yang lebih utama: pembebasan Al-Quds. Iran dan isu kesyiahan bukan hal utama. Mereka ingat bahwa Al-Qur’an secara tegas menyebut: “Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (Q.S. Ali ‘Imran: 103)
Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual, tetapi juga panduan sosial dan politik. Perpecahan bukan hanya melemahkan umat, tetapi juga membuka ruang bagi pihak lain untuk memanfaatkan celah tersebut.
Kita sendiri di Indonesia dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan ikut larut dalam narasi yang memecah belah, atau kembali pada prinsip dasar yang mempersatukan?
Sejarah telah mengajarkan bahwa peradaban besar runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi karena retak dari dalam. Retak tersebut bisa bermula dari narasi yang perlahan mengubah cara kita memandang sesama. Lagi pula, tidak semua yang terdengar religius sambil membacakan hadis itu lahir dari niat yang tulus.
Hadis di awal tadi juga bisa menjadi cermin untuk bertanya: siapa yang sebenarnya sedang kita tiru? Jika kita meyakini Syiah lebih berbahaya dari Nasrani dan Yahudi, seperti yang dikutip oleh Avichay Adraee, maka kita menyerupai suatu kaum: Zionis.
Referensi:
[1] Dorsey, James M. (19 Juni 2018). “Israel Adopts Abandoned Saudi Sectarian Logic”. Fair Observer.
[2] Baddar, Omar (19 Juni 2018). “Israel openly promotes Islamic State ideology”. The New Arab.













Tinggalkan komentar