Sekali lagi, kita baru benar-benar bisa memahami seseorang setelah orang itu tiada. Pasca Ayatullah Ali Khamenei meraih kesyahidan, hal menarik terjadi. Orang-orang yang sebelumnya hanya tahu namanya dari potongan berita, mulai mencari tahu lebih banyak. Tulisannya dicari, ceramahnya dibagikan, potongan videonya disebarkan.
Sebagian orang yang sebelumnya hanya mendengar tuduhan politik, fitnah terhadap keyakinan Islam Syiahnya, mulai menemukan sisi lain dari pribadinya: dia bukan ulama biasa, melainkan juga seseorang yang menghabiskan hidupnya dalam perjuangan ideologis. Ideologi yang berfondasikan madrasah ahlulbait.
Hassan Khojasteh, profesor Iran sekaligus iparnya, mengatakan bahwa cara hidup Khamenei tidak pernah berubah. Sejak remaja sampai memimpin Iran, dia tetaplah santri sederhana. Menurutnya, “Jika kini ia memperoleh kesyahidan yang sedemikian mulia dan bersejarah, hal itu tidaklah mengherankan—sebab dia telah menjalani hidupnya seperti seorang syahid.”
Dari situs resminya, berikut penjelasan Ayatullah Khamenei tentang hakikat kesyahidan. Sebuah keyakinan yang beliau jalani semasa hidupnya, sampai kemudian beliau meraihnya.
✊🏼 Syahid Tidak Pernah Mati
Ketika pesawat yang membawa Presiden Iran, Ebrahim Raisi, dan sejumlah pejabat jatuh di pegunungan, dunia terkejut. Namun masyarakat Iran terdiam. Mereka perlu mencerna peristiwa yang terjadi. Sebagian memandangnya sebagai tragedi nasional.
Namun sebagai Rahbar, Syahid Khamenei mengajak masyarakat melihat peristiwa itu dari sudut pandang Al-Qur’an. Dia membacakan surah Al-Baqarah ayat 154 yang sering dibaca, tapi jarang direnungkan sepenuhnya:
وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
Janganlah kalian mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah telah mati. Namun sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.
🚀 Tidak Selalu Perang
Banyak orang membatasi makna syahid hanya pada orang yang gugur dalam pertempuran. Namun surah Al-Baqarah ayat 154 di atas tidak secara khusus menyebut perang. Allah menyebutnya fī sabīlillāh—di jalan Allah.
Menurut Ayatullah Khamenei, ayat di atas tidak membatasi makna tersebut hanya pada peperangan. Oleh karena itu, jalan Allah mencakup banyak hal: melayani masyarakat, bekerja untuk kesejahteraan rakyat, dan mengelola serta membangun negara Islam.
“Presiden dan pendampingnya wafat dalam memajukan negara… karena itu mereka termasuk dalam cakupan ayat ini. Maka janganlah kalian menganggap mereka mati,” kata Syahid Khamenei.
💼 Transaksi Agung dengan Tuhan
Al-Qur’an menggambarkan kesyahidan dengan sebuah perumpamaan: transaksi. Dalam surah At-Taubah ayat 111, Allah yang mulai “membeli” jiwa dan harta orang beriman dengan balasan surga. Dalam jual-beli itu, seorang mukmin menyerahkan sesuatu yang paling berharga yaitu jiwanya sendiri. Sebagai balasan, Allah menjanjikan sesuatu yang tidak dapat dihitung dengan ukuran dunia: keridaan Ilahi dan surga.
Konsep ini tidak hanya ada dalam Islam. Ayat tersebut menyebut bahwa prinsip pengorbanan di jalan Tuhan juga tercantum dalam Taurat dan Injil. Artinya, nilai pengorbanan demi kebenaran adalah tradisi seluruh agama samawi.
😢 Syuhada Selalu Hidup
Bukan hanya tidak mati, dalam surah Āli ‘Imrān ayat 169 dikatakan bahwa orang yang gugur di jalan Allah itu hidup di sisi Tuhan mereka. Bahkan bukan hanya hidup, tapi selalu dikenang dan bertahan dalam sejarah. Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa Al-Qur’an memberikan analogi yang indah dalam surah Ar-Ra’d ayat 17:
فَاَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاۤءًۚ وَاَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضِۗ
Buih akan hilang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di bumi.
Pengorbanan di jalan Tuhan memiliki jejak yang tidak mudah dihapus. Namun semua itu memerlukan masyarakat yang tetap menjaga ingatan itu. “Syuhada itu secara alami memiliki keabadian. Dalam diri mereka ada potensi untuk tetap hidup dalam sejarah. Namun kita yang hidup memiliki tanggung jawab untuk memaknainya dalam menjalankan kehidupan dengan benar,” katanya.
💌 Pesan bagi yang Masih Hidup
Tidak hanya hidup, Al-Qur’an menggambarkan bahwa para syahid itu memberi kabar kepada kita yang masih hidup. Dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 170 dikatakan bahwa mereka bergembira dan menyampaikan pesan: tidak ada rasa takut dan tidak ada kesedihan bagi orang yang menempuh jalan Allah.
Menurut Syahid Khamenei, “Kesyahidan adalah puncak dan puncak tidak memiliki makna tanpa adanya lereng.” Jalan mencapai puncak kebenaran mungkin penuh kesulitan. Ada pengorbanan, rasa sakit, dan kehilangan. Tetapi pada akhirnya, jalan itu berakhir pada kedamaian dan kebahagiaan.
Para syahid, termasuk Sayid Khamenei, seolah berkata kepada kita: perjalanan ini berat, tetapi tujuannya indah. Mungkin itulah makna terdalam dari kesyahidan: kematian yang tampak menakutkan bagi mata manusia awam seperti kita sebenarnya adalah pintu menuju kehidupan yang lebih tinggi.
Tinggalkan komentar