Suatu hari di Madinah, seorang intelektual muslim, Dr. Ali Shariati, mendengar sesuatu yang belum pernah dia dengar sekalipun dari mulut pengikut Syiah yang bodoh. Seseorang yang disebut ulama dengan yakin mengatakan, “Setelah salat, orang Syiah menepuk pahanya sebanyak tiga kali dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu berkata khanal Amin (Jibril telah berkhianat)…”
Cerita itu bukan anekdot. Tapi menjadi gambaran bagaimana prasangka bisa lahir, menyebar, lalu dipercaya tanpa pernah diverifikasi. Dari satu ucapan, lahirlah banyak kesalahpahaman. Orang menjadi percaya bahwa praktik itu menjadi bukti kemiripan antara Syiah dan Yahudi atau Kristen. Seseorang asal Kuwait pernah bertanya kepada saya, “Kenapa selesai salat, orang Syiah memukul-mukul paha?”
Padahal kenyataannya jauh berbeda.
Dalam fikih mazhab Ja’fari, muslim Syiah disunahkan mengangkat tangan setiap kali mengucapkan takbir Allahu Akbar, termasuk tiga kali takbir setelah salam. Pada momen takbir terakhir itulah, sebagian di antara muslim Syiah menoleh ke kanan dan kiri. Gerakan yang sama seperti muslim ahlusunah ketika mengucapkan salam selesai salat.
Perbedaan ini berakar pada perbedaan dalam menarik hadis yang diyakini kebenaran. Dari jalur ahlusunah terdapat riwayat yang sejalan dengan keyakinan untuk mengangkat tangan setiap kali membaca takbir. Dalam Musnad Aḥmad, misalnya, disebutkan bahwa:
وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرفع يديه في كل تكبيرة من الصلاة
Rasulullah ﷺ selalu mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir dalam salat.
Dari sini, sebagian ulama memahami bahwa mengangkat tangan dilakukan setiap mengucapkan takbir dan tidak terbatas pada gerakan atau momen tertentu saja.
Sementara dalam mazhab ahlusunah, mengangkat tangan saat takbir dilakukan pada titik gerakan tertentu. Hadis dalam hadis Bukhārī dan Muslim menyebutkan kesaksian beberapa sahabat ketika melihat nabi mengangkat tangan, yaitu saat takbiratul ihram, hendak rukuk, bangkit dari rukuk, dan ketika berdiri.
Namun dalam hadis An-Nasā’ī juga disebutkan jika nabi mengangkat tangan sejajar dengan telinga ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Artinya, apa yang dilakukan muslim Syiah dengan mengangkat tangan ketika bertakbir dalam salat juga memiliki landasan dalam hadis ahlusunah.
Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan, hikmah mengangkat dua tangan tersebut adalah cara mengagungkan Allah Swt. yang diekspresikan dengan berkumpulnya antara keyakinan hati, ucapan lisan sebagai juru ungkap dari keyakinan hati, dan perbuatan anggota badan.
Sedangkan salah satu imam ahlulbait, Imam ‘Alī Ar-Riḍa a.s., mengatakan , “Diangkatnya kedua tangan dalam takbir untuk memperagakan ketundukan, kerendahan, dan kekhusyukan. Allah menginginkan agar seorang hamba bersikap tunduk, merendah, dan khusyuk saat mengingat-Nya. Selain itu, mengangkat kedua tangan juga dapat memantapkan dan memusatkan hati.”
Begitu pula praktik mengucapkan takbir setelah salat yang lazim dilakukan muslim Syiah juga memiliki landasan, meskipun penafsirannya bisa jadi berbeda. Ibnu ‘Abbās dalam sahih Bukhārī mengatakan:
كُنْتُ أعرِفُ انقضاءَ صلاةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بالتَّكبيرِ
Aku mengetahui selesainya salat Rasulullah ﷺ dengan (suara) takbir.
Imam Khomeini dalam Sirr aṣ-Ṣalāh (Rahasia Salat) menafsirkan makna tiga takbir penutup dalam salat. Takbir pertama adalah bukti bahwa sālik (pesuluk, orang yang melakukan perjalanan spiritual) telah menyaksikan kemunculan Zāt di hadirat nama dan sifat. Takbir kedua, sālik telah menyaksikan tajallī nama-nama di kehadiran entitas dan tajallī Zāt . Takbir ketiga sālik menyaksikan sekaligus tajallī zāt, nama, dan af’āl pada cermin entitas luar.
Tafsir tersebut mungkin tidak bisa dengan mudah dipahami, tetapi menunjukkan bahwa di balik gerakan sederhana, tersimpan makna yang dalam.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan dan melarang kita untuk jangan berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang paling baik. Jika dengan pemeluk agama lain saja kita diajarkan kelembutan, apalagi dengan sesama muslim yang hanya berbeda dalam cabang pemahaman.
Pada akhirnya, pengalaman Dr. Ali Shariati di Madinah itu mengajarkan kita bahwa tidak semua yang kita dengar adalah kebenaran dan tidak semua perbedaan adalah ancaman. Kadang, yang kita butuhkan bukan argumen, tetapi keberanian untuk mengenal. Karena di balik perbedaan, sering kali kita justru menemukan kesamaan yang selama ini tersembunyi












Tinggalkan komentar