Malam semakin larut dan lampu husainiah mulai meredup. Namun aula di Islamic Cultural Center itu justru semakin penuh. Ada yang bertadarus, berdoa, berzikir, dan ada pula yang terlihat diam. Diam dalam tafakur. Seorang qari internasional menghiasi malam malam ke-23 ihyā Lailatulqadar itu dengan bacaan Al-Qur’an yang indah
Penceramah malam itu adalah Dr. Majed Moaref, peneliti Al-Qur’an dari Universitas Tehran. Penjelasannya menarik sekaligus menggugah cara kita memandang malam yang sering disebut lebih baik dari pada seribu bulan itu.
Menjelang akhir bulan Ramadan, kehidupan Nabi Muhammad ﷺ berubah. Dalam hadis dikatakan bahwa Rasulullah meningkatkan ibadahnya di malam-malam terakhir bulan Ramadan hingga turut mengajak keluarganya. Beliau bahkan memperingatkan umatnya, “Celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan di bulan Ramadan.”
Mengapa malam-malam ini sedemikian penting? Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa pada malam Lailatulqadar, dijelaskan setiap perkara yang penuh hikmah. Kita bisa lihat dalam surah Ad-Dukhān ayat 3-4:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ٣ فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍۙ ٤
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sungguh Kamilah pemberi peringatan (3) Pada malam itu dijelaskan segala amr yang penuh hikmah (4)
Dalam nas hadis dikatakan bahwa pada malam itu takdir manusia untuk satu tahun ke depan ditentukan. Surah Al-Qadr menggambarkan sesuatu yang lebih agung: pada malam itu para malaikat dan rūh turun dengan izin Allah untuk mengatur segala amr.
Ada yang berpendapat kalau Lailatulqadar hanya terjadi sekali, yakni pada masa nabi. Namun jika kita perhatikan detail bahasanya, kata kerja yang digunakan dalam surah Al-Qadr berbentuk fi‘l mudhari’ (present tense), yaitu kata kerja yang menunjukkan kejadian yang berlangsung terus-menerus. Artinya, turunnya malaikat bukan sekadar peristiwa masa lalu namun berulang setiap tahun.
Pertanyaan logis kemudian muncul: jika para malaikat turun membawa ketentuan ilahi, kepada siapa mereka turun? Al-Qur’an memberi petunjuk lain dalam surah An-Nahl ayat 2:
يُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ بِالرُّوْحِ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ
Allah menurunkan malaikat dengan rūh dari amr-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya…
Dalam tradisi tafsir muslim Syiah, “di antara hamba-hamba” pilihan Allah tersebut adalah ahlulbait—keluarga nabi yang disucikan. Dalam pandangan ini, mereka adalah penerus yang menjadi tempat turunnya penjelasan Ilahi berkenaan dengan amr atau perkara manusia.
Namun ada persoalan filosofis yang sering disalahpahami. Jika takdir manusia ditentukan pada malam Lailatulqadar untuk satu tahun ke depan, apakah manusia tidak memiliki kebebasan? Bukankah ini kepercayaan kaum Jabariah, sehingga tidak ada ruang bagi usaha?
Para ulama menjawab: justru sebaliknya. Doa, taubat, dan amal manusia adalah bagian dari mekanisme takdir itu sendiri. Dalam teologi Islam dikenal konsep bada’ atau perubahan ketentuan atau takdir melalui rahmat Allah. Sehingga sebenarnya manusia juga berperan terhadap apa yang terjadi pada dirinya.
Sebuah doa dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Beberapa penelitian dalam psikologi religius, seperti Journal of Religion and Health, dikatakan bahwa praktik doa dan refleksi spiritual memiliki efek nyata terhadap kesehatan mental dan pengambilan keputusan manusia.
Dr. Moaref kemudian menyampaikan perspektif menarik. Setiap peradaban memiliki penanda awal tahun. Di Iran, awal tahun ditandai datangnya musim semi dalam perayaan Nowruz. Di dunia Barat, kalender dimulai dari kelahiran Yesus. Dalam tradisi Arab modern, tahun Hijriah dimulai dari bulan Muharram.
Namun riwayat dari Imam Ja‘far Ash-Shadiq berikut memberikan sudut pandang berbeda. Dalam kitab Wasā’il 10/311, beliau berkata:
إذا سَلِمَ شَهْرُ رَمَضَانَ سَلِمَتِ السَّنَةُ وَرَأسُ السَّنَةِ شَهْرُ رَمَضَانَ
Jika bulan Ramadan dilalui dengan selamat/sejahtera, maka sepanjang tahun akan selamat/sejahtera. Induk sebuah tahun ialah bulan Ramadan.
Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Inilah momen “reset spiritual” bagi kita. Karenanya dalam surah Al-Qadr diakhiri dengan satu kata yang menenangkan: salam. Kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, hingga terbitnya fajar.
Mungkin itulah pesan dari malam itu. Ketika kita duduk dalam keheningan, beribadah, dan membaca Al-Qur’an di tengah malam, sebenarnya kita sedang berdiri di ambang sebuah tahun baru spiritual. Pada saat pagi menjelang, dunia tetap sama; aktivitas tetap dijalani seperti biasa. Tetapi hati kita mungkin sudah berbeda. Selamat tahun baru di Lailatulqadar.
Tinggalkan komentar