- Powered by
- WordPress
-
Refleksi Kebijakan Iran terhadap Palestina
Seorang teman mengirimkan berita berjudul “Iran kutuk serangan Israel terhadap jalur Gaza” sambil berkata, “Apa gunanya mengutuk?” Sebuah kutukan sebagaimana demonstrasi adalah ekspresi penolakan terhadap kebatilan—yang direpresentasikan oleh Israel—dan dukungan terhadap rakyat Palestina. Empati memberikan kekuatan kepada mereka yang mengalami kesulitan, karena menumbuhkan keyakinan bahwa bahwa mereka tidak sendirian. Kutukan dan demonstrasi juga menjadi media untuk melunakkan…
-
Membawa Manfaat Pertemanan ke Akhirat
“Hai, teman. Apa kabarmu hari ini? Bagaimana, semua kegiatan hari ini? Lancar, kan?” Kita sering kali bertemu, berbicara, menghabiskan waktu bahkan biaya bersama dan untuk teman-teman, laki-laki atau perempuan, apapun latar belakang pendidikan bahkan apapun agama yang dianutnya. Tapi di sisi lain, kita tahu bahwa dunia tempat kita berinteraksi dengan teman-teman bukan dunia yang kekal.
-
Tidak Seperti Orang Iran Melihat Pemimpinnya
Ketika mendengar akan ada pertemuan umum (didâr-e umĂ»mĂ®) dengan rahbar di kompleks haram, segera saya menyambutnya dengan mendaftarkan diri sebagai peserta. Tanggal 14 Khordad merupakan hari libur nasional di negeri Iran untuk memperingati wafatnya Imam Khomeini. Pagi-pagi sekali pada hari Selasa, 4 Juni 2013, saya mendatangi musala untuk salat dan sarapan lalu kemudian meninggalkan asrama di Qazvin menuju kompleks Haram…
-
Bahkan Imam Khomeini Menghemat Tisu
Selain para wanita dan pria klimis, siapa lagi orang yang paling boros dalam menggunakan tisu? Saya menyimpulkan bahwa mereka adalah para sopir angkutan umum. Dalam beberapa waktu belakangan, kita bisa melihat banyaknya penjual tisu murah di pinggir-pinggir jalan, terminal, dan pemberhentian lampu merah. Dengan selembar uang minimal Rp 3.000, kita sudah bisa mendapatkan lima puluh lembar tisu yang…
-
Pengakuan Yasir Qadhi tentang Syiah
Abu Ammaar Yasir Qadhi dilahirkan di Houston, Texas, dari sebuah keluarga imigran Pakistan. Ketika berusia lima tahun, keluarga membawanya pindah ke Jeddah, Arab Saudi. Di sana, ia mempelajari hadis sampai kemudian meraih gelar magister bidang teologi dari Islamic University of Medina. Pada tahun 2005, ia kembali ke Amerika Serikat dan menjadi salah seorang penceramah paling populer sekaligus pendiri AlMaghrib Institute yang mengajarkan teologi salafi.