Malam hari di awal bulan Juli 2010, suara alat medis menemani pria tua di rumah sakit Beirut. Di atas ranjang, terbaring ulama berusia 74 tahun yang tubuhnya melemah, tetapi pikirannya tetap hidup untuk umat. Perawat memintanya beristirahat. Namun sebelum tidur, ada satu hal yang selalu dia tanyakan, “Apakah waktu salat Subuh sudah tiba?”
Ulama itu adalah Muhammad Ḥussein Fadlullāh. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia masih memikirkan Palestina, masih berbicara tentang perlawanan terhadap penjajahan, dan masih menyimpan harapan tentang persatuan umat Islam.
Bahkan menurut kesaksian keponakannya, Musa Fadlullāh, Sayid Ḥussein berkata bahwa dirinya tidak akan benar-benar tenang sebelum Israel lenyap dari tanah Palestina. Bukan karena kebencian semata, tapi akibat perjalanan panjang menyaksikan luka perang, pengungsian, dan penderitaan rakyat sipil selama puluhan tahun.
Ulama perlawanan
Nama Muhammad Ḥussein Fadlallāh dikenal di Timur Tengah bukan hanya sebagai ahli fikih, tetapi juga pemikir Islam yang berani menyuarakan keadilan sosial. Ia tumbuh di tengah pergolakan Lebanon dan konflik Palestina yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sepanjang hidupnya, ia menyerukan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dan menolak normalisasi hubungan dengan Israel. Dalam banyak ceramahnya, Fadlallah juga mendorong boikot produk yang dianggap mendukung pendudukan Palestina. Sikapnya membuatnya dicintai banyak kelompok perlawanan, tetapi sekaligus dikritik oleh lawan politiknya.
Meski dikenal tegas terhadap penjajahan, Fadlallah juga berulang kali menyerukan persatuan sunnī dan Syiah. Baginya, konflik internal umat Islam hanya akan memperlemah dunia Islam di hadapan kekuatan asing.
Cinta anak yatim
Di balik pidato politiknya, ada sisi lain Fadlallah yang sering luput dibicarakan: kepeduliannya kepada anak yatim dan masyarakat miskin. Ia mendirikan banyak lembaga sosial, sekolah, dan pusat bantuan kemanusiaan di Lebanon.
Menurut Al Jazeera, jaringan sosial yang dibangun Fadlallah membantu ribuan keluarga korban perang dan anak-anak yang kehilangan orang tua akibat konflik.
Bagi Fadlallah, agama tidak cukup hanya dibicarakan di mimbar. Agama harus hadir di meja makan orang miskin, di rumah anak yatim, dan di tengah masyarakat yang kehilangan harapan. Pandangan itu sejalan dengan hadis nabi yang diterima luas oleh sunnī maupun Syiah:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” kemudian beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya.
Kata keponakannya, “Sayid Muhammad Husain Fadhlullāh memiliki keinginan untuk merawat anak yatim tidak hanya di Lebanon tapi seluruh negara Arab dan Islam.”
Malam terakhir
Menjelang wafatnya pada tahun 2010, Fadlallah masih sempat menulis dan menyelesaikan naskah bukunya. Keponakannya, Sayid Musa Fadlallah, mengenang bagaimana pamannya tampak tenang pada malam terakhirnya. Al-Qur’an tetap berada di dekatnya. Pikirannya masih dipenuhi persoalan umat.
Momen itu memperlihatkan sesuatu yang jarang dimiliki banyak tokoh: konsistensi. Apa yang ia ucapkan di depan publik, itulah yang ia pegang hingga akhir hayat.
Dalam dunia modern yang penuh kompromi politik, sosok seperti Fadlallah mengingatkan bahwa sebagian orang tetap memilih berjalan dengan keyakinannya sendiri, meski harus menghadapi tekanan, ancaman, bahkan fitnah.
Warisan pikiran
Hari ini, nama Fadlallah mungkin tidak lagi menghiasi berita utama dunia. Namun gagasannya terus hidup di banyak tempat: tentang perlawanan terhadap penindasan, tentang pentingnya persatuan Islam, dan tentang keberpihakan kepada kaum lemah.
Sejarah mungkin akan terus memperdebatkan pandangan politiknya. Tetapi satu hal sulit dibantah: ia wafat dengan membawa keresahan terhadap nasib manusia lain, bukan tentang dirinya sendiri.
Kita hidup di zaman ketika banyak orang sibuk membangun citra dirinya. Namun warisan paling langka dari Sayid Fadlallah justru terletak pada keberanian untuk tetap memikirkan penderitaan umat sampai napas terakhirnya.








Tinggalkan komentar