Di forum diskusi Ba Alwi, tema pernikahan syarifah dengan non-sayid masih dan akan tetap selalu hangat. Terutama pihak yang menentang, akan mati-matian membela keyakinannya itu. Di sini, saya bukan ingin memanaskan tema yang sudah hangat, tapi ada peristiwa yang membuat saya ingin mengangkat tema kafaah tersebut.

Dulu teman saya, seorang akhwal (sebutan bagi orang Indonesia di kalangan jammaah; jamaknya khâl yang berarti “paman dari ibu”) tanpa basa-basi bilang ke saya kalau dia ingin (nantinya) menikah dengan syarifah. Saya tidak bisa komentar apa-apa selain dengan jujur menjawab tidak punya banyak kenalan syarifah apalagi saya sendiri tidak bisa (atau tidak biasa?) jadi makcomblang.

Lalu teman saya (seorang sayid) yang juga teman si akhwal yang tahu keinginan temannya tersebut langsung menghubungi saya. Seperti orang yang tersambar petir, dia meminta saran dan bantuan saya agar menasihati si akhwal untuk mengurungkan niatnya tersebut. Saya meresponnya melalui surel (yang cukup panjang) dan mungkin jawaban saya tidak sesuai dengan harapannya. Karena saya heran, bagaimana seandainya ada syarifah dan keluarganya yang mau dengan seorang non-sayid? Apa mungkin kita menghalang-halangi sesuatu yang halal? Apakah akhwal berdosa menikahi syarifah?

http://www.gettyimages.com/detail/news-photo/palestinian-groom-shows-his-henna-covered-hand-at-a-news-photo/171052275

Kafaah dalam Sejarah

Sebelum Islam, posisi wanita bisa dikatakan tertindas. Di zaman Arab jahiliah, wanita dianggap sangat rendah apalagi wanita ‘ajam (non-Arab). Sedangkan di zaman Persia (jahiliah), wanita kalangan kekaisaran dianggap sangat mulia sehingga mereka lebih memilih menikah sedarah demi menjaga kemuliaan tersebut.

Ketika Islam datang, semua itu dirubah. Ayat-ayat yang turun mengenai pernikahan tidak menyinggung kafaah nasab, suku atau warna kulit, tapi terkait agama sekaligus akhlak. Sehingga Nabi saw. bersabda, “Bila ada seorang lelaki memuaskan dalam agama dan akhlak, maka terimalah lamaran kawinnya…”

Sejarah mencatat beberapa pernikahan berikut: Zaid bin Haritsah (bekas budak Nabi) menikah dengan Zainab binti Jahsy (bangsawan Quraisy); Usamah bin Zaid bin Haritsah (bekas budak) menikah dengan Fatimah binti Qais (bangsawan Quraisy); Bilal (sahabat berkebangsaan Ethiopia) menikah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf (Quraisy).

Kafaah dalam Fikih

Nah, dibagian fikih inilah yang menurut saya menjadi menarik: mazhab ahlusunah (selain Maliki) menganggap pernikahan syarifah dengan non-sayid adalah tidak sekufu (tidak setara meskipun sah), sedangkan Syiah yang notabene mengikuti mazhab ahlulbait menyatakan pernikahan seperti itu adalah kufu.

M. Hasyim Assagaf dalam bukunya yang kontroversial memberikan uraian mengenai kafaah dalam fikih ahlusunah sebagai berikut:

  • Mazhab Hanafi: Kafaah adalah kesepadanan si lelaki bagi wanita dalam hal nasab, Islam, pekerjaan, kemerdekaan, keagamaan, dan harta. Kafaah berlaku bagi lelaki, tidak pada pihak perempuan. Lelaki boleh menikah dengan siapa saja.
  • Mazhab Maliki: Kafaah dibagi menjadi dua; pertama, keagamaan dan kedua, bebas dari aib yang ditentukan perempuan. Kafaah dalam hal harta, kemerdekaan, nasab, dan pekerjaan, tidaklah mu’tabar (diakui). Apabila seorang lelaki rendahan menikah dengan perempuan mulia (syarifah) maka sah.
  • Mazhab Syafii: Kafaah adalah nasab, agama, kemerdekaan, dan khifah (profesi). Bani Hasyim hanya kufu’ antara sesama mereka sendiri. Kafaah merupakan syarat bagi sahnya nikah bila tiada kerelaan, dan hal itu adalah hak perempuan dan walinya bersama-sama.
  • Mazhab Hambali: Kafaah adalah kesamaan dalam lima hal; keagamaan, pekerjaan, kelapangan dalam harta, kemerdekaan, nasab.

