Bayangkan seorang pria yang memimpin negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa. Jutaan pengikutnya juga tersebar di berbagai negara. Namun di dalam rumah, pria tersebut tunduk penuh cinta kepada seorang wanita. Wanita itu bernama Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, istri dari Ayatullah Ali Khamenei.
Jiwa revolusioner Ayatullah Khamenei berpadu ketika menghadapi ketenangan dan kasih sayang Mansoureh. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa menyelenggarakan Great Global Gathering of Women pada tahun 1995, Mansoureh turut berbagi nasihat tersebut: perempuan harus hidup layak sesuai kedudukan luhurnya.
Meski terkesan normatif, tapi gagasan mendasar tersebut kerap dilupakan. Ketika Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah menciptakan pasangan agar kita cenderung merasa tenteram dan disempurnakan dengan mawaddah wa rahmah, konsepnya bukan milik salah satu pihak. Kata mawaddah berarti cinta yang aktif, sementara rahmah adalah kasih yang melindungi.
Dalam wawancara dengan majalah Mahjubah, Mansoureh mengatakan jika ancaman terbesar pernikahan sering kali bukan persoalan besar. Namun hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh: terlalu banyak menuntut, gemar mencari kesalahan, membanggakan status keluarga, atau memaksakan selera pribadi.
Hasil penelitian psikologi modern sejalan dengan hal itu. Kritik berlebihan dan sikap merendahkan adalah penyebab utama awal keretakan rumah tangga. Kata Mansoureh, “Kebahagiaan suami-istri akan bertahan jika pasangan sadar akan ancaman bagi pernikahan mereka.”
Bagi Mansoureh, wanita dapat membantu suami sesuai dengan kapasitasnya. Namun hal itu bergantung pada seberapa banyak pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Jika wanita dapat membuat suami memiliki ketenangan pikiran di rumah, pria akan dengan mudah menjalankan aktivitas mereka.
Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh wanita juga akan memengaruhi cara pengasuhan kepada anak. “Hubungan antara ibu dan anak memang didasari pada kasih sayang, tapi kasih sayang ibu bisa berbeda karena pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya,” kata Mansoureh.
Ketika ditanya tentang bagaimana perilaku Ayatullah Khamenei kepadanya, Mansoureh menjawab, “Perilakunya dijiwai dengan saling mengasihi dan menghormati.”
Mansoureh mengatakan bahwa dia dan suaminya hidup dengan sederhana. “Ekonomi rumah kami didasarkan pada kepuasan (kanaah),” katanya. Dalam bahasa Arab, qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi merasa cukup atas rezeki yang halal.
Suaminya juga kerap menasihati agar anggota keluarga menjaga etika beragama, berhemat bahkan dalam penggunaan air dan listrik. Karena beberapa barang di rumah milik baitulmal, Ayatullah Khamenei juga kerap mengingatkan agar jangan menyalahgunakan dana baitulmal.
Menurut Jurnal Positive Psychology menunjukkan rasa syukur dan merasa cukup hidup bersama pasangan memiliki korelasi yang kuat dengan keharmonisan hubungan keluarga. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Persia: qanaat ganj-e bi payan ast—kanaah adalah harta tak berujung.
Meski demikian, Mansoureh tidak menganggap perempuan hanya punya peran di ruang domestik. Seorang wanita tetap punya tanggung jawab sosial, budaya, bahkan politik. Dia mencontohkan bagaimana sejarah Islam mencatat figur seperti Sayidah Fatimah, bukan hanya dari sisi spiritual tapi juga sosial.
Syahid Morteza Motahhari, cendekiawan dan filosof Iran modern, menulis dalam buku Hak-Hak Wanita dalam Islam, jika peran perempuan harus dilihat sebagai fondasi moral masyarakat, bukan sekadar pelengkap.
Ketika dunia masih memperdebatkan peran dan eksistensi wanita, ribuan tahun lalu Al-Qur’an sudah mengatakan bahwa wanita dan pria saling menyempurnakan: mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (Q.S. Al-Baqarah: 187). Pakaian melindungi, menutup kekurangan, sekaligus memperindah.
Ketika Mansoureh ditanya tentang nasihat penting Ayatullah Khamenei kepada anak-anaknya, dia menjawab, “Membangun mental yang kuat, moral, dan fisik. Manfaatkanlah waktu untuk memperoleh pengetahuan.”
Tinggalkan komentar