Suatu hari di musim dingin tahun 1979. Sekelompok pemuda Iran di Washington berdemonstrasi: Ya untuk rakyat Amerika; Tidak untuk pemerintahannya. Ribuan kilometer dari sana, ribuan rakyat di Tehran mengangkat poster: Kemerdekaan, kebebasan.
Potongan sejarah baru dimulai. Rezim Shah mati dan lahirlah sebuah republik baru. Salah satu keputusan simbolik diambil: kedutaan besar Israel ditutup dan diserahkan kepada perwakilan Palestina.
Washington meradang. Tel Aviv murka. Sejak saat itu, konfrontasi bukan lagi sebatas dalam pidato tapi langkah praktis. Mengapa Iran menjadi negara yang dimusuhi Amerika Serikat dan Israel? Jawabannya memang tidak tunggal dan cenderung kompleks.
Revolusi Islam 1979 menggulingkan sekutu utama Amerika Serikat di kawasan tersebut. Penyanderaan penghuni Kedutaan Besar AS memperdalam luka diplomatik. Sejak itu, embargo atau sanksi ekonomi bertahap diberlakukan dan diperparah setelah isu program nuklir Iran mencuat.
Tapi dimensi ideologis yang tak bisa diabaikan. Imam Khomeini mengatakan hal ini dalam salah satu pesannya pada 28 Juli 1987: “Hari ini setiap orang mengetahui dari pandangan para penjarah dan agresor dunia bahwa kejahatan kami adalah membela Islam dan membentuk pemerintahan resmi Republik Islam, sebagai ganti dari rezim tagut yang menindas.”
Imam Khomeini juga melanjutkan, “Kejahatan Iran adalah membela Islam, menghidupkan sunah nabi, menyerukan persatuan muslim, serta mendukung rakyat Palestina, Afghanistan, dan Lebanon.”
Pernyataan itu bukan retorika kosong. Setiap tahun Iran memperingati Yaum al-Quds, hari solidaritas untuk Palestina yang diperkenalkan Imam Khomeini pada 1979. Iran secara konsisten mendukung kelompok perlawanan Palestina seperti Hamas dan Islamic Jihad, baik secara politik, finansial, dan militer.
Rakyat Palestina juga kerap menyampaikan apresiasi terbuka kepada Iran. Pimpinan Hamas dan Islamic Jihad menyebut Iran sebagai salah satu pendukung utama perlawanan mereka. Ini fakta politik yang terdokumentasi, terlepas dari bagaimana dunia menilainya.
Dari perspektif Iran, dukungan itu berakar pada prinsip keagamaan. Al-Qur’an tegas memerintahkan kita untuk: “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” Allah juga mengingatkan agar kita jangan berbuat zalim dan jangan pula lemah jika dizalimi.
Pejabat Iran kerap mengutip ayat tersebut sebagai rujukan moral. Bagi mereka, penindasan terhadap Palestina adalah simbol kezaliman global yang harus dilawan. Kewajiban menolong saudara yang terzalimi, sebagaimana sabda nabi, juga kerap dilontarkan dalam konteks solidaritas.
Amerika Serikat dan Israel memang melihat secara berbeda. Bagi Washington, Iran adalah kekuatan yang mengganggu keseimbangan regional. Kenyataannya Iran memang ingin mengimbangi pengaruh zionisme melalui jaringan proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman.
Khusus bagi Israel, retorika anti-Zionisme Iran merupakan ancaman eksistensial. Maka lahirlah berbagai operasi intelijen. Salah satunya mengipasi regional dengan isu sektarian. Tujuannya agar semakin banyak kelompok yang memusuhi Iran karena kesyiahannya.
Tetapi menjadikan konflik ini hanya sebagai “Iran membela Palestina” juga terlalu menyederhanakan. Ada relasi kekuasaan, ekonomi, dan adu kuat militer. Dunia Timur Tengah itu ibarat papan catur yang pionnya adalah para pemimpin negara.
Meski demikian, narasi resmi Iran tetap konsisten: mereka menolak tunduk pada hegemoni dan berdiri bersama kelompok yang tertindas. Makanya, permusuhan dengan pemerintahan Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar konflik politik, tetapi konsekuensi pilihan ideologis. Mereka ingin menjalankan perintah Al-Qur’an untuk tidak berlaku zalim dan melawan ketika dizalimi.
Kita akan melihat negara-negara mana saja yang langkahnya membawa keadilan atau justru memperpanjang lingkaran kekerasan. Tetapi satu hal pasti: di balik setiap sanksi dan setiap roket, ada keyakinan dan kepentingan yang saling bertabrakan.
Tinggalkan Balasan ke Toing Batalkan balasan