Serupa dengan mazhab Maliki, mazhab Syiah Ja’fari pun tidak mengenal kafaah dalam hal nasab. Disebutkan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Manusia itu kufu antara sesama manusia, Arab dan ‘ajam, Quraisy dan Bani Hasyim, bila mereka telah Islam dan beriman.” Itu semua merupakan bahasan fikih.

Kafaah dalam Amanah

Tanpa perlu panjang lebar membahas ahlulbait dan zuriah Rasul, tanpa bermaksud membangkitkan sikap fanatik, dan tanpa niat meminta dihormati; sebagai zuriah, seseorang harus menjaga amanah yang dimilikinya, salah satunya adalah menjaga keberlangsungan keturunan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlih.

Meskipun dalam hukum fikih adalah sah, tapi tentu akan lebih afdal jika memilih yang lebih utama selain dari pada ukuran agama. Karena terkadang pernikahan beda nasab bisa menimbulkan masalah. Misalnya pertentangan kebudayaan di antara keluarga yang mungkin sulit untuk dipersatukan, atau masih adanya pandangan negatif atau “celaan” dari salah satu keluarga yang dianggap sebagai aib, dan seterusnya.

Untuk itu ada baiknya kita menengok pendapat Imam Syafii, dari sisi mencegah hal negatif; meskipun secara fikih saya tetap meyakini mazhab ahlulbait yang menyatakan bahwa pernikahan syarifah dengan non-sayid adalah sekufu. Ketika dulu ada yang mengatakan kepada saya bahwa asal-usul pernikahan satu nasab (syarifah harus dengan sayid) adalah Syiah Persia, tentu ini tuduhan belaka.

Tidak perlu terlalu fanatik terhadap nasab, tapi sama-sama saling melihat diri sendiri. Jika ada seorang syarifah menikah dengan akhwal, jangan cegah si akhwal atau mencela keluarga syarifah. Tapi pertanyakan; ke mana sayid atau di mana keutamaanya? Begitu juga dengan sayid yang menikah dengan non-syarifah, jangan dulu cela si sayid. Ke mana syarifah yang masih menyadari “kesyarifahannya”? Wallahualam.

Tambahan: 30 Januari 2010

Hari ini, masuklah dua komentar panjang lebar tentang tulisan ini. Niatnya mungkin ingin mengkritik tulisan, tapi justru menyerang pribadi saya. Mungkin karena ia belum membaca dan memahami tulisan beserta maksudnya.

Pertama, ia mengkritik turunnya kualitas anak-cucu Nabi dalam agama. Padahal ketika membicarakan agama, kesampingkan sejenak masalah keturunan. Agama ini (Islam) untuk seluruh umat manusia. Memang benar bahwa keturunan Nabi memiliki tanggung jawab yang lebih besar, tapi kewajiban amar makruf dan saling mengingatkan ada di pundak setiap  muslim.

Kedua, ia berbicara masalah syarat nikah dan menyebutkan bahwa di kalangan Alawiyyin syarat nikah di tambah satu, yaitu kafaah, yang tanpanya maka pernikahan batal. Kalau ia membaca tulisan di awal, yang menetapkan kafaah dalam nasab adalah ulama Ahlussunah, sedangkan ulama mazhab Ahlulbait tidak menetapkan kafaah nasab sebagai syarat nikah.

Ketiga, bukti yang disampaikan seperti biasa kisah tentang peminangan Sayidah Fatimah, putri Nabi saw. Bagi yang membela kafaah nasab (dari kalangan manapun), pemilihan Nabi terhadap Sayidina Ali dianggap karena masalah kafaah nasab. Tapi bagi saya, pemilihan Nabi tidak mungkin “hanya karena masalah kecil”, tapi Nabi memilih karena kualitas iman, takwa, akhlak dan kedekatan Imam Ali kepada Allah, dibandingkan sahabat lain yang meminang. Inilah yang disebutkan pernikahan langit (yang “dirancang” oleh Allah Swt.)

