Setelah peristiwa tsunami di Aceh pada tahun 2004 lalu, kita mendengar cerita-cerita mengenai sebab terjadinya kemurkaan alam tersebut. Ada yang mengatakan bahwa di Aceh sudah banyak terjadi dosa dan maksiat di pinggir pantai. Bahkan ada yang mengatakan bahwa penyebabnya karena umat Islam di Aceh merayakan natal bersama.
Hal serupa terjadi setelah peristiwa jebolnya waduk (situ) Gintung. Beberapa teman saya mengatakan bahwa di daerah bencana memang sudah lama menjadi tempat maksiat. Mulai dari sarang judi hingga masjid/ mushalla yang katanya menjadi tempat pacaran. Saya sendiri tidak tahu persis mengenai hal tersebut. Karena yang ingin saya berbagi cerita adalah hubungan antara dosa dan bencana.
Sebenarnya, di dalam Alquran Suci sendiri sudah banyak contoh dari kejadian seperti itu. Pengingkaran terhadap risalah Allah berakibat dari kehancuran umat. Sebut saja kisah Nabi Luth as. Umat yang perilakunya sudah sangat menyimpang mengakibatkan “murka alam” yang mahadahsyat. Jadi hal tersebut tidak hanya karena faktor alam semata—selain tentunya kelalaian pemerintah.
Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu (QS. Al-A’râf : 84)
Lalu bagaimana dengan nasib orang-orang yang tidak melakukan dosa? Sama, mereka juga terkena dampaknya. Dosa atau maksiat yang dilakukan oleh segelintir orang mampu berakibat buruk bagi orang disekitarnya. Ini merupakan dampak dari berbuat dosa kepada Tuhan. Artinya, bencana yang terjadi bukanlah karena “marah”nya Tuhan. Kalau orang yang berdosa itu tidak peduli dengan diri mereka sendiri, paling tidak mereka harus peduli dengan masyarakat sekitar.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu (QS. Al-Anfâl : 25)
Pertanyaan berikutnya dari Alquran, Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan, jika kamu mengetahui? (QS. Al-An’âm : 81). Kalau kita tahu bahwa dosa dapat menyebabkan bencana, maka keamanan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan keamanan fisik semata. Tetapi keamanan jiwa yang terbebas dari kegelisahan atau kekhawatiran terhadap kematian. Kita dan orang-orang di sekitar Situ Gintung tidak pernah tahu, apakah kita masih bisa bangun esok hari?
Orang-orang yang beriman tidak akan mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. Al-An’âm : 82).
Ilahi, jangan Kau campakkan aku dari perlindungan-Mu, jangan Kau singkirkan aku dari penjagaan-Mu. Lindungi kami dari sumber berbagai bencana, karena aku senantiasa berlindung dalam pengawasan-Mu (Munâjât Al-Mu’tashimîn Al-Imâm As-Sajjad). Wallahualam.
Artikel Terkait:
Tinggalkan komentar