Tulisan “Death to Herzog” menyambut kedatangan presiden Israel. Dia tidak datang ke negara yang punya reputasi kebencian pada Zionis. Kalimat itu muncul justru di sudut dinding Universitas Melbourne. Angin musim panas negara itu tidak menghalangi ribuan warga untuk mengecam pemimpin negara yang melakukan kejahatan perang.
Sebagian besar demonstran warga Australia itu tentulah bukan muslim. Namun mereka menyaksikan dan meyakini sesuatu yang lebih besar dari identitas agama: suara hati yang menolak ketidakadilan. Dunia sadar dan sedang menyaksikan bagaimana hati nurani manusia berdetak dalam irama kemarahan yang sama.
Saya merinding bukan karena melihat kemajuan teknologi, tapi karena menyaksikan keberanian manusia untuk berdiri dan melawan pada entitas yang kehilangan sisi kemanusiannya.
Sebenarnya, sikap tegas terhadap Israel berangkat dari keyakinan bahwa penjajahan dan kejahatan perang tidak boleh dinormalisasi. Berbagai laporan lembaga internasional menyebut adanya praktik apartheid dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina.
Saya teringat wasiat Imam Khomeini tertanggal 5 Juni 1989 yang menjelaskan siapa musuh kemanusiaan. Beliau tegas menyebut bahwa kaum muslim dan kaum tertindas patut berbangga ketika musuh-musuh kita—yang juga musuh Allah dan nilai luhur kemanusiaan—adalah mereka yang bertindak bak “hewan-hewan serakah”.
Sejarah mencatat bagaimana Amerika Serikat dan Israel bergerak tanpa kompas moral, tak mengenal kawan sejati selain kepentingan dominasi yang menghalalkan segala cara. “Mereka,” kata Imam Khomeini, “melakukan kejahatan yang pena pun merasa malu untuk menuliskannya dan lidah pun merasa kelu untuk mengucapkannya.”
Dalam The Hundred Years’ War on Palestine, Rashid Khalidi membedah pola kolonialisme pemukim (settler colonialism) ini sebagai bentuk kejahatan terstruktur yang tidak pernah kenyang akan tanah dan darah.
Kita juga akan semakin bangga karena kita tidak berada di barisan para pengkhianat. Sejarah menjadi saksi bisu bagaimana figur seperti Hussein dari Yordania, Hassan dari Maroko, hingga Hosni Mubarak di Mesir, pernah memilih untuk menjadi pion yang melayani kepentingan Barat demi melanggengkan kekuasaan, sembari memunggungi penderitaan rakyat mereka sendiri.
Al-Qur’an mengingatkan kita, “Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” Peringatan ini kini justru diamalkan oleh warga dunia yang bahkan tidak membaca Al-Qur’an.
Di negara Barat, warga Kristiani, Yahudi anti-Zionis, dan kaum sekuler berteriak paling lantang termasuk untuk melakukan boikot. Sebuah studi sosial menunjukkan bagaimana aksi kolektif global ini ternyata efektif menekan korporasi multinasional. Mereka menolak negara mereka diinjak oleh kaki yang mendukung genosida. Mereka tidak ingin terafiliasi dengan perusahaan yang bahkan sekadar bekerja sama dengan penjajah.
Di tengah kesadaran global ini, sebuah ironi yang membuat geram justru terdengar dari Indonesia. Tidak cukup dengan two-state solution yang menjadi opsi mayoritas banyak negara, Prabowo Subianto bahkan menggarisbawahi pentingnya untuk “menghormati dan menjamin keselamatan serta keamanan Israel”.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menyatakan Netanyahu sebagai penjahat perang atas dugaan genosida. Tapi pemimpin negara muslim terbesar, yang konstitusinya menolak penjajahan, justru menggunakan logika “menjaga keamanan” untuk penjahat yang dikecam oleh masyarakat dunia.
Pernyataan tersebut memvalidasi kembali kebenaran kata-kata Imam Khomeini. Garis demarkasi antara penindas dan kaum tertindas semakin jelas. Pemimpin yang bermain dua kaki dan “bermain aman” dengan Israel menunjukkan bahwa sikap tegas merupakan barang mewah.
Tidak ada sikap yang lebih mulia saat ini selain memperkuat barisan boikot. Memutus aliran dana pada produk yang terafiliasi dengan zionisme bukan sekadar motif kebencian atau alasan ekonomi, tapi manifestasi kemanusiaan. Kita harus bangga menjadi musuh dari kejahatan dan menjaganya hingga keadilan menemukan jalannya kembali ke Palestina.
Tulisan ini merupakan extended version artikel Kejahatan Kami: Setia Membela Palestina.
Tinggalkan komentar