Keempat, pembicaraannya semakin melebar dengan mengutip ayat dan hadis untuk mengajari saya tentang keutamaan Ahlulbait, yang saya tidak ada keraguan sedikitpun tentangnya. Tapi ia mengatakan bahwa “Sayid hanya akan akan menikah dengan Syarifah”, padahal semua sudah tahu bahwa Imam Ali tidak hanya menikahi wanita Bani Hasyim, Imam Husain pun menikahi putri Persia, Imam Ali Zainal Abidin yang menikahi seorang budak, dan seterusnya. Hal ini menegaskan bahwa kafaah adalah agama.

Kelima, pembicaraan mengenai “nikmat dan rasa syukur” menjadi zuriah. Seseorang yang hanya memikirkan satu sisi hanya akan terlena, karena tanggung jawab sebagai zuriah harus lebih diutamakan dan saya sepakat  dalam hal ini. (Silakan baca: Ke-sayyid-an: Berkah atau Beban?)

Terakhir pembicaraan kembali tentang keutamaan Ahlulbait, mulai dari nasab yang berlanjut dari Bunda Fatimah as. dan seterusnya hingga mengutip riwayat keutamaan Ahlulbait yang sangat diamini oleh para Syiah Ahlulbait as. Padahal kalau ia membaca seluruh tulisan dan komentar saya, niscaya hal itu sejalan.

Komentar selanjutnya, barulah dia menyerang pribadi saya dengan meragukan keturunan seseorang. Sebutan “tuan”, “sayid”, atau “habib” memang tidak pernah diharapkan oleh orang seperti saya dan sudah ditegaskan dari awal. Meragukan darah/keturunan seseorang pun tidak akan mengubah hakikat aslinya, karena kaum Alawiyyin memiliki nasab jelas hingga puluhan tingkat ke atas, ketika sebagian yang lainnya mungkin tidak memiliki kejelasan bahkan lima tingkat ke atas. Wallahualam.

Baca Juga:

Last updated: May 4, 2010

152 tanggapan atas “Kafaah Nasab: Antara Ahlulbait dan Ahlusunah”

  1. Akhi elfan@ kayax antm g nyimak penjelasan yg punya blog.
    Isa as di al-qur’an dsbt sbg keturunan ibrahim as, lalu siapa bpk isa as?knp beliau disebut dzuriat ibrahim as?

  2. Salam, makasih atas jawabanx yg sangat jelas, owh ya saya teringat sebuah hadist yg sy dapat dr alawiyin syiah. Dy mengatakan jika seorang syarifah menikahi non sadat maka kedudukanx akan turun di akhirat kelak dan sy. Fatimah as memalingkan wajahx krn tdk senang. Pertanyaanx sejauh mana kebenaran hadist ini?apa benar ini hadist yg diakui mazhab ahlulbyt?sejujurx pendapat pribadi sy ini agak janggal. Mohon kirax akhi membantu sy memahami ini.

  3. Elfan….cape’ deh….baca artikel dan seluruh komentarnya diatas dulu sblm nulis, jd kamu ngerti bahwa: keturunan Nabi Muhammad SAW tidak putus…! Bacaan tahiyatul akhir sholat kamu ini bukan? “Allahumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala aalihi sayyidina Muhammad…..dst’. Itu artinya apa?
    Buat Ramadan khususnya, dan buat yang lain2 yg kebetulan mampir di blog ini. Ada sedikit cerita nih. Sahabat saya Wina (nasrani) punya anjing….suatu hari aku main2 kerumahnya, ngobrol2…, dia bilang mau janjian sama orang di dokter hewan.
    ” Mau ngapain,” tanyaku.
    “Ini, mau ngawinin si Toby (anjingnya),” jwbnya. Aku nanya lagi, ” kok repot2 banget ngawinin anjing mesti kesana..? . “Iya nih mir..soalnya anjingku nih kan ( dia nyebut apa ya jenisnya, maaf aku lupa….Roterwiller atau apa gitu ) dan aku punya sertifikatnya.
    “Sertifikat apa? “tanyaku.
    ” Ini sertifikat yg menjamin keaslian murni keturunan anjing ini, jadi aku maunya dia kawin sama anjing yg bersertifikat kaya dia juga (sertifikat ini dibuat oleh suatu lembaga yg diakui secara internasional, jd bukan sembarang orang bisa buat)..nah aku dah janjian sama orang ini via telpon,…btw aku nyariin jodohnya buat Toby ni susah banget loh mir,…nah aku ketemu sama orang ini di aussie…blablabla..”. Dia nyeritain dgn semangat bgmn likaliku dia nyari calon buat si toby ini. Soalnya kalau ga dpt jodoh yg sama, “harga (nilai)” anjing itu akan ‘jatuh’.
    Wuih, hebat ga?! Manusia pecinta anjing spt Wina dll itu berusaha keras untuk menjaga kemurnian keturunan anjing..,…
    Terus, apa yg sdh dilakukan kita yg ngakunya cinta sama Rasulullah….?
    Sebagai bahan renungan aja ya…

    1. Terima kasih Mira atas komentarnya. Untuk yg lain silakan klik http://rabithah.net/

  4. Ko g da jwbnx ini dr yg punya blog, ttg pertanyaanku??g mutu ya?afwan dh. Bismillah, Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad wa ‘ajjil faraja al-Qo’im min Aali Muhammad, semoga cinta sy. Zahro as sejukan hati kt :)
    Salam

  5. pada apa yang saya tahu..syed dan sharifah adalah dari kalangan ahlul bait iaitu dari keturunan rasullulah melalui hasan dan husin. perkahwinan bagi seorang syed adalah tidak hanya kepada sharifah malah bukan syarifah juga adalah sah kerana kekerabatan rasullullah tetap bersambung..tp bagi sharifah pula adalah dilarang kerana ini menyebabkan terputusnya nasab baginda. namun ada yang menganggap ini cumalah adad edan bersifat assabiyah.. bagi saya ini bukan bersifat assabiyah tetapi ini adalah langkah untuk kita menjaga nasab rasullullah agar tidak terputus.. sesungguhnya ahlul bait adalah mulia dan harus dijaga namun bukan bemakna mereka ini maksum mereka yang mengingkari Allah tetap menerima dosa namun apabila ahlul bait itu seorang yang beriman dan soleh darjatnya lebih baik dari yang lain2 kerana salah silah mereka yang terus pada rasullullah.. oleh kerana itu rasullullah memgingatkan kita supaya menjaga dan menyayangi keturunan baginda.. itu merupakan kewajiban seluruh umat islam kerana dengan menyakiti ahlulbait secara langsung seseorang itu menyakiti nabi. dengan kahwinnya seorang yang bukan syed pada seorang sharifah, maka secara tidak langsung ia memutuskan nasab baginda.. perkara ini sama dengan pegharaman untuk mengahwini isteri baginda setelah baginda wafat kerana perkara ini merosakan nasab baginda. diharap kepada sharifah dan non syed di mana2 supaya mementingkan kehendak Allah dan rasullullah melebihi cinta pada manusia.. sebagai islam kita wajib menjaga nasab rasullullah.. ini adalah kefahaman saya melalui pembacaan saya pada sebuah buku bertajuk Kafaah. jika terdapat salah silap sy diharap anda dapat memperbetulkan

  6. inilah yang paling gue benci dalam agama islam, ISLAM SELALU DIKAITKAN DENGAN ARAB, DLL

    ISLAM MILIK ARAB, umat islam bukan arab jadi hilang maknanya, muncul kasta2 yang menistakan semua ajarannya sendiri.
    Jika anda keluarga nabi, atau memiliki jalur darah nabi, MALU DONK.

    KALIAN MENJIJIKAN.

    1. Terima kasih. Tapi Anda juga MALU DONK sama nama dan mulut, kok enggak sinkron.

  7. bagaimana dgn ibnu Abbas,Zainab,Ruqoyyah,Ummi Kultsum?apakah mereka jg ahlul bait?dan bagaimana juga dengan keturunan abu lahab?apakah juga ahlul bait?jd sumber sayid ini dr mana?apakah hanya terbatas pada Hasan dan Husein sajakah?

  8. SIAPAKAH AHLUL BAIT ITU ?
    Ahlul Bait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik dari kalangan laki-laki (yang sering disebut dengan syarif) atau wanita (yang sering disebut syarifah), yang beriman kepada Rasul ? dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. Diantara Ahlul Bait Rasulullah ? adalah:
    1. Para istri Rasul, berdasarkan konteks surat Al-Ahzab: 33
    2. Putra-putri Rasulullah (tidak dikhususkan pada Fatimah saja)
    3. Abbas bin Abdul Muththolib dan keturunannya
    4. Al Harits bin Abdul Muththolib dan keturunannya
    5. Ali bin Abi Tholib dan keturunannya (tidak dikhususkan pada Al Hasan dan Al Husain saja)
    6. Ja’far bin Abi Tholib dan keturunannya
    7. Aqil bin Abi Tholib dan keturunannya
    (untuk lebih rincinya, silahkan lihat kitab “Syiah dan Ahlul Bait dan Minhajus Sunnah An Nabawiyyah”)

    1. Komentar Anda keluar dari tema tulisan. Sila search pendapat pemilik blog tentang siapa ahlulbait di blog ini. Ahlulbait adalah suci, keturunannya (zuriah) tidak jaminan suci. Terima kasih.

  9. “Yaitu di hari (hari kiamat) yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Allah dengan hati yang lurus”. (Asy Syu’ara: 88-89)

  10. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (Al Hujurat:13.jadi bukan syarif atau syarifah

    1. Yazid Alaydrus dan siddik adalah orang yg sama. Pengecut dilarang komentar lagi. Terima kasih.

    2. Benar sekali

  11. dari mana sumber2 ke syarifan dan ke syarifahan itu?

  12. Di antara bukti keimanan seseorang muslim adalah mencintai ahlul bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mencintai ahlul bait merupakan pilar kesempurnaan iman seorang muslim.

    (some text removed by ejajufri)

  13. apakah keturunan Aqil,Ja’far,Abbas,abulahabdan istri2 nabi yg lainnya juga syarif dan syarifah?anda jangan lihat siapa yg berkomentar,tapi lihat lah apa yg di komentari,kebenaran tidak akan tertukar walau keluar dari mulut seorang perampok.mohon komentari pak Yazid tadi jika anda bukan pengecut

    1. Yusuf, Yazid Alaydrus, dan siddik adalah orang yg sama. Silakan cari penjelasan pemilik blog mengenai ahlulbait, salah satunya di sini. Istri berasal dari ayah si istri, sebagaimana Ummu Salamah tidak dimasukkan dalam kain dan didoakan oleh Nabi. Imam al-Asqalani dalam Fathul Bari mengatakan bahwa bait sumbernya adalah Khadijah. Bagaimana mungkin istri nabi yg lain berasal dari Khadijah? Bagaimana mungkin keluarga Aqil, Jafar berasal dari Khadijah? Lalu Anda mencampuradukkan tema ahlulbait dengan zuriah. Jadi, konsisten dulu. Setidaknya, konsisten dulu dengan penggunaan nama (palsu). Copy paste panjang lebar silakan membuat buku.

  14. kenapa komentar yazid dipotong?kenapa gak dihapus aja sekalian,dasar syiah,sukanya takiyah,munafik

    1. link–> http://www.muslimunity.net/
      atau koran Republika edisi hari ini (31 Januari 2012), halaman 7.
      smoga bermanfaat ^_^.d

    2. Terima kasih, Tuan Bustomi. Saya pernah memuat artikelnya di sini.

  15. sumbermu semua dari aqidah syiah

    1. Nah, gitu dong, gentle jadi orang. Tidak perlu gonta-ganti nama. Ujung-ujungnya mulutnya berbisa (baca: kotor) kan? Mari kita sama-sama belajar (masa Fathul Bari “sumbermu semua aqidah syiah”), kalau sudah baca dan paham kembali lagi. Terima kasih.

  16. maaf telat komen karena baru baca artikel ini.
    apakah kewajiban pernaikahan syyid dan syarifah ini sesuai islam?bukankah islam tidak mengenal pembedaan keturunan atau nasab?salah satu hal yang membuat saya mencintai mazhab jakfari dibanding syafii ini adalah keadilannya terutama dalam soal pernikahan sayyid dan syarifah,yang mensahkan non sayyid atau non syarifah boleh menikahi sayyid dan syarifah
    maaf kalo berkata kasar,tapi BULLSHIT dengan pembedaan tersebut karena melanggar hak hakiki manusia dan keadilan Allah,bukankah dalam khutbah wada Rasulullah SAW bersabda “…tidak ada perbedaan antara arab dan ajam”. ?bila mengkhawatirkan turunnya kualitas keturunan rasul,apakah orang2 dungu itu tidak memperhatikan bahwa Allahlah yang mensucikan ahlul bait dan keturunannya sebersih-bersihnya?apakah yakin semua yang mengaku keturunan itu adalah benar2 keturunan?karena saya tahu tukang mabuk yang mengaku keturunan Rasul SAW dan sering besar mulut kalo bicara agama.
    bila orang orang dungu yang masih menganut faham bullshit diskriminatif itu warga indonesia,pergilah kalian dari tanah nusantara ini!kembali sana ke timur tengah,jangan merasa diri lebih tinggi dari kami orang pribumi,karena dimata Allah hanya orang bertakwalah yang paling tinggi kedudukannya.rasa sok berderajat tinggi kalian hanya akan membangkitkan kemarahan kesukuan dari suku pribumi lain,atau bahkan bersinggungan dengan pihak yang masih meninggikan keningratan kraton.
    jangan sampai sikap sempit itu suatu saat memancing permusuhan dari pribumi.
    bagaimana bisa islam diterima oleh non muslim atau orang barat pada era globalisasi ini bila masih ada faham sempit dan dungu seperti sayyid syarifah ini?kalau mereka tahu masalah ini,apakah mereka akan mau mengakui ketinggian turunan arab atas mereka cuma karena garis keturunan rasul?untunglah mayoritas penyebar islam di amerika adalh orang kulit hitam dan pakistan,bukan sayyid.

    1. Saya sangat setuju dengan anda

    2. setuju sekaliiiiiiiiiiii

    3. apa ga tau klo semua penyebar islam di indonesia adalah sayyid?
      apa ga tau klo banyak sekali pejuang kemerdekaan kita adalah sayyid?
      kalau anda bukan seorang keturunan arab seharusnya anda tidak perlu mencampuri dan mengkomentari urusan ini, karena ini adalah internal matter di antara keturunan ahlil bait. sementara anda adalah orang di luar rumah (bait)

      rada kontradiktif ga sih apabila di satu sisi anda mencintai mazhab ja’fari tapi di komentar anda berkali2 menyebut sayyid, dan anda mengakui bahwa Allah mensucikan sampai keturunannnya, tapi anehnya anda meragukan apakah mereka itu benar2 sayyid :))

    4. kalau Rasulullah mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara ajam dan arab, ini dalam konteks apa? apakah konteks pernikahan? atau konteks ‘tidak ada yang lebih mulia kecuali orang bertaqwa’ ?

      coba klo emang ga ada perbedaan, lalu kenapa seperti kata anda, Allah justru mensucikan mereka dan keturunannya?

    5. @Syafiq: kalau antum penganut Syiah Imamiyyah, pastinya antum tahu pandangan ahlulbait dalam mazhab ini tidak lagi sama dengan yang ada di sunni, dan jgn lg anda bawa-bawa “budaya” tersebut ke dalam mazhab syiah, tidak berlaku!. Dua pemimpin tertinggi Iran (almarhum sayyid khumaini & sayyid ali khamenei) putri mereka ada yg menikah dg non-sayyid, dan para marja’ syiah tidak ada yang memfatwa larangan pernikahan antara syarifah dan non-sayyid, namun sekali lagi mau menikah dg siapapun juga bukan paksaan, semarga juga hak2 anda, saya hanya membela mazhab Syiah 12 Imam secara doktrin yg tidak membedakan kalangan sadah dan non-sadah perihal pernikahan ini. Kefatalan sunni dalam klaim ahlulait adalah menganggap SELURUH dzuriyah Rasulullah sbg ahlulbayt, sedangkan dalam Syiah antum tahu sendiri.. hanya sebatas 14 manusia suci pilihan (12 Imam, siti fatimah, dan Rasulullah SAW), sisanya tergantung dari usaha ketaqwaan masing-masing seperti para habib kita.

  17. Banu Syarif Hidayatullah Avatar
    Banu Syarif Hidayatullah

    masalah seseorang mencari pasangan yang sepadan merupakan bagian dari naluri. di masayarkat ada kecendurangan yang memliki cacat fisik justru menikah dengan orang yang keadaannya sepadan dengannya, contoh diantara tunanetra justru lebih banyak yang menikah dengan tunanetra lagi dibandiing dengan yang tidak tunanetra.

    Rasulullah SAW pernah menolak keinginan Imam Ali untuk menikahi salah seorang putri Abu Jahal. Rasulullah bersabda bahwa dia tidak ingin putri seorang nabi dibawah satu atap dengan musuh Allah.

    Dengan demikian hukum dasar menolak untuk lamaran sesorang dengan alasan atau tanpa alasan adalah BOLEH, dengan demikian menolak dengan alasan tidak sepadan juga DIBOLEHKAN (boleh artinya BUKAN WAJIB, BUKAN PULA HARAM). Ketika seroang anak Abu Jahal atau anak Abu Lahab melamar anak anda. Anda boleh menolaknya dengan alasan tidak sepadan

    Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika masalah kepadanan NASAB berlanjut melewati batas yang justru berkembang ke masalah rasialisme, khususnya di Indonesia. Ada beberapa Arab Bahlul merasa lebih tinggi, lebih mulia dengan orang non arab. Bahkan diantaranya yang jelas bukan syarif atau sayyid, mengaku sebagai sayyid atau syarif. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan rasial Zaman kolonial Regerings Reglement tahun 1854 yang membagi penduduk hindia belanda menjadi 3 golongan yaitu: Europeanen,
    Vreemde oosterlingen (timur jauh termasuk arab,india,tionghoa,dll kecuali jepang), Inlanders.

    Arab-arab yang datang pada abad 19 terkena aturan tersebut, Belanda menempatkannya di gheto-gheto Kampung Arab. Kebijakan tersebut membuat asilmilasi menjadi sulit. Hal ini tidak menghalangi para Alawiyin tersebut untuk berdakwah. Mereka banyak berjasa untuk memndidik masyarakat dan mendirikan banyak pusat pendidikan di perkotaan. Namun ada juga beberapa Arab Bahlul, yang mungkin sebenarnya keturunan Abu Jahal, justru menikmati perbedaan kasta tersebut dan membuat jarak dengan pribumi dan bagi mereka sebahlul apapun mereka, mereka menganggap mereka lebih mulia dari pribumi se sholeh apapun. Bahkan terhadap Syarif dan Sayyid pribumi yang kadar kesyarifannya dan kesayyidannya lebih murni dibanding para Arab Bahlul tersebut. Yaitu misalnya terhadap keturunan Syarif dan Sayyid para penyebar Islam di masa awal yang telah sempurna berasimilasi, sehingga secara fisik mereka sudah tidak seperti Arab, seperti keturunan Syarif Hidayatullah (yang mendirikan kesultanan Banten dan Cirebon) dan Sayyid Maulana Malik Ibrahim, dimana para keturunannya telah menjadi pribumi dan juga telah mempribumikan gelar syarifnya menjadi Tubagus atau Raden. Namun arab Abhlul yang telah gila horamat karena ulah Belanda tak mau mengakui ini. Pada saat ini Arab Bahlul seperti itu masih ada walaupun tinggal sedikit jumlahnya.

    1. Antum betul, namun kesepadanan tidak melulu di dikte dari latar etnik, itu semua dikembalikan pada relasi personal yang antum tidak memiliki kuasa atasnya. Seperti misa, Interracial marriages eksis adanya, di keluarga besar saya sendiri (dari pihak ibu & pihak ayah) ada 2 paman dan 1 bibi yang menikah dg WNA (asal Filipina, Brazil, dan Jepang) dan kesemua itu dipengaruhi oleh faktor kelas ekonomi, mereka dari kalangan ‘berada’ dimana secara pemikiran dan pengalaman lebih ‘globalized’ sehingga tidak susah menjalin hubungan dg pasangan beda negara disini yg secara ‘kelas’ sama dg mereka tentunya.

  18. syukron yaa habib atas pnjelasannya…bner2 mencerahkan
    :)

  19. kita solawat slalu kpada nbi dan keluarganya kita solat slu slwat pda nbi dan kluarganya’tp knapa kok memutuskan nasab nabi dianggap hal yang biasa dan hadis juga perbuatan rosul tentang kafaah dianggap doif,kenapa kita sbgai ummatnya berani benar menghukumi mereka dengan resiko yg tingg tidak ingatkah kita akan hadis2 nbi yang mngatakan;maka celakalah dari ummatku yg mndustakan keutamaan mreka[ketrunanku]dan memutuskan hbunganku dengan mreka allah tdak akan mnrunkan sfaatku kpada orang2sperti itu[hr.thabrany,arryfai,aimmah madzahib] istaddza ghadaballahu ala man adzani fiitraty[amat keras murka allah kpada orang2yang menyakitiku akan hal ktrunanku abu sai al hudry]yaayuhannas inna fadla walmanjilah walwilaya firosulillah wadzurriyatihi fala tahbanal abatil[wahai skalian manusia sesunguhnya keutamaan kedudukan dan kepemimpinan ada pada dri rsulullah dan ktrunanya janganlah engkau terseret kkebatilan dan banyak lagi lainaya jadi lebih baik kita sbgai ummatnya bersikap hussnudzon aja ya takut salah karna ini urusan khormatan rsul saw kita bukan indifidu para alawiyin wasaroif qolannaby hubbu ahlal baiti solihunallah watholihuna li hormati keluargaku yang soleh karna allah yang tidak soleh karna aqu jadi diharap berhati2ya ihkwan!!

  20. sdra farid anda sangat benar dmta allah mulya adalah yang paling bertaqwa tp anda akan lbih bnar lagi jka kata2BULLSHIT anda hilangkan dan lbih menghormati ktrunan nbi dngan ddsari ilmu dan krna keistimewaan nabi muhammad saw bukan karna syid tu sndri krna bgaimnapun tu bukan bullshit coba anda renungkan hadis2tentang ktrunan beliaujadi jngan menghkumi mrka dngan ddsari hkum2yg umum aja jgn samakan nasab kita ama rosul ini bkan swtu ksombongan atw bangga2an igat dawuh nabi hubbu ahlah baiti solihunallah watholihuna li cintai kluargaku yg sholeh krna allah yg tidak sholeh karna aq istaddza godobullahu ala man adani fiitroty sanga keras murka allah kpd orang2yang mnyakitiku akan hal ktrunanku. jadi hati2.anda harus bisa mmbdakan mna yg khususiah mna yang ammiah krna mnghormat mrka mamfaatnya lbih banyak kkitanya,krna bganapun islamnya kita dari datuk mrka annaby saw.hrmati mrka dngan ahlaq yg diajari rosul didik mrka yang jahil,nsehati mrka yang kluar dari amar ma’ruf nahi munkar dngan cara yg baik!msalah klakuan mrka ada pertanggungan sndri dmta allah dan rosulnya kita hanya beramar makruf nhi munkar ingat ini nabi kita yang mmberi kita safaat kelak jadi jngan ambil resiko tinggi lbih baik kita lbih mmperdalam ilmu agar snantiasa kita lbh brhati2khususnya mslah ahlal bait wadzurriatihi maaf sblumnya ikhwan!

  21. jangan diributkan., untuk masalah kasta itu tidak ada., semua manusia itu sama, bukan aq merendhkan para sayyed/syarfah. tp sebagai ahlulbet kita harus memberi motivasi pada ahkwal2 agar tidak berkecil hati, semoga bermanfaat.

  22. Saya sebagai orang jawa,maaf,sering kita memandang keturunan arab atau cina dengan hanya sebelah mata,maaf kalau ada orang arab yang sebaliknya,mungkin hanya perasaan mereka,kecuali keturunan Rasulullah,kita harus mengakui akan keutamaannya yang lebih,begitu juga terhadap kyai,ulama dan hamba sholeh lainnya,Allah pasti juga memberikan kemuliaan atas anak turunnya,,menurut orang Jawa,mungkin inilah karma.akan sampai keanakturunannya.wallahu a’lam

  23. Untuk yg pernyataan sy pertama,sy sungguh meminta maaf yg sebesar2nya,karena itulah kenyataan yg ada.dan sekali lagi sy ingin mengatakan,andaikan anak keturunan kita ingin dimuliakan Allah,walaupun hal yg tidak mungkin seperti kemuliaan Keturunan Rasulullah SAW,adalah sedini mungkin kita belajar agar menjadi hamba yg bertaqwa.wa

  24. Eeeeeeeala…. ternyata dalam Islam itu ada kasta to…? kayak di Hindu ada brahmana, ksatria, waisa dan sudra. seeorang nikah hrs sesama kastanya.
    syarifah hrs dengan sayyid, jika ada syarifah nikah dengan orang biasa maka akan diputus tali persaudaraanya dan dikucilkan keluarga besarnya.

  25. benerrrr kasin untuk para ahwal yang lain…kalupun itu sudah menjadi perinsip yang kuat mengapa syarifah-syarifah yang taun 70an bnyak yang mnikah dengan ahwal????mengapa tidak di sebar luaskan yang akhirnya berdampak pada keturunan hasil pernikahan ahwal vs syarifah….hingga saat ini…

Tinggalkan Balasan ke Syarif Muhammad Syam Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Hi 👋🏻

Baca cerita dan pengalaman yang lain di sini.

Be Part of the Movement

Saya berbagi pengalaman dan pandangan—straight to your inbox.